Something Stupid Like I Love U

A. F Rianti
Chapter #4

Lencana Bintang

Riuh murid-murid SMA Tulus Harapan memecah keheningan di akhir upacara. Hari itu adalah penutupan masa orientasi siswa tahun ajaran baru.

Mereka tengah menanti pengumuman penerima Lencana Bintang Sekolah—sebuah penghargaan bergengsi bagi juara paralel di setiap akhir semester. Sebagian murid tampak sangat antusias, namun banyak pula yang merasa acara ini tidak penting dan hanya memperlama waktu mereka berdiri di bawah terik matahari lapangan.

Tentu saja, barisan murid yang antusias mulai heboh menerka-nerka siapa yang akan menjadi idola sekolah kali ini. Ayas menatap kerumunan itu dengan sinis. Ia tak habis pikir mengapa banyak siswi yang sampai seheboh itu, apalagi jika sudah menyangkut lawan jenis.

“Menjadi yang terpintar adalah salah satu cara termudah untuk populer. Benar, kan?” gumamnya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, dahi Ayas berkerut. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Melalui sudut matanya, ia menyadari seseorang di sampingnya sedang memperhatikannya dengan lekat.

Jangan-jangan cewek di sebelah gue tersinggung karena ucapan gue tadi, batin Ayas waswas.

Gadis itu justru tersenyum lebar. "Bener, ini cara tercepat buat terkenal," ulangnya, menyetujui ucapan Ayas.

Ayas tertegun, lalu melempar senyum canggung.

“Kenalin, aku Devita. Panggil saja Vita,” sapa gadis itu sembari mengulurkan tangan. Ayas menyambutnya dengan ragu namun hangat. “Mayas. Panggil saja Ayas.”

Vita memperhatikan wajah Ayas dengan seksama. “Kita sekelas, kan? Kok gue nggak pernah lihat lo sebelumnya? Padahal kita di kelas yang sama, lho,” tanyanya bingung.


Ayas hanya terdiam. Ia menatap Vita sejenak, menyadari gadis di depannya itu tampak sangat penasaran. Di sisi lain, ada rasa tak menyangka bahwa ternyata ada orang yang menyadari keberadaannya.

Ayas menghela napas berat, namun tetap memaksakan sebuah senyum tipis. “Iya, aku baru ikut orientasi kemarin,” jelasnya singkat, berusaha agar obrolan ini tidak berlanjut lebih jauh.

Batinnya berkecamuk. Ia menimbang-nimbang, apakah perlu menjelaskan alasannya pada Vita? Bukankah itu urusan pribadi? Namun, jika ia tetap diam, ia khawatir akan muncul kesalahpahaman, apalagi jika teman-teman yang lain mulai bergosip.

“Beberapa hari kemarin gue izin. Nyokap... meninggal.” Sebuah kalimat yang tak disangka-sangka meluncur begitu saja dari bibirnya.

Vita terpaku. Ia menatap raut wajah perempuan di hadapannya dengan lekat. Sebuah kehilangan besar, namun disampaikan dengan nada yang begitu datar. Vita tahu betul, dunia tidak akan pernah baik-baik saja setelah seorang ibu tiada. Setidaknya, itulah yang Vita pikirkan karena ia sangat dekat dengan mamanya. Ia bahkan tak sanggup membayangkan jika hal itu terjadi padanya suatu hari nanti.

Tanpa berkata-kata lagi, Vita langsung merengkuh tubuh Ayas ke dalam pelukannya. “I’m so sorry for your loss,” bisiknya tulus.

Vita mengusap-usap punggung Ayas, seolah sedang menenangkan anak kecil yang sedang menangis. Bagi Ayas, tindakan Vita mungkin terasa seperti formalitas penghiburan belaka. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia menikmati perasaan itu—perasaan seperti memiliki saudara tempatnya berbagi kesedihan.

Devita perlahan melepaskan pelukannya. Ayas tampak sedikit canggung, namun ia berusaha memberikan senyum terbaik untuk teman barunya itu.

It's okay, Vit. Umur memang tidak ada yang tahu. But, life must go on,” ujar Ayas mencoba tegar, meski gurat kesedihan masih tertinggal jelas di wajahnya.


Akhirnya, Kepala Sekolah berdiri di atas mimbar. Beliau mulai menyebutkan satu per satu nama murid yang berhasil meraih Lencana Bintang Sekolah. Riuh tepuk tangan kembali memenuhi seisi lapangan setiap kali sebuah nama dipanggil.

Ada perasaan senang sekaligus lega yang menyelinap di hati Ayas. Ia akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaannya: seorang cowok yang keberadaannya paling tersorot di tengah keramaian itu.

Vita mendongak, mencoba mengintip ke depan. Namun, tubuhnya yang mungil tak cukup jenjang untuk melewati barisan di depannya. Ia masih penasaran dengan apa yang sedang diperhatikan Ayas dengan begitu serius. Tak lama, ia mengangguk-angguk seolah mulai memahami situasi.

Vita menatap Ayas dengan penuh selidik. “Kenapa, Yas? Ganteng, ya? Worth it nggak buat lo jadiin idola?” goda Vita sembari tertawa, menyindir ucapan sinis Ayas sebelumnya.

“Apaan, sih, Vit!” Ayas menyenggol lengan Vita, tidak setuju dengan tuduhan tak berdasar itu.

Rasanya aneh. Teman barunya ini seolah tahu betul apa yang sedang melintasi pikiran Ayas. Ayas gengsi untuk mengakui bahwa ia memang sedikit tertarik pada cowok peraih lencana itu.

“Yaa, lumayanlah. So-so... nggak ganteng-ganteng amat,” ujar Vita sembari membuat gestur mengukur ketampanan cowok itu dengan tangannya.

“Ah, nggak juga, Vit,” timpal Ayas spontan, tidak setuju dengan komentar miring Vita.

“Oh, jadinya beneran ganteng, nih? Ya, ya, sepertinya emang ganteng, sih!” seru Vita lebih keras sambil menyenggol bahu Ayas. Beberapa murid di sekitar mereka seketika menoleh.

“Sst! Jangan keras-keras!” Ayas segera membekap mulut Vita. “Jangan-jangan malah lo yang suka?” tuduh Ayas, berharap Vita berhenti menggodanya.

Vita melepaskan tangan Ayas seraya tertawa renyah. “Gue? Nggak mungkin, lah!”

“Kok bisa lo bilang nggak mungkin? Tapi kalau gue... mungkin?” balas Ayas menggebu-gebu, tak mau kalah.

Vita mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Ayas. “By the way, gue cuma nanya dia ganteng atau enggak, lho. Bukan tanya lo suka atau enggak.”

Skakmat!

Gue ketahuan.


Lihat selengkapnya