SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #1

SELAMAT WISUDA

Sore di Yogyakarta ketika itu hampir hujan. Sayup-sayup angin membawa pesan. Bahwa sebentar lagi pertiwi akan terbasahi. Rumput akan bergembira oleh karena hujan tiba. Pada sudut kamar itu sudah terbiasa Ngurah menunggu hari-harinya. Kiranya sudah empat tahun berada pada bilik kamar kost ini. Keluh kesah seperti apa saja larut dalam keadaan itu, hingga akhirnya tak terasa sebentar lagi akan meninggalkan Yogyakarta.

Awal begitu tidak mengenakkan merantau di tanah orang tetapi akhir begitu sulit melepaskan nostalgia itu. Terlebih sahabat di kampus sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Semua akan berakhir pada kebahagiaan yang ditunggu-tunggu yakni wisuda.

 Enam bulan terakhir bergulat dengan skripsi dengan segala kisahnya tentu menarik untuk diingat tetapi tidak enak untuk dikenang. Keluh kesah teman-teman sepanjang skripsian akan menjadi cerita kelak. Bahwa mereka pernah melakukan kekonyolan. Ilham sahabatnya bingung ketika belum bisa menentukan judul skripsi sementara teman-teman yang lain akan ujian proposal.

“Rah, bagaimana ini aku saja yang belum tentukan judul,” kata Ilham.

“Ya sudah kau ke perpus saja” kata Ngurah.

“Temanilah aku kesana, aku tidak enak sendiri” kata Ilham.

“Gak bisa Ham aku mau lanjut bab 3 dulu. Sudah janji sama pak Haryanto besok pagi bimbingan” kata Ngurah.

“Tolonglah Rah kali ini saja” kata Ilham

“Kau ingat minggu lalu? Kau suruh aku menemanimu ke perpus, kau ngapain disana? Kau merayu anak ekonomi yang cantik itu” kata Ngurah

“Ya aku ingat tapi kali ini benar-benar serius aku mau belajar ke perpus” kata Ilham

“Aku gak bisa Ham lagi sibuk ajak Rina saja” kata Ngurah

“Kau kan tahu si Rina itu orangnya gimana nanti dikira aku suka sama dia” kata Ilham

“Cobalah kau respon sedikit perasaannya kasian dia. Kalau perempuan sudah sampai begitu itu tandanya dia tulus padamu” kata Ngurah

“Lah ini gimana? Tadi kau ungkit-ungkit masalah aku rayu cewek ekonomi itu lantas sekarang kau suruh aku pendekatan sama Rina ke perpus. Kapan selesai skripsiku?” kata Ilham

“Kau atur-aturlah gimana baiknya aku pergi dulu ada urusan” kata Ngurah

“Lah, sini kau dulu. Ini aku bagaimana?” kata Ilham

“Aku sibuk Ham” kata Ngurah

Ilham memanggil-manggil Ngurah tetapi ngurah tidak menghiraukannya. Ia pergi dengan urusannya masing-masing.

Belum lagi kisah si Anton yang menangis ketika sidang skripsi. Sebagai lelaki tentunya akan gengsi untuk menangis. Jangankan sidang skripsi, soal cinta pun lelaki biasanya pantang menagis. Namun, tidak tahu ketika lelaki sendiri dalam kamar. Kata si Ilham, Anton marah dengan perkataan dosen pengujinya bahwa skripsi yang ia buat salah dan bisa saja ia akan mengulang membuatnya.

Raut marah dan kecewa tentu menjadi satu di wajah si Anton. Hingga akhirnya tanpa disengaja air matanya jatuh. Tidak beruara tapi hanya berlinang saja. Sungguh ini berita yang menggemparkan bagi teman-teman di jurusan. Pasalnya, Anton adalah lelaki paling konyol dan gokil. Ia pun menjadi bahan ejekan teman-temannya. Termasuk Ilham dan Ngurah menjadikan itu bahan guraunnya.

 Anton tidak banyak bergeming. Bunga yang ia dapat sesudah sidang skripsi hanya pajangan saja. Bahkan teman-teman kelas yang sudah menunggunya di lobby hanya menahan tawa melihat ekpresinya. Anton keluar ruang dengan wajah lusuh sementara Ngurah dan Ilham menghiburnya seolah semua akan baik-baik saja.

“Sudah Ton tak usah bersedih. Nanti kau revisi itu lagi” kata ilham

Lihat selengkapnya