Mengenang malam sepanjang jalan adalah kebahagiaan seorang Ngurah. Baginya, jalan itu bukan tentang tujuan saja, bukan tentang pulang seusai rutinitas, bukan juga tentang singgah sebentar untuk makan. Lebih dari itu adalah tentang mereka yang mengais pundi-pundi rupiah. Berulang-ulang di kota ini, Kota Yogyakarta menyuguhkan romantisme tak bertepi.
Seorang anak yang menemani ayahnya berjualan hingga larut malam. Seorang ayah yang sedang berjualan untuk sekadar bertahan hidup esok. Lalu, seorang ibu yang mengantuk dipinggir jalan karena letih bekerja. Mereka di nanti oleh orang tercinta. Seorang ayah di nanti istrinya, seorang ibu yang di nanti anaknya, lalu akan begitu seterusnya.
Dan siapa sangka, kakek tua renta itu pun harus muda lagi. Muda untuk bekerja, muda untuk bersemangat. Namanya kakek Suharjo. Entah apa yang terjadi akan masa lalunya yang pasti hingga saat ini ia berjualan sate dipinggir jalan. Sangat renta, apalagi membawa gerobak itu bukan perkara mudah.
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Ngurah menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi kepada kakek Suharjo dan keluarganya. Apa anaknya tidak peduli lagi dengan Kakek Suharjo, Apa istri kakek Suharjo dalam keadaan yang baik-baik saja lalu berapa penghasilan Kakek Suharjo sehari.
Ngurah tidak rela melihat kakek Suharjo seperti itu. Ingin rasanya ia membantunya tetapi ia hanyalah seorang mahasiswa yang baru saja wisuda. Untuk memenuhi kebutuhannya saja masih bergantung kepada Ajik dan ibu. Tak apalah, ia sudah menjadi langganan pak Suharjo mungkin itu bisa sedikit membantu satenya cepat habis. Sesekali kembaliannya tidak usah dikembalikan, anggap saja itu rezeki kakek. Apapun yang terjadi padanya semoga cinta menguatkan setiap langkah kakek Suharjo.