SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #3

PAK GURU

Ketika itu sore hari matahari diujung peraduan. Warna jingga begitu merona, semesta beristirahat sejenak. Teduh, tenang lalu semua bergembira. Tiba saatnya untuk kembali ke rumah. Bertemu dengan keluarga lalu menceritakan tentang apa saja yang terjadi. Tentang rutinitas yang berulang-ulang. Tentang anak seorang ibu yang kini sudah dewasa,yang harus mandiri.

 Begitu banyak cerita yang ingin diceritakan, namun ibu juga memiliki banyak keresahan yang harus didengarkan. Putu selama ini hanya ingin didengarkan oleh ibu. Namun seiring berjalannya waktu ia sadar Ibu juga perlu dan layak untuk mendapatkan perhatian dari anaknya. Terlebih lagi ayah sangat sibuk mencari nafkah untuk keluarga ini. Keluarga ini sibuk dengan urusannya masing-masing.

           Jika boleh Putu ingin meluangkan satu hari penuh untuk mendengarkan ibu bercerita, Tentang bagaimana hari-hari ibu ketika Putu tidak dirumah. Putu ingin mendengarkannya dengan jujur dari ibu. Selama ini Ibu sukanya berbohong. Ibu tidak jujur kepadanya. Mengatakan yangbaik-baiknya saja agar anaknya bahagia dan tidak memikirkan beban keluarga.

Sepantasnya keluarga yang sepenanggungan, ibu seharusnya jangan memanjakan Putu dengan kebaikan-kebaikan yang semu. Putu tahu Ibu dan Ayah sedang kesulitan dalam hal ekonomi. Putu mendengar obrolan-obrolan kecil tentang lumbung beras yang mulai menipis. Lalu tentang uang harian yang tidak menentu. Putu ingin mendengar itu dari Ibu. Tetapi ia tidak mau jujur kepada Putu.

 Jika ibu dan ayah menghargai anaknya maka bicaralah apa adanya tentang keluarga ini. Putu sudah dewasa untuk menghadapi masalah seperti ini. Putu tahu mana yang harus diprioritaskan untuk kebaikan bersama. Apa ibu dan ayah tidak yakin pada anaknya sendiri?

 Selama ini Ayah dan Ibu sudah berjuang membiayai kuliah anaknya lalu hingga saat ini sudah bekerja menjadi seorang guru meskipun guru honorer. Namun itu sesuai dengan cita-cita ayah dan ibu. Setidaknya, Putu bermanfaat untuk orang lain. Begitu juga hari pertama memakai seragam guru, betapa bangganya mereka melihat anaknya izin pamit untuk bekerja. Langkah pertama untuk menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

“Nak, baik-baiklah disana. Kau ajarkan apa yang kau dapatkan di kampusmu” kata Ibu

“Percaya dirilah awal-awal memang perlu adaptasi dengan guru-guru yang lainnya” kata Ayah

“Ok Yah itu pasti” kata Putu

“Nanti ayah suruh Pak Hadi membantumu di sekolah” kata Ayah

Kini orang di kampung telah mengenal Putu sebagai sosok guru muda yang berbakat. Menjadi seorang guru berarti menjadi panutan dalam hal apapun. Gerak-geriknya pun harus mencerminkan jiwa pendidik yang sopan dan santun. Putu harus berusaha menyesuaikan diri, belajar seperti itu. Menghilangkan sedikit demi sedikit kebiasaan yang tidak berguna. Termasuk bernyanyi dan bermusik.

Tentu ini bukan hal yang baru tetapi menjadi beban ketika kreatifitas terbelenggu hal-hal yang tidak pasti. Sejak dulu memang sudah bermasalah tentang hobinya ini. Mulai dari keluarga yang tidak siap menerima lalu lingkungan yang begitu congkak meremehkan setiap idividu yang berkarya. Makannya ayah dan ibu begitu bahagia melihat anaknya menjadi seorang guru di kampungnya.

Menjadi guru bahasa Indonesia di SMP tentu banyak tantangannya. Harus siap mental berhadapan dengan berbagai karakter anak. Lalu, harus bisa mengkondisikan suasana pembelajaran yang menarik. Tentunya yang berbeda dengan pembelajaran yang terdahulu. Apalagi ia menjadi seorang guru milenial yang zamannya adalah serba teknologi. Apa itu susah bagi seorang Putu Laksana Wijaya? Tentu tidak! Kelas begitu mengasikkan, kelas begitu dinantikan oleh siswa. Apalagi pembelajaran tentang puisi. Siswa telah siap menerima pembelajaran dari Pak bahasa Indonesia sapaan akrab Putu oleh siswa.

Lihat selengkapnya