Hidup baru saja dimulai. Kenyaman baru saja dilepasnya. Sama dengan Putu dan Ngurah, Dendi harus lebih serius mempertanggungjawabkan hidupnya kepada mendiang ibu. Ia harus sukses segera, atau tenggelam dalam kenyataan hidup yang kadang pahit ini. Ia tidak punya siapa-siapa lagi yang mendekapnya dengan sigap. Dikampung hanya ada nenek yang dimilikinya, sedangkan ayah mulai sudah fokus kepada kehidupannya yang baru.
Kabarnya, ayah telah merencakan pernikahannya lagi. Bulan Desember tahun ini adalah saksi cinta kedua datang. Ayah akan berbahagia lagi dengan perempuan yang baru. Dendi tidak keberatan dengan keputusan ayah. Toh, selama ini orang yang paling terdekat yang selalu mendengarkan keluh kesahnya adalah ibu dan nenek. Sepeninggalnya ibu, tentu Dendi harus belajar menyimpan kesedihan itu. Sehingga nanti ketika pulang kampung, nenek akan menjadi pengganti sosok ibu.
Sepertimalam kemarin, ketika Dendi pulang kampung tengah malam. Nenek bingung dibuatnya. Anak ini harus pulang diantara dinginnya malam dan lebatnya hujan itu. Kata Dendi, ia sedih diperantauan tidak ada tempat mengadu seperti nyamannya peraduan dan pelukan ibu ketika itu. Lalu, nenek mendekapnya dengan kasih sayang. Dendi larut dalam cerita-cerita itu, semua disampaikannya dengan lirih. Nenek sebagai pendengar yang baik. Ini hanya masalah waktu untuk anak seusai Dendi yang hampa hatinya.
Petuah nenek malam itu akan selalu terjaga diantara rutinitasnya di kota.Tidak ada seorang anak yang boleh menangis ditinggal oleh ibunya karena sakit. “Ibumu tidak berencana untuk meniggalkanmu disaat kau masih semuda ini. Tetapi ibumu tidak ingin kau menjadi anak yang manja, pengecut dan lari kepangkuan ibumu hanya untuk mengeluh dan mengeluh. Nak, hidupmu masih panjang. Kau akan baik-baik saja, karena akan ada cinta lainnya menyertai anak sepertimu, dimanapun kau berada.” Begitu kata nenek pada cucunya itu.
Dendi mulai sadar akan dirinya ini. Ia tidak punya banyak pilihan, selain bekerja dan berusaha. Tentang doanya setiap malam sudah pasti ia panjatkan. Wisuda kemarin adalah tonggak awal baginya untuk berjuang. Kabarnya seorang sahabat telah menunjukkannya lowongan pekerjaan. Dendi tidak sia-siakan itu, ia harus segera membuat segala sesuatunya untuk keperluannya pengajuan lamaran pekerjaan itu.
Salah satu hotel memerlukan jasanya untuk menjadi seorang barista. Itu bukan hal baru baginya. Pasalnya kemampuan meracik minuman dan kopi telah melekat dijiwanya. Interview demi interview dilewatinya, hingga akhirnya ia bisa diterima kerja di hotel itu.