Lama tak tersiar kabarnya. Lama juga tak nampak dirinya, entah itu di beranda media sosial atau kabar dari teman. Dina telah tenggelam di relung hati yang paling dalam. Sejak keputusan yang teramat dilema oleh Putu, Ngurah dan Dendi untuk membiarkan Dina berbahagia dengan caranya sendiri. Dina adalah milik siapapun yang menang di hatinya. Rindu itu datang lagi dalam sedikit waktu luang rutinitas Dendi. Bahwa ketika itu meja-meja telah kosong tanpa penghuni. Bahwa ketika itu juga terselip bayangan Dina yang duduk seorang diri menikmati kopi buatannya.
Dalam sore yang begitu tenang, dalam rindu yang begitu syahdu. Ini tentang Dina yang tiba-tiba datang kembali setelah beberapa tahun tenggelam. Seperti cinta yang belum selesai, Dendi harus mencarinya untuk sekadar bertanya kabarnya kembali. Bahwa cinta yang dulu akan bertemu kembali. Bahwa memilikinya mungkin saja begitu indah.
Kisah cinta yang dulu bersama Dina berakhir tragis, tidak untuk diingat, tidak juga untuk diceritakan kembali. Bahwa mencintai hanya urusan Dendi ketika itu, bahwa Dina hanya seorang perempuan idamannya saja. Sebagai lelaki, Dendi kalah dengan kodratnya sendiri. Yang bisa kapan saja berbicara tentang cinta kepada perempuan. Yang bisa saja memberitahu tentang perasaannya terlebih dulu kepada Dina.
Kelihaiannya bermain musik dan sebagai seorang barista tidak menjamin apapun dalam cintanya. Lagu yang ia mainkan hilang tak berbekas ketika perempuan yang ia cintai menyapanya. Semua sirna jika kodratnya sebagai lelaki diabaikannya begitu saja. Mengucap cinta dalam pandang mata yang sama adalah puncak dari kehebatan lelaki. Bahwa Dendi harus begitu. Bahwa Dendi harus bersuara kembali layaknya ia mahir meracik kopi dan bermain gitar.
Malam itu, ketika rutinitas berkahir dipelukan malam, ketika lelah mendera. Indahnya lagu berkumandang dari bilik kamarnya. Ketika itu juga Dendi harus memberi kabar kepada Dina bahwa ia sekarang sudah bekerja. Yang terpenting adalah basa-basi mengajaknya untuk sekadar bertemu. Ia cari-cari kontak Dina tetapi sudah lenyap sejak dulu. Lalu, sosmednya dicari lagi, terpampang wajahnya diantara pepohonan di Kintamani. Gambar profilenya adalah indahnya Kintamani. Dina berfoto di ditengah-tengah hutan pinus.
Semua rasa dan hasrat menjadi satu untuk kembali menghubunginya. Diantara jari-jari yang sudah memencet direct massage, ia tuliskan kembali sebuah kata seperti pertama kali mengenalnya.
“Hey Din, apa kabarmu?” Ketik Dendi
Pesannya tidak serta merta dibalasnya karena memang Dina tidak online. Lantas kapan akan dibalasnya, mungkin saja nanti.
Selang dua jam saja telah beberapa kali Dendi memperhatikan media sosialnya. Open-close-open close, itu-itu saja. Ia penasaran, entah akan dibalas atau tidak. Jikapun dibalas entah bagaimana responnya kembali. Apakah sama sehangat dulu itu. Saat ia masih satu sekolah dan bisa saja bertemu atau meliriknya setiap jam istirahat.
Jam demi jam berlalu. Dari jam delapan, sembilan hingga dua belas belum juga ada jawaban apapun. Hinga ia akhirnya ia tertidur dengan Hp yang sudah lowbat. Keesokan harinya semesta telah mulai lagi. Semua kembali kepada rutinitasnya. Obrolan pagi sebelum memulai pekerjaan antara Dendi dan Soka, teman sesama baristanya. Soka bilang bahwa pagi tadi ia muntah. Bukan karena sakit atau masuk angin. Tetapi karena bapak. Bapaknya tidak jago memasak. Tetapi memaksakan diri untuk memasak mujair nyat-nyat. Masakannya sangat tidak enak. Rasanya aneh, seperti ikan yang di campur bawang merah dan bawang putih saja. Ikannya masih setengah matang. Lendirnya masih saja menempel pada sisik ikan mujair itu. Tidak berani ia mengatakan bahwa masakan bapaknya tidak enak.
“Den, sudah berapa kali aku mencicipi makanan bapakku, tetap saja tidak enak” kata Soka
“Jangan di makan kalau gitu” kata Dendi
“Laparlah Aku bekerja kalau gak sarapan” kata Soka
“Ya sudah kau beli saja makan diluar” kata Dendi
“Bukan gitu Den, kalau terus aku makan diluar gak enak aku sama bapak. Dia sudah rela bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan untukku” kata Soka