Dalam rindu yang sulit dikatakan, dalam cinta yang belum disampaikan ada kegelisahan yang harus mendapat kepastian. Di kamar yang sederhana ini, bersemayam ribuan doa-doa. Ratusan diantara ribuan doa itu untuk cinta yang diperjuangkannya. Sementara lelah seusai bekerja harus disemayamkan dengan istirahat yang cukup. Terkadang lelah itu menjadi-jadi. Cinta menagih kepastian dalam lelah seusai bekerja.
Lelah tidak dapat dihindari, cinta tak kunjung berkabar. Dendi yang sedang gelisah dan Soka yang gembira. Dua hal yang kontras dalam kehidupan manusia. Mengingat kemarin Soka menyuruh Dendi menemani bertemu dengan perempuan yang dicintainya. Katanya Soka tidak percaya diri untuk bertatap muka dengan Lestari, teman bekerjanya. Biasanya Lestari akrab dengan Dendi, ia berteman baik. Maka dari itu Soka meminta bantuannya.
Sepulang bekerja Soka mengajak Lestari untuk makan. Untuk meyakinkan Lestari bahwa makan ini sifatnya tidak intim maka Dendi harus berperan sebagai perantara cinta mereka berdua. Dendi tidak usah banyak omong, tugasnya hanya mencarikan tema obrolan agar tidak membosankan. Setelah itu biarkan Soka yang mengembangkan obrolan itu menjadi hal yang menarik dihadapan Lestari.
Tidak susah bagi seorang Dendi untuk mengarahkan pembicaraan untuk sekadar membuat suasana menyenangkan. Dendi sudah paham dalam drama ini yang menjadi sosok pahlawan adalah Soka, maka ia harus menjadi pengatur ritme yang baik.
“Les, kau tahu Soka tidak suka masakan bapaknya?” tanya Dendi
“Loh kok bisa begitu?” tanya Lestari
“Ya masakannya selalu saja setengah matang. Kalau memasak ikan masih ada lendirnya dan itu tidak enak” kata Dendi
“Loh jangan bahas yang itu dong” kata Soka
“Terus kenapa masih di makan?” tanya Lestari
“Katanya di dalam masakan itu ada cinta yang diberikan bapaknya. Semacam pengganti bumbu dapur dengan perasaan sayang bapak kepada anaknya” Kata Dendi
“Bener Sok? Kau makan sampai habis masakan bapakmu?” tanya Lestari
“Ya di makan untuk menghargai niat baiknya” kata Soka
“Betul juga itu yang pentingkan niatnya dan tanggung jawab bapakmu” kata Lestari
“Tapi aku kasian sama dia setiap hari mengeluh tentang itu saja. Kau kan jago masak Les buatkanlah teman kita ini makanan enak. Masakan apapun pasti dia suka, bukan begitu Sok?” tanya Dendi
“Waduh, jangan begitulah kasian dia repot-repot” kata Soka
“Jadi gimana? Kau tidak mau?” tanya Dendi
“Bukan begitu aku sih tidak apa-apa” kata Soka
“Besok Aku bawakan masakanku tapi sekalian untuk kalian berdua saja” kata Lestari
“Makasih nih Les, tapi Aku gak usah aku sudah langganan nasi kuning depan kost. Kau buatkan saja si Soka ini bukan begitu Sok?” tanya Dendi
“Ya boleh-boleh saja” kata Soka
“Besok aku bawakan, ini sekarang kita jadi pesan makananan atau tidak?” tanya Lestari
“Ya harus, kau sudah tahu belum kita di traktir Soka makan apapaun disini. Benar begitukan Sok?” tanya Dendi
“Sok, bener kan?” tanya Dendi sekali lagi
“Ya benar-benar silahkan pesan” kata Soka
“Nah begitu dong mari kita pesan!”
“Kenapa kau bengong? Ada masalah?” tanya Dendi
“Tidak ada mari pesan!” kata Soka
“Ayok di pesan yang banyak” kata Dendi
Mungkin untuk urusan traktir-mentraktir tidak ada dalam rencana. Tetapi itu inisiatif Dendi agar Soka terlihat power full dihadapan Lestari. Soka harus berani berkorban, walaupun uang makan untuk besok harus mengambil dari tabungannya. Tetapi Dendi telah berhasil membawa ritme diantara percakapan itu. Lestari sedikit kagum dibuatnya tentang soka yang menghargai masakan bapaknya. Ternyata Soka bisa juga peduli dengan hal-hal kecil tetapi esensi dalam berhubungan dan menjaga komunikasi dengan ayahnya menjadi baik.
Urusan Soka dengan Lestari sudah maksimal ia bantu pada hari itu. Selanjutnya ia sudah punya bekal dan mungkin saja pertimbangan untuk Lestari agar memperhitungkan cintanya Soka. Tidak usah buru-buru yang penting kesan pertama mengasikkan dan pertemuan selanjutnya bisa saja diatur dengan renacana-rencana lainnya.
Sementara kesan telah mereka dapatkan. Lalu Dendi apakah bisa berbuat demikian dengan Dina? Kalau membantu teman ia bisa menjadi dalang yang baik, maka untuk dirinya belum tentu. Dendi juga lelaki yang suka salah tingkah didepan perempuan yang ia cintai. Untuk membuka topik baru dengan Dina saja perlu berulang-ulang keyakinan dan keberanian. Sehingga hari-hari berikutnya adalah masa sulitnya mengambil alih sudut pandang Dina agar merasa perlu dengan Dendi.
Sedangkan cinta telah buru-buru meminta kepastian maka semakin ditunda semakin tidak mengenakkan. Dendi tidak bisa memakai cara yang ia pakai untuk Soka dan Lestari seolah Dendi power full dihadapan Dina. Mengingat Dina adalah wanita karier pasti cara berpikirnya kritis dan wawasannya tergolong luas. Mungkin saja pernyataan harus dibarengi dengan logika agar pembicaraan tidak cuma ‘ia-ia saja’
“Din, jika sempat Aku mau bertemu denganmu. Aku ingin mengobrol bisnis coffe denganmu” Tulis Dendi.
Pesan itu masih tenggelam berjam-jam hingga akhirnya sekitar pukul 17.00 pesan itu dibaca.