SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #7

DINA WANITA KARIER

Mencintai Dina seperti bangun pagi, dikiranya mau membantu ibu ternyata darurat ke toilet. Juga, mencintai Dina seperti belajar malam, dikiranya membaca buku ternyata update status. Mencintai Dina tidak mudah ditebak. Asal suasana hatinya sedang baik, Dina adalah sosok perempuan idaman lelaki. Pasalnya, ia bisa membuat obrolan ramai dan menyenangkan. Ada saja topik yang ia sampaikan. Tentang bangun pagi, makan siang dan tidur malam lengkap dirangkumnya menjadi satu. Sedangkan tugas laki-laki tidak boleh bosan mendengarkan obrolan itu. Hargai perempuan yang mau berusaha membuka pembicaraan. Sadari, bahwa sebenarnya itu adalah tugas lelaki.

Dina sempat bercerita tentang malasnya ia bangun pagi. Ketika itu malas benar-benar menghampirinya. Katanya perempuan sepertinya selalu ribet untuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum ke kantor. Mandi sudah, lalu berias yang memang susah. Sejak dulu memang Dina tampil begitu adanya. Lalu lingkungan kantor yang mengharuskannya untuk bersolek maka ia belajar sedikit demi sedikit.

Wajahnya yang memang sudah cantik diapakan saja tetap cantik. Awalnya, ia tidak yakin, tetapi ia meminta seorang teman kantornya untuk menemaninya membeli peralatan berias itu. Hingga ia belajar dari temannya itu. Tetapi tetap saja ia belum percaya diri. Mungkin itu yang membuatnya malas bangun pagi.

Dina harus menjadi wanita karier dan juga mandiri. Keluarga yang jauh dikampung mengharapkan ia menjaga nama baik. Kehormatan sangatlah penting, karier dimata ayah dan ibu nomor sekian. Dina masih memegang teguh kepercayaan itu. Meski pekerjaan menuntutnya untuk membangun relasi bisnis yang baik dengan para client-nya maka pandai-pandainya dia untuk menempatkan dirinya itu.

Pernah ketika itu seorang client memang tidak bisa memporsikan diri sebagai rekan bisnis yang baik. Pembahasannya bukan tenang bisnis, tetapi sibuk merayu Dina. Dina dibilangnya perempuan cantik dan mandiri. Diusianya yang masih muda, ia sudah memegang tugas sebagai pimpinan di cabangnya. Tentu hal itu mendapat perhatian lebih bagi client-client yang bertemu dengannya.

Client ini bernama Pak Handoko. Memang sedari awal bertemu dengan Dina niatnya sudah bisa diterka. Ketika melakukan meeting pun ia sudah tidak sopan memandang Dina. Ia selalu memperhatikan gerak-gerik Dina sehingga ia merasa risih. Namun sebagai professional yang bekerja dibidangnya, ia anggap itu sebagai tantangan dalam bekerja. Yang penting ia bekerja sesuai koridor dan fungsinya di perusahaannnya.

Dalam meeting yang berlangsung 2 jam, Dina berhasil meyakinkannya untuk melakukan kerja sama bisnis dengannya. Terlepas dari sosoknya yang cantik dan menawan, strategi bisnis untuk menjalin kerjasama itu baru saja ditandatangani.

Perempuan ini memang tidak mudah untuk ditaklukkan. Katanya, ia tidak suka dengan lelaki yang agresif dan tidak menghargai perempuan. Sama sekali ia tidak akan membanding-bandingkan profesinya dengan profesi lelaki itu jika ia sudah nyaman. Ia akan berlaku sesuai dengan kondisinya saja. Ia tetap baik kepada lelaki barista sekalipun, toh dirinya hanya ingin kenyaman dalam sebuah hubungan.

Dendi sudah tahu banyak tentang hal itu. Obrolannya setelah ngopi bersama menjadi lebih menarik dan antusias. Ia mengaku telah tahu, mau berbuat apa dan membahas topik apa saja dengan Dina. Setiap malam, Dendi mengatakan hal yang sama kepada Dina, bahwa bersyukur itu perlu dan mengeluh itu wajar. Dina juga berkata setiap orang layak hidup bahagia. Jika sederhana menjadi bahagia maka ia lebih baik memilih itu.

Katanya juga, banyak sekali yang mendekat kepadanya kala seseorang tahu ia menjadi orang berpengaruh dalam perusahaannya. Banyak teman yang datang mengajaknya untuk menikmati hidup ini.Mereka sering mengajaknya untuk pergi malam dan nongkrong tidak jelas. Tetapi tawaran itu ia tolak mentah-mentah. Ia tidak suka dengan gaya hidup yang terlalu konsumtif. Mungkin teman-temannya menganggap Dina perempuan kampung yang harus diajarkan untuk menikmati indahnya kota. Lalu, Dina akan mudah diajak untuk berpoya-poya, tetapi nyatanya tidak!

Dendi sudah berulang kali mengatakan kepada Dina. Jika ia ingin sesuatu maka jangan segan minta tolong padanya. Dendi cemas Dina tidak bisa menjaga dirinya sebagaimana pesan ayah dan ibunya dikampung. Dendi harus menjaganya, walaupun ia bukan siapa-siapanya. Tetapi berjuang untuk cintanya bisa dilakukan dengan cara begini.

Perhatiannya yang tulus. Kepeduliannya yang cemas maka cintanya harus dinikmati berdua. Nyatanya Dina sudah berani mengobrol tentang bagaimana harinya dan kesalnya. Mereka sudah bertukar harinya masing-masing untuk dinikmati sebagai momen indah pendekatan.

Malam itu ketika lelah seusai bekerja menghampiri. Dendi menghubungi Dina via telpon. Hpnya berdering, telepon itu diangkatnya.

“Halo Den” kata Dina

“Lagi apa Din?” tanya Dendi

“Ini lagi nonton tv” kata Dina

“Aku ganggu gak Din?” tanya Dendi

“Kalau Aku bilang ganggu kau bisa apa? Haha” canda Dina

“Jujur, Aku bisa apa saja” kata Dendi

“Masak? Berarti kau bisa buat candi dalam semalam dong?” tanya Dina

“Kalau kamu inginnya begitu apa boleh buat!” kata Dendi

“Gimana caranya?” tanya Dina

“Kan aku download gambar candi tuh, terus aku print. Jadi dah candi dalam semalam. Gimana terkejut?” kata Dendi

“Waow, Aku boleh terkejut sekarang?” tanya Dina

“Kalu begitu cepatlah terkejut, keburu dingin tidak baik” kata Dendi

“Lah, ada terkejut buru-buru, cepat dingin pula!” kata Dina

Lihat selengkapnya