SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #8

TERUNTUK CINTA

Kepada rindu yang harus beradu, maka cukuplah berkabar agar cinta baik-baik saja. Hingga sedih tidak nampak lagi ketika cintanya sedang mekar dan berseri-seri. Indahnya, disaksikan ribuan pasang mata yang lalu-lalang. Di sudut kota yang milik semua orang. Diperhatikan jika sempat dinantikan jika sudah layu.

Bunga di sudut kota ini sendiri menanti tuannya. Tuannya pergi setelah menanamnya. Tidak kembali hingga kapanpun karena memang bunga ini tidak diharapkan hidup dan mekar. Ia ada karena tidak sengaja. Ia tumbuh karena memang begitu seharusnya. Ia dibesarkan dalam buain malam yang terang oleh bulan. Lalu dimandikan hujan yang sesekali sempat mengunjunginya.

Tidak ada yang harus disesali. Bunga sudah mekar dan itu milik semua orang. Namun, jangan buru-buru dipetik indahnya. Kasian dahan dan daunnya, menangis tidak ada yang bisa dibanggakan. Ia tahu diri hidup dalam kewajaran dan tidak diistimewakan. Hidupnya sebatang kara. Cintanya berseri-seri, mekar di sudut kota tempat semua cinta bertemu, berawal dan berakhir. Sudut kota yang kotanya adalah milik semua warganya tidak melarang segala hal untuk hidup dan tumbuh asal baunya wangi.

Banyak cerita cinta berawal dari kota ini. Ada yang bertemu ketika hujan turun, tidak berencana mencintai tetapi akhirnya cintanya abadi. Ada juga yang sedang duduk lalu bertemu dengan jodohnya. Yang sedih menjadi bahagia. Yang bahagia semakin bahagia. Dan, yang mencintai semakin erat saja cintanya. Sore ini sudut kota berganti menjadi malam. Tentang hari ini dicukupkan dulu. Semua sudah pulang, kembali kepada cintanya kecuali bunga itu. Ia sendiri menunggu tuannya pulang.

Sudut kota ini menjadi saksi bahwa cinta benar-benar nyata dan layak diperhitungkan. Bahwa cinta datang tiba-tiba, bahwa semesta merestui setiap orang untuk berpasangan. Diantara lelaki atau perempuan yang memang belum dipertemukan dengan cintanya maka ia pantas kecewa dan bersedih. Mana mungkin manusia bisa mengarungi semesta seorang diri. Kepada siapa ia akan beradu tentang peliknya hidup? Kepada siapa tangis itu akan dibagi jika tidak dengan pasangan hidupnya. Maka ia harus bersedih dan meminta cintanya dipertemukan!

Kebahagiaan adalah kepastian jika cintanya sudah bertemu. Peliknya hidup tidak akan mampu membuat air matanya jatuh. Dua pundak saling menguatkan hati mereka masing-masing. Bersedih sewajarnya adalah cara menerima cinta yang segera datang.

Lihat selengkapnya