SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #11

MORNING BRIEFING MELULU

Senin momok menakutkan bagi karyawan seperti Ngurah. Senin juga awal untuk memulai rutinitas yang itu-itu lagi yang berat darinya adalah bangun pagi. Susahnya minta ampun, sudah bangun sesuai alarm tapi tidur lagi beberapa menit. Niatnya cuma 10 menit malah 30 menit. Telat! Semua serba buru-buru. Itu belum seberapa, jika sudah sampai kantor ujian terberat itu tiba. Kegiatan rutin di kantor adalah morning briefing. Hal ini yang sebenarnya paling menjengkelkan semua karyawan. Hanya saja mereka tidak berani protes, lebih baik diam.

           Semua karyawan dikumpulkan, termasuk Ngurah. Berjejer membentuk lingkaran, semua wajah terlihat lesu. Beberapa karyawan pun masih menahan kantuk. Namun bos tidak mau tahu. Seperti biasa morning briefing harus tepat jam 07.30. Mendengarkan ocehan bos dalam briefing sangatlah menjengkelkan. Membahas yang itu-itu saja melulu. Bahkan beberapa karyawan sampai hafal. Ini pasti akan membahas hal yang kemarin padahal itu sudah selesai kemarin.

           Bos terus mengingatkan tentang bisnis masing-masing divisi. “Jangan ditunda-tunda, kebut diawal. Itu harus, wajib dan kudu!“ kata bos. Bos menceramahi karyawannya sampai ke akar-karnya dari bisnis, kebersihan toilet dan bangkai tikus. Bos ingin semua karyawan peduli terhadap lingkungan kantornya.

Meja harus tetap rapi, kertas yang tidak penting dibuang secepatnya. Toilet sehabis digunakan siram dengan benar, kencing pun jangan sampai muncrat kemana-mana. Lalu, jika mencium bau-bau tidak sedap karyawan harus peka, siapa tahu itu bangkai tikus. Kemarin bos melihat adatikus di langit-langit kantor. Kalau sampai tikus itu terjebak lalu mati membusuk, bekerja tidak akan nyaman.

           “Kalian harus peka dengan apa yang ada di kator ini. Kantor ini adalah rumah kedua kalian. Coba dirumah kalian ada bangkai tikus, apa kalian biarkan begitu saja?” kata bos

           “Enggak kan?” kata bos lagi

           “Makannya, saya tidak mau tahu jika ada hal-hal seperti itu tolong laporkan ke OB. Saya tidak akan suruh kalian untuk mengurusinya. Tugas kalian hanya melaporkan saja. Nanti si Teguh yang membersihkan. Apa itu susah?” tanya bos

           “Saya kira sih tidak! Teguh nanti yang membersihkan” kata bos

           “Intinya saya tidak mau hal-hal sepele seperti itu membuat kerjaan kalian tidak benar. Lakukan yang terbaik buat bisnis anda. Ingat, jangan ditunda-tunda!” kata bos

           “Bla..bla.. bla..” dan masih banyak lagi kata bos

           Tiga puluh menit berlalu, masih saja briefing. Kaki pegal dibuatnya. Semua karyawan merasakan hal itu, tetapi mereka tidak berani bilang. Mereka diam saja. Ngurah, anak baru saja sudah merasa jengkel dan malas mendengarkan ocehan bos. Apalagi karyawan lainnya yang sudah bekerja bertahun-tahun.

           Sebenarnya Pak Yuda sudah capek. Ia menahan pegal berdiri lama-lama. Tetapi ia paksakan saja. Bos mengakhiri morning briefing 20 menit kemudian. Semua karyawan kembali kepada ruangnya masing-masing. Ada yang menghembuskan napas lega. Ada yang duduk melemaskan urat-urat kakinya.

           Sialnya lagi tidak ada kata aman, morning briefing esok menanti lagi. Tidak ada hal baru yang disampaikan, pasti berbicara itu-itu lagi. Bos memang selalu ingin tampil berwibawa dihadapan karyawan lainnya. Terlebih teller-teller itu sangat cantik dan masih muda. Apa mungkin ingin menarik hati salah satu antara mereka atau tidak. Tidak ada yang tahu, mungkin saja niatnya murni untuk bisnis.

           Kata Pak Yuda, bos memang sukanya ngomong. Dari dulu hingga sekarang memang begitu. Pak Yuda telah 7 tahun mendengarkan morning briefing melulu. Jengkel dan jenuh sudah pasti. Terkadang ia bolos. Tidak ikut briefing dengan alasan ketemu nasabah pagi-pagi. Jika dulu di sekolah siswa senang bolos jam pelajaran, maka karyawan di bank ini sukanya bolos pas morning briefing.

           Andai saja bos tidak terlalu banyak omong pasti kantor menjadi menyenangkan. Setidaknya ada hal yang membuat betah karyawan di kantor. Ngurah tidak punya pilihan lain. Ia harus mengikuti budaya disitu.

           Siang hari, jam istirahat untuk karyawan. Mereka seperti biasa makan di warung sebelah. Pembahasannya tentang bos. Bos selalu mengasikkan untuk diperbincangkan. Apalagi Pak Anto dan Pak Bimo yang memulai obrolan itu.

           “Aku tebak besok briefing pasti membahas tentang kau An.” Kata Bimo

           “Loh, kenapa aku?” tanya Anto

           “Kemarin kau terekan CCTV kencing di toilet cewek” kata Bimo

           “Sial. Kau ada-ada saja Bim. Yang ada topiknya tentang kau Bim” kata Anto

           “Kenapa aku?” tanya Bimo

           “Bau mu seperti bangkai tikus yang mati kejepit” kata Anto

           “Sial! Itu persoalan toilet kok bisa kebawa-bawa sih? Gila tuh, sampai hal seperti itu diomongin” kata Bimo

           “Itu di toilet cewek ada apa gitu. Kebetulan ada yang lapor ke bapak. Nah, jadi tambah panaskan suasana briefing tadi” kata Anto

           “Siapa yang bilang?” tanya Bimo

           “Ia siapa lagi kalau bukan geng ibu-ibu sosialita itu” kata Anto

           “Ada-ada saja. Jadi tambah panjangkan briefing tadi” kata Bimo

           “Yud, sini bentar. Kau disuruh bersihin apa tadi di toilet?” tanya Bimo

           “Itu ada yang buang pembalut pak. Toilet jadi mampet” kata Yuda

           “Lalu, kau ambil yud?” tanya Anto

           “Dimasak pak buat dipake jualan, haha” kata Yuda

           “Ah, Sial kau Yud. Besok kau cek pagi-pagi siapa yang paling terakhir masuk toilet biar ketahuan orangnya” kata Anto

           “Maksudnya, saya diem di toilet gitu pak?” tanya Yuda

           “Haha, bukan! kau amati saja. Siapa tahu si Bimo ketahuan” kata Anto

Lihat selengkapnya