Pagi ini minggu 12 Maret kabar baik itu datang setelah bangun pagi. Sahabatnya, Putu Laksana Wijaya mengabarinya bahwa ia akan segera menikah tanggal 30 Maret. Nama calon istrinya Dewi, nama lengkapnya Dewi Permata Pertiwi. Ia seorang guru sejarah di sekolah negeri yang tempatnya bersebelahan ditempatnya mengajar. Dewi masih guru honorer sama dengan Putu. Perkenalan awalnya terjadi saat Putu menjadi pengawas ujian di sekolah Bu Dewi.
Ketika Putu datang Bu Dewi menyambutnya dengan senyum, sapa dan salam sesuai SOP sekolah yang menerapkan 3S.
“Pagi pak, bapak pengawas ujian ya?” kata Dewi
“Ya buk” kata Putu
“Perkenalkan saya Dewi, panitia ujian disini” kata Dewi
“Saya Putu buk, guru dari sekolah sebelah. Tetangganya sekolah ini” kata Putu
“Oh begitu, mari saya antar ke ruangan pengawas” kata Dewi
Semenjak pertemuan itu ia merasa tertarik dengannya. Ia memanfaatkan waktu beberapa hari itu untuk mencuri perhatiannya. Di hari kedua ia memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol sembari diantarkan ke ruang pengawas.
“Buk, bagus ya sekolah disini halamanannya bersih dan banyak pohon-pohonya” kata Putu
“Begitulah pak, kami sempat mengikuti perlombaan terkait kebersihan lingkungan sekolah mau tidak mau kami harus berbenah” kata Dewi
“Sekolah saya juga ikut buk tapi belum mendapatkan juara” kata Putu
“Gak apa-apa pak yang penting kan dampak baiknya untuk lingkungan itu sendiri” kata Dewi
“Ya buk sudah lama mengajar disini buk?” kata Putu
“Baru setahun pak” kata Dewi
“Sudah PNS buk?” tanya Putu
“Belum pak masih honorer” kata Dewi
“Saya juga buk” kata Putu
“Silahkan ditunggu di ruangan dulu pak” kata Dewi
“Terima kasih buk, Selamat pagi” kata Putu
“Selamat pagi” kata Dewi
Pada hari terakhir ujian ia mendatangi Bu Dewi dan mengobrol sebentar. Inti dari obrolannya itu adalah Putu meminta WA Bu Dewi alasannya untuk bertukar informasi seputar dunia pendidikan. Bu Dewi memberikannya toh sesama guru, saat itu juga Putu tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Pak Bahasa Indonesia mulai menerapkan ilmu kesastraannya. Ratusan rayuan, ribuan ucapan dan puluhan puisi menyerang Bu Dewi. Pagi sebelum berangkat bekerja diberikannya ucapan yang romantis. Siang sebelum istirahat diberikannya rayuan, lalu malam sebelum tidur diberikan puisi hasil ciptaannya sendiri. Peremuan seperti apa yang tidak luluh dengan puisi Pak Bahasa Indonesia ini? Bu Dewi saja tidak berdaya dibuatnya.
“Bu Dewi” tulis Putu
“Kenapa pak?” balas Dewi
“Ibu suka puisi gak?” tanya Putu
“Biasa saja pak” balas Dewi
“Saya punya banyak puisi buk sekadar iseng saja sih buatnya. Tapi beberapa dari puisi-puisi itu sudah mendapatkan juara lalu ada yang dijadikan musikalisasi puisi juga.” Balas Putu
“Oh ya? keren dong pak boleh saya tahu?” balas Dewi
“Tapi dibaca ya buk” balas Putu
“Saya kan tidak bisa baca puisi pak” balas Dewi
“Ibu baca saja di kamar sendiri tidak usah bersuara dalam hati saja” balas Putu
“Ide bagus tuh pak kirim ya pak” balas Dewi
Tampaknya jebakan Putu sudah mulai kena sasaran nih. Pak bahasa Indonesia ini berhasil membuatnya penasaran.
“Ok, saya kirim sekarang” balas Putu
AKAN BAIK-BAIK SAJA
Teruntuk perempuan yang mencintai lelakinya,
Sanggupkah engkau menikah dengannya?
Walaupun kau tahu hidupnya sedang tidak baik-baik saja
Teruntuk lelaki yang sedang mencintai perempuannya,
Sanggupkah engkau memberikan kepastian untuknya?
Walaupun kau tahu hidupnya kan menjadi kewajibanmu
Teruntuk kalian yang saling mencintai