SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #15

HANCUR

Jika malam ini memang gelisah esok pulanglah temui keluarga di kampung. Meskipun hanya ada nenek seorang diri Dendi harus bercerita dengannya. Perihal keberanian lelaki menyatakan cinta kepada Dina nenek sudah berpengalaman. Nenek tidak hanya mendengarkan cerita itu tetapi meyakinkan bahwa cinta perlu diperjuangkan sebagaimana kakek dulu mencintainya. Cintanya sudah dicaci maki oleh ruang dan waktu hingga kini hanya maut yang mampu memisahkannya, itu pun atas seizin Tuhan. Dendi harus pulang mengatakan yang sejujurnya dengan nenek.

           Pagi masih berselimutkan embun dan rerumputan baru saja bangun dari tidurnya. Suara motor itu sudah ada di pekarangan rumah seperti biasa nenek sibuk dengan rutinitas di dapur. Lantas nenek menyapa cucunya yang baru datang itu.

           “Sudah pulang kau Den?” tanya Nenek

           “Sudah dong biar bisa ngopi di teras berdua” jawab Dendi

           “Kau tidak tanya apa nenek mau menemanimu ngopi?” tanya Nenek

           “Aku yakin nenek mau” jawab Dendi

           “Nenek tidak bisa Den” kata Nenek

           “Ada yang lebih penting dari cucu nenek ini?” kata Dendi

           “Dokter Andre bilang nenek tidak boleh minum sembarangan apalagi minum kopi. Kau mau tanggung jawab?” kata Nenek

           “Hem, tapi kalau ngobrol bisa kan nek?” tanya Dendi

           “Kalau itu sekarang pun nenek bisa” kata Nenek

           Pagi itu dikampung mereka bercengkrama di teras rumahnya. Percakapan antara cucu dan nenek yang sebenarnya membahas tentang cinta-cinta melulu.

           “Anak muda cemen-cemen ya Den” kata Nenek

           “Loh, kok gitu?” kata Dendi

           “Cuma masalah cinta aja sedihnya sampai begitu, kasian” kata Nenek

           “Maksudnya nenek menyindirku?” kata Dendi

           “Apa coba namanya kalau bukan begitu? tidak ada gairah hidup” kata Nenek

           “Loh kok?” kata Dendi

           “Dari wajahmu saja nenek tahu nenek pernah muda Den. Masalah cinta nenekmu ini jagonya” kata Nenek

           “Waduh, nenek banyak punya pacar dulu? Atau nenek pernah selingkuh dan apalagi?” tanya Dendi

           “Gini Den, cinta itu sebenarnya sederhana tidak seribet yang kau pikirkan.” jawab Nenek

           “Maksudnya nek?” tanya Dendi

           “Ketika nenek muda dulu beberapa lelaki mendekati nenek dengan berbagai latar belakangnya. Anak jurangan kopi, Anak peternak sapi, dan anak peternak ayam. Mereka itu orang-orang berada pada masa itu tetapi nenek tolak mereka” jawab Nenek

           “Loh kok gitu?” tanya Dendi

           “Ada seorang petani yang baik dan sopan ketika itu memperlakukan nenek sebagai wanita seutuhnya. Dia datang ke rumah menyatakan cinta dihadapan kedua orang tua dan berjanji bertanggung jawab kepada nenek. Dia tidak berjanji untuk menjadi yang terbaik tetapi akan selalu berusaha membuat semua seakan baik-baik saja” jawab Nenek

           “Lelaki itu kakek kan?” tanya Dendi

           “Ya itu kakekmu Den. Hingga sampai saat ini nenek masih mencintainya sebagaimana dia mencintai nenek. Atas kehendak Tuhan kami dipisahkan untuk sementara waktu, sebelum nanti nenek menemuainya lagi di Nirwana” jawab nenek

           “Apa kakek romantis nek?” tanya Dendi

           “Mana pernah kakekmu itu romantis. Dia bukan tipe seperti itu” jawab Nenek

           “Lalu kenapa nenek mau?” tanya Dendi

           “Apa kau pikir setiap perempuan akan mencintaimu kalau kau romantis? Gak Den. Kau salah” jawab Nenek

           “Terus bagaimana dong?” tanya Dendi

           “Perempuan akan mencintaimu jika kau memperlakukannya dengan baik. Jangan kau merasa lebih baik darinya hanya karena kau lelaki. Buat ia nyaman dan berikan perhatian setiap hari” jawab Nenek

           “Aku kurang bagaimana lagi dengan Dina?” Tanya Dendi

           “Apa yang sudah kau lakukan untuknya?” kata Nenek

           “Banyak nek, makan malam sudah, chat setiap hari sudah apalagi memberikannya perhatian. Pokoknya Dina sudah maksimal kuperhatikan.” Kata Dendi

           “Sudah kau buat nyaman belum?” tanya nenek

           “Gak tahu nek” jawab Dendi

           “Dina cinta sama kamu gak?” tanya Nenek

           “Mana aku tahu nek kan belum Aku bilang” jawab Dendi

           “Itu masalahnya! Seumur hidup pun kau akan terus begini. Hidup tak bergairah mati tak segan” kata Nenek

           “Waduh, berarti harus bilang ke dia secepatnya gitu nek?” tanya Dendi

           “Tidak ada salahnya kau bilang Den kuncinya hanya itu, kau bilang dia pasti jawab” jawab nenek

           “Kalau ditolak gimana?” tanya Dendi

           “Setidaknya kau kalah dalam peperangan dengan cara terhormat” jawab Nenek

           “Gimana ya” kata Dendi

           “Harus yakin dan serahkan semua kepada Tuhanmu. Percayalah Ia sudah berencana untuk hidupmu” kata Nenek

           “Ya nek, Aku pasti berusaha sebisa mungkin” kata Dendi

           “Dan ingat didarahmu ada darah kakekmu yang mengalir. Kau harus yakin itu” kata Nenek

Lihat selengkapnya