Sebulan setelah cintanya ditolak Dendi membuat keputusan besar dalam hidupnya. Bersama sahabatnya Soka yang memang sudah satu komitmen dengannya. Mereka berdua datang ke ruangan HRD untuk mengajukan surat pengunduran dirinya. Keputusan ini tidak mendadak memang sudah jauh-jauh hari dipertimbangkan. Daripada menjadi barista di tempat orang lain lebih baik ia membuat kedai kopi sendiri. Sudah cukup pelajaran dan hal-hal tentang mengelola bisnis ia dapatkan. Kini saat menjadi seorang pengusaha untuk kedainya sendiri.
Tekadnya sudah bulat hatinya yang masih perih menjadi api semangat untuk usahanya ini. Dendi ingin membuktikan bahwa Dina salah. Ia salah menilai bahwa barista tidak layak bersanding dengan wanita karier. Dendi tidak main-main bisnis ini ia lakukan serius segala perlengkapan dan persiapan pembukaan kedai kopinya perlahan sesuai rencana. Mulai dari sewa ruko yang berada di pusat kota hingga kerja sama dengan pengusaha kopi telah ia sepakati.
Interiordi dalam kedai kopi di desain senyaman mungkin. Ada panggung musik kecil di depan dan perpustakaan untuk para pengunjung. Dendi memberi nama itu “Perpustakaan Mini” isinya banyak novel-novel dan buku kumpulan puisi. Belum ada kedai kopi yang memberikan gebrakan semacam ini tapi Dendi berani mencoba hal baru. Nantinya mereka yang datang sembari menikmati kopi bisa membaca buku-buku itu.
Dendi dan Soka sepakat kedai kopi ini diberinama “Rambu Coffe” Tidak ada filosofi khusus kenapa namanya harus begitu yang pasti nama “Rambu Coffe” nyaman diucapkan dan gampang diingat. Sesuai rencana Rambu Coffe akan dibuka bulan Juni. Ketika tanggal baru, angka 1 menjadi saksi bahwa Rambu Coffe hadir untuk pecinta kopi dan musik. Lebih dari itu kedai ini membuktikan kalau rasa benci, marah dan perih hati seorang lelaki yang ditolak cintanya bisa menjadi motivasi untuk masa depannya.
Teman-teman juga menyambut baik hadirnya kedai ini terutama dari kalangan musisi yang Dendi kenal. Mereka bersedia untuk menjadi penampil pada opening“Rambu Coffe”. Panggung itu memang dipersiapkan untuk siapa saja yang ingin bernyanyi yang ingin bercerita tentang rutinitasnya dan yang ingin menghibur dirinya karena kerasnya hidup ini.
Sementara itu, Dendi dan Soka dibantu oleh karyawan baru ia bernama Ida dan Lina. Mereka perempuan yang cantik dan wajar kalau berdandan. Tapi mereka unik ketika melamar pekerjaan, Ida dan Lina datang bersamaan. Mereka yang memberikan syarat kepada Dendi dan Soka seandainya diterima bekerja harus berdua diterima, seandainya yang diterima salah satu dari mereka maka pekerjaan itu tidak jadi diambilnya.
Setelah ditanyai kenapa harus begitu mereka membeberkan alasannya. Bahwa sebelum melamar kerja disini mereka memang sudah bekerja di kedai kopi lainnya. Sudah banyak hal yang mereka lalui dalam pekerjaannya sehingga merasa saling sepanggungan. Dendi dan Soka tidak masalah dengan hal itu cv dan pengalaman kerja mereka juga mendukung dipekerjaan ini sebagai waitress. Mereka diberhentikan bekerja di tempat sebelumnya juga karena PHK, ownernya tidak mampu membiayai gajinya. Maka Dendi dan Soka Sepakat menerima mereka menjadi karyawannya.
Dendi memperhatikan betul apa-apa yang belum dipersiapkan menjelang pembukaannya nanti. Ida dan Lina juga segera dilibatkan mereka diberikan tugas untuk membersihkan bagian-bagian yang belum dirapikan meja, gelas dan kopi segera ditata agar kedai enak dipandang mata.
Soka fokus pada promosi di media sosial pokoknya semua harus diberikan kabar gembira ini. Teman sekolah, mantan rekan kerja, teman dikampung diundangnya. Pacarnya Soka, si Lestari juga membantu. Lestari disuruhnya mengundang teman-temannya.Semua hal itu beres dikerjakannya. Dendi selain fokus mengurus persediaan kopi juga akan segera memberikan kabar ke Dina bahwa Dina dan Gilang diundang datang.
Hingga tiba awal bulan tanggal 1 Juni semua teman telah berkumpul di kedai. Sementara mereka yang mengisi acara telah menyanyikan beberapa lagu. Semuanya larut dalam kemeriahan yang sederhana ini. Kopi-kopi itu dipesan laludinikmati bersama alunan musik. Mereka bernyanyi bersama sebagaimana mereka menonton konser band kesukaannya. Kecuali Dina, ia sedikit agak canggung memang Dina tidak suka bernyanyi katanya malu lebih baik menikmati saja.
Dendi juga sudah menyapanya bahkan Dina mengenalkan Gilang kepada Dendi. Mereka saling berjabat tangan Dendi tidak ada masalah karena memang semuanya baik-baik saja. Kalau menatap Dina, sekali dua kali memang belum ikhlas tapi ya sudahlah, tidak apa-apa toh, langit baik-baik saja tanpa Dina.
Sejak malam ini Rambu Coffe bisa disinggahi kapan saja. Dendi dan Soka akan banyak menghabiskan waktu disini. Bertemu pelanggannya dan membuatkan mereka kopi terbaik versi kedai ini. Untungnya semua cekatan, Ida dan Lina bekerja sama dengan baik tidak sia-sia menerima mereka. Kalau sudah nyaman bekerja pasti lebih menyenangkan. Walaupun uang tabungan Dendi dan Soka habis digunakan modal usaha setidaknya mereka bisa bekerja menyenangkan seidealnya.
Kenyamanan yang seperti ini lah yang tidak mereka dapatkan saat bekerja di tempat orang lain. Aturan-aturan yang terlalu berlebihan, kreatifitas dibatasi dan bagi mereka keuntungan di atas segala-galanya. Bekerja tidak dengan hati ketika itu hanya sebatas meracik kopi saja. Tidak ada yang namanya kenikmatan dalam meracik kopi-kopi itu karena semua sudah diberikan takaran seefisien mungkin.
Kini kedai ini akan menjadi saksibahwa bekerja harus nyaman dan menyenangkan. Rekan kerjanya Soka, Ida dan Lia harus mendapatkan itu dulu agar selalu ada cinta di celah-celah kedai ini. Agar susah senang selalu menguatkan agar setiap ujian ada baiknya. Tidak ada bos yang ada pemimpin yang berani memberikan solusi dalam setiap permasalahannya.
Bagi Dendi dalam beberapa hari yang terlewati inibanyak pelajaran hidup yang ia dapatkan. Ditolak cintanya tidak harus sedih dan marah tapi harus bangkit dan membuat kedai kopi. Uang tidak harus ditabung melulu ada kalanya dihabiskan untuk membuat modal usaha. Teman atau sahabat ditempat kerja harus dipengaruhi untuk mengundurkan diri agar bisa membuat usaha sendiri.
v
Sore itu Nenek mengajak Dendi mengobrol berdua. Di teras rumah menjadi tempat kesukaannya berkeluh kesah. Berhari-hari sejak cintanya ditolak dan kesibukan di kedai baru sempat ia pulang mengunjungi nenek lagi. Kali ini nenek menyajikan teh manis isi jahe dan kue lapis lengit.
“Ini Den minum dulu” kata Nenek
“Makasi nek” kata Dendi
“Kau masih sedih?” tanya Nenek
“Sudah gak nek, sudah ikhlas” jawab Dendi
“Masak ikhlas bilang-bilang” kata Nenek
“Ya sudah Aku rela” kata Dendi
“Kenapa gak bilang sama nenek buat kedai?” tanya Nenek
“Maaf nek sekarang Aku kasi tahu” jawab Dendi
“Gak apa-apa Den kalau positif pasti nenek dukung” kata Nenek
“Makasi nek mohon doa restunya” kata Dendi
“Kok berani? Memang kau mengerti bisnis?” tanya Nenek
“Aku kan barista jadi kedai kopi perlu barista” jawab Dendi
“Ya nenek tahu tapi bisnisnya gimana?” tanya Nenek
“Apa susahnya menghitung uang nek? Kalau lebih dari modal awal berarti untung, gampangkan?” kata Dendi
“Kau selalu saja begitu menggampangkan semuanya” kata Nenek
“Gampang kok nek tidak usah khawatir” kata Dendi
“Hati-hati lo, anaknya temen nenek punya kedai kopi tapi susah berkembangnya” kata Nenek
“Itu kan anaknya temennya nenek bedalah dengan Aku” kata Dendi
“Susah ngomong sama anak muda” kata Nenek
“Gampang asal nenek mau mengerti, hehe” kata Dendi
“Kau ini Den terus tabunganmu cukup untuk usaha itu?” tanya Nenek
“Gak lah nek makannya Aku ajak Soka untuk gabung bersama” kata Dendi
“Kau juga yang ajak Soka resign?” tanya Nenek
“Ya pasti itu kan kita sahabat” jawab Dendi
“Lengkap sudah!” kata Nenek
“Apanya nek?” tanya Dendi
“Dua anak muda yang modal nekat buat kedai yang satunya baru patah hati yang satunya lagi tidak pandai berbisnis. Sempurna!” kata Nenek
“Salah nek,dua anak muda yang nekat buat kedai yang satunya pintar meracik kopi yang satunya lagi pandai meracik kopi juga” kata Dendi
“Bener juga ya, kan kedai kopi perlu barista” kata Nenek