SORE TERAKHIR

Rayasa Kherta
Chapter #17

NENEK DAN AYAH

Sebelum ibu meninggal ia sudah menitipkan Dendi kepada nenek. Dimintanya untuk mendidik dan diberikan petuah-petuah tentang hidup ini. Sebagai keluarga tentu nenek tidak keberatan, Nenek ikhlas demi Dendicucu satu-satunya yang ia miliki. Berkali-kali ibu berterima kasih kepada nenek, nenek hanya menjawab itu sudah kewajibannya. Lalu sesekali meminta maaf kepada Dendi lantaran tidak bisa menjadi ibu yang baik dan menjadi ibu yang selalu menguatkannya jika Dendi sedang bersedih dan terpuruk.

           Ibu juga berpesan agar ayahnya Dendi tidak usah dibebankan tentang hidupnya Dendi. Ibu tidak ingin Dendi mencampuri hidup ayahnya karena ia sudah berkeluarga lagi. Sudah merajut rumah tangga dengan istrinya yang baru. Dendi sebagai lelaki yang sudah dewasa harus bisa semandiri mungkin dan menjalani hidup sebaik-baiknya. Biarkan ayah menjadi bagian yang cukup ia tahu tidak usah berharap lebih. Walaupun selama ini Dendi dan ayahnya tidak pernah ada masalah apapun tetapi atas dasar tanggung jawab ia lalai dengan keluarga. Makannya ketika ibu masih hidup ia memutuskan untuk berpisah.

           Nenek sangat sedih ketika mendengar Dendi ditolak cintanya. Harusnya ia bisa bahagia dengan perempuan yang ia cintai tetapi belum diizinkan oleh Tuhannya. Nenek hanya merasa cobaan hidup datang bertubi-tubi kepada Dendi. Mulai dari ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi, cintanya ditolak hingga ia harus mengundurkan diri dari pekerjaanya. Sungguh itu bukan hal yang mudah untung saja Dendi tidak menjadi brutal dan prustasi akan hidupnya dan ntungnya lagi ia tahu cara bangkit dalam keterpurukan.

           Berkali-kali nenek mengingatkan apapun yang Dendi kerjakan pasti akan selalu direstuinya asal baik. Setiap malam nenek selalu berdoa agar kedai kopinya diberikan kelancaran dan rezeki yang melimpah. Dan juga siapapun jodoh cucunya nanti nenek mendoakan agar kebahagiaan senantiasa berada didekatnya. Lalu doa yang tidak kalah penting adalah untuk diri nenek sendiri. Ia meminta kepada Tuhannya agar jangan diambil dulu hidup dari raganya tunggu saat Dendi sudah hidup bahagia, nenek ingin menyaksikanya.

           Teras rumahnya selalu menjadi saksi bahwa sore selalu tenang dan tampak baik-baik saja. Tidak jarang di sore itu juga senyum nenek teriringi oleh tingkah laku burung yang beterbangan, capung yang lalu lalang dan pejalan kaki. Nenek menjadi penonton setia, nenek juga menjadi pengamat yang baik ketika sore tiba-tiba mendung lalu hujan ketika itu juga ia membuat teh jahe. Selalu saja begitu dari dulu katanya momen ini tidak boleh disia-siakan. Air hujan adalah kebahagiaan bagi pertiwi. Seperti manusia yang perlu minum seperti itu juga pertiwi yang perlu air. Nenek selalu punya caranya untuk berbahagia katanya semakin renta dirinya maka kebahagiaan itu harus mudah ditemukan. Intinya nenek menikmati sisa hidupnya.

           Lalu tentang nenek dan ayahnya Dendi sedari dulu memang begitu adanya. Nenek tidak pernah keberatan tentang apapun profesi mantunya itu. Sejak awal Bob alias I Made Sudaya menikahi anaknya tidak pernah mengungkit-ungkit tentang Bob yang menjadi musisi. Tetapi selalu nenek ingatkan untuk saling menjaga dan bertanggung jawab. Lalu ketika mereka bercerai nenek merasa gagal menjadi orang tua untuk anaknya dan mantunya. Berkali-kali nenek membujuk agar ibu dan ayah mempertahankan rumah tangganya dan berkali-kali juga nenek gagal meyakinkan. Nenek menangis pun dihadapan mereka tidak mengubah apapun. Ibu sudah bertekad meninggalkan ayah dan ayah juga begitu.

           Keluarga itu terguncang ibarat kapal yang sedang berlayar sang nahkoda pergi meninggalkan kapalnya. Ia memilih berlayar ke belahan dunia lainnya seorang diri. Saat itu juga kenyataan harus diterima, Dendi menjadi milik Ibu dan nenek. Sedangkan peran ayah diganti oleh ibu. Nenek hanya membenci sifatnya bukan orangnya. Lelaki tidak bertanggung jawab dan sering bingung akan memutuskan yang terbaik untuk keluarganya. Hanya itu yang nenek benci dari Bob, ayahnya Dendi.

           Tetapi sama sekali dalam waktu-waktu yang terlewati nenek tidak pernah melarang Dendi bertemu dengan Bob. Bagaimanapun juga Bob adalah ayahnya yang sah bagi Dendi, atas dasar apapun pertemuan itu diperbolehkannya. Nenek selalu bilang jika membenci orangnya maka sebagai anaknya Dendi tidak mengakui kebaikan ayahnya yang dulu-dulu.

           Nenek sering juga mengingatkan kesalahan orang tua tidak boleh diikuti anaknya. Jika Dendi melakukan kesalahan yang sama berarti ia sedang mengulang duka yang sama. Dendi harus bertanggung jawab dengan apapun itu setidaknya lelaki akan terhormat jika begitu. Ukuran kebahagiaan nenek adalah keluarga jika keluarga baik-baik saja maka jangan cemaskan rezeki untuk menyambung hidup. Apapun pekerjaannya akan mempunyai kesempatan yang sama di hadapan Tuhannya masing-masing.

           Dendi tidak harus meminta izin kepada nenek untuk bertemu ayahnya. Silakan bertemu kapanpun itu dan dimana saja itu baik untuk mereka! Mereka harus sering bertemu mengingat nostalgia masa dulu. Tentang Dendi yang waktu SD selalu diantarkan ayahnya pergi ke sekolah. Kalau tidak diantarkan ia tidak mau ke sekolah.

           Entah kenapa harus begitu yang pasti dulu Dendi dekat dengan ayahnya. Sosok ayahnya menjadi idolanya. Dendi sangat menyayangi ayahnya ketika itu Dendi diantarkannya dengan sepada. Dendi diboncengnya di depan sementara ayahnya mengayuh terus menerus. Sepanjang perjalanan ayah selalu mengajaknya bercerita entah itu tentang layangan kemarin sore atau rencana manncing di hari minggu. Mungkin hal itu yang membuat Dendi ingin selalu diantarkan ke sekolah oleh ayahnya.

           Lalu cerita tentang makan malam selalu menjadi kenangan yang manis. Ibunya jago masak bahkan sayur singkong dan perkedel jagung bisa jadi makanan lezat di meja makan. Dendi lahap menyantapnya sedangkan ayah dan ibu ketika itu bahagia dengan rumah tangganya.

           Saat-saat seperti itu harus selalu dikenang oleh Dendi dan Bob, ayahnya. Makannya nenek tidak pernah melarang pertemuan mereka. Nenek menjadi saksi hidup perjalanan rumah tangga itu bahkan nenek pula menjadi saksi hidup kehancuran rumah tangga itu.

           Perbincangan Ayah dan anak harus sering terjadi apalagi Dendi sudah dewasa saatnya ayah menjadi teman yang baik untuk dirinya. Memang ayahnya sudah berkeluarga lagi tetapi Dendi hanya manusia biasa yang ingin seperti anak yang lainnya. Bertemu ayahnya tidak harus berlama-lama yang penting mereka saling berprasangka baik tentang dirinya masing-masing.

 

           Di suatu sore yang disibukkan dengan rutinitas di kedai ayah menelepon katanya ayah ingin ketemu dengan Dendi hanya basa-basi dan ingin mengobrol saja. Dendi pun menyanggupi permintaan ayahnya itu. Selang setengah jam kemudian ayah datang. Dendi menyambutnya di depan kedai.

           “Ayah, kita ngobrol di dalam saja” kata Dendi

           “Ok Den”kata Ayah

           “Ayah mau minum apa?” tanya Dendi

           “Ayah mau kopi yang terbaik buatanmu Den” jawab Ayah

           “Capuccino, Americano, single espresso atau double espresso?” tanya Dendi

           “Yang terabaik saja” jawab Ayah

Lihat selengkapnya