Pagi-pagi Dina pergi ke kedai maksud hati ingin menemui Dendi. Berdalih ingin membantu kerjaan disana, Dendi malah tidak suka dibuatnya. Dendi risih kenapa Dina harus sebegitu merasa bersalahnya. “Sudahlah yang sudah terjadi biarkan begitu saja, kau menangis darah pun tidak akan mengubah apapun.” Kata Dendi
Dina tidak menghiraukan apa yang Dendi bilang. Ia mengerjakan saja apa-apa yang bisa dibantu. Soka menyuruhnya untuk merapikan meja di depan setelahnya disuruh mengambil pesanan biji kopi. Dendi tidak setuju dengan itu! harusnya ia yang mengambilnya. Itu memang kerjaan Dendi karena memilih biji kopi bukan urusan orang awam.
“Aku juga berhak menyuruh siapa saja kan? Bukankah Aku pemilik kedai ini juga?” kata Soka
“Tapi kan kau tahu Sok itu kerjaanku” kata Dendi
“Kalau mau silahkan berangkat berdua kalau tidak biarkan Dina saja” kata Soka
“Tapi Sok” kata Dendi
“Kita buka 30 menit lagi jangan buang-buang waktu” kata Soka
“Sial!” kata Dendi
Mereka akhirnya pergi berdua Dendi membonceng Dina. Sepanjang jalan tidak berbicara hanya saling memperhatikan saja. Sesekali Dina bertanya tentang bagaimana membedakan kopi kualitas baik dan tidak baik, tapi dia bilang itu bukan urusannya. Jadinyamereka terdiam sepanjang perjalanan. Dendi terus saja ketus dan Dina tetap bersabar.
Sampai sore di kedai Dina sudah seperti karyawannya saja. Ida dan Lina merasa terbantu dengan hadirnya Dina. Mereka bertiga sudah seperti satu tim saja. Sebenarnya Dina memberi warna baru di kedai pengunjung bertanya-tanya siapa perempuan cantik ini. Pengunjung betah walaupun beberapa kali ada pengunjung ingin berkenalan dengannya tapi Dina hanya tersenyum saja tetap ramah dan menghargainya.
Dari meja bar Dendi tidak menghiraukannya ia tetap saja ketus. Sesekali berbisik kepada Soka kenapa dia bisa disini hari ini.
“Apa yang dia mau sebenarnya?” tanya Dendi
“Apa?” kata Soka
“Ya, apa? Dia jadi karyawan kita?” tanya Dendi
“Ya, kenapa?” kata Soka
“Lama-lama kusiram air panas kau Sok!” kata Dendi
“Kenapa? Orang Aku yang nyuruh Dina kesini kok” kata Soka
“Buat apa?” tanya Dendi
“Buat bantu-bantu disini” kata Soka