Selalu saja pada sore yang bersahaja Dendi menjadi tenang dan nyaman. Kali ini duduk di pantai seorang diri menunggu Dina datang. Mereka sudah berjanji untuk bertemu dan berbicara sebagai manusia yang sudah dewasa. Gugup sudah pasti grogi apalagi. Segala ego dan benci semoga saja tidak datang dalam obrolan ini. Dendi hanya perlu jujur dan tidak usah mengingat soal patah hati itu lagi.
Dina datang seorang diri memakai baju merah. Dendi menyapanya lembut sebagaimana sore yang bersahaja ini. Dina duduk di samping setelahnya belum terjadi obrolan apapun. Mereka hanya memandangi luasnya lautan dengan ombak yang tenang. Seperti kata Putu dan Ngurah, lelaki harus menghargai perempuan dalam hal apapun maka Dendi mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan kabarnya. Dina menjawab apa yang ditanyakannya. Hingga akhirnya suasana itu tidak membosankan.Memang sebulan sudah Dina tidak bertemu Dendi. Selama itu pula ia tidak pernah ke kedai lagi. Jujur sebenarnya Dendi kangen ada Dina di kedai dan kini Dina telah duduk di sampingnya. Seharusnya Dendi bisa bertanya apapun semaunya ke Dina langsung.
Dendi sengaja mengajaknya bertemu di pantai agar semuanya dikatakan dengan tenang. Ia tahu sebagai lelaki sifatnya selalu marah ketika hatinya merasa dipermainkan. Padahal belum tentu demikian adanya. Sore inilah semua hal itu sebaiknya dikatakan langsung sebagaimana lelaki dewasa dan perempuan dewasa.
Dendi meminta maaf akan semua yang terjadi akan dirinya yang memendam amarah itu. Jujur ia katakan bahwa mencintai Dina adalah impiannya sejak dulu sejak mereka masih bersekolah. Pun, ketika malam itu ia menyatakan cinta memang benar adanya. Tidak mudah hingga sampai hari ini menyimpan amarah berbalut cinta yang tidak ada hentinya. Kadang marah dan kadang rindu hingga akhirnya sering menjadi tidak enak hati bercerita tentang cinta-cinta melulu. Entah cerita itu ia sampaikan kepada Putu, Ngurah, Soka, Lestari atau Nenek.
Dina juga berterus terang soal apa yang sudah terjadi. Dina bilang penyesalannya selalu datang terlambat. Ia kira Gilang lelaki yang ada di doa-doanya ternyata bukan, ternyata Dina salah! Waktu yang membuktikan bahwa cintanya berlabuh di tempat yang bukan semestinya. Lalu maksud hati menemui Dendi ingin berterus terang dengan semua ini tapi Dina sadar lelaki sepertinya mempunyai prinsip dan komitmen. Sempat berpikir kalau Dendi tidak akan mungkin mau mengenalnya lagi. Hingga akhirnya memberanikan bekerja di kedai selama seminggu untuk meminta maaf dengannya. Semua itu pun gagal didapatnya sejak saat itu juga sebenarnya Dina sudah ingin merelakan apa yang menjadi penyesalannya.
Soal cinta sebenarnya Dina juga mencintai Dendi sering bersama hingga akhirnya ia tidak tahu membedakan mana cinta dan mana nyaman. Lalu saat itu Gilang datang sebagai lelaki yang baru di hidupnya. Ia datang hanya memberi warna yang berbeda saja soal menghargai dan mencintai sudah pasti Dendi yang sebenarnya.