Mata adalah cermin. Pada akhirnya kau melihat pantulan dirimu sendiri pada orang lain. Mata adalah... harta.
"Motor butut sialan! Jangan mogok lagi! Sudah jam delapan. Jalan Mawar pasti sudah padat," Jarot membatin. Dia terlalu ceroboh. Motor bututnya menyenggol wanita tua yang lelet. Jarot hanya melayangkan jari tengah. Jalan Mawar yang berliku dilewatinya dalam waktu tempuh dua puluh menit. Dia sampai.
“Ruangan VVIP 4A? Silakan Bapak belok kiri, lalu kemudian lurus. Kemudian belok kanan.”
"Belok kiri, lurus, belok kanan." Jarot melewati para suster yang santai. Ini bukan jam sibuk, kah?
Kemudian dia sampai. Pintu ruangan VVIP itu dibuka.
“Kau pikir saja sendiri!”
Dua orang yang sedang berdebat itu terdiam ketika melihat Jarot masuk.
“Siapa kau?”
“Jarot. Detektif Jarot.”
“Oh.”
“Anda...”
“Lukman, seperti apa detektif Jarot ini?”
“Anak muda. Banyak gaya. Ceroboh.”
Jarot mengambil kursi dan duduk. “Pak Parman, saya ditugaskan untuk menangani kasus Anda.”
“Kau dengar itu, Lukman? Polisi mengirim anak muda buat menyelesaikan kasus ini. Hahaha.”
“Ehm... Detektif Jarot. Gender lelaki. Umur 24. Pencapaian terbesar menangkap teroris yang mengebom Gedung Tanduk Rusa.”
“Kau membicarakan profilmu sendiri, Jarot? Kau hobi sekali menyindir.”
“Aku bisa membacakan semua detailnya. Mengingat Anda tidak bisa...”
Lukman tertawa keras. “Lihatlah bedebah ini.”
Parman menepuk paha Lukman, meminta air putih.
“Itu hanya air putih. Jangan menyesapnya kayak brendi.”
"Detektif Jarot, apakah Anda sudah punya tersangka? Siapa yang mencuri mataku?" Suara Parman menggema. Jarot melirik Lukman, kemudian beralih ke Parman.
“Jangan kau cuma memandangi aku saja. Jawab!”
Lukman, yang berada di sebelah kiri ranjang, mengajak Jarot keluar. Mereka singgah dan duduk di warung kopi dekat rumah sakit.
“Pak Lukman, apakah Anda kerabat?”
“Tidak.”
“Berarti, Anda detektif swasta.”
“Aku terkejut kau belum pernah mendengar tentang aku. Yah, wajar saja. Aku sibuk membersihkan wilayah timur beberapa tahun ini.”
“Membersihkan?”
“Apa yang kamu tahu... soal supranatural?”
Jarot mengeluarkan bungkus rokoknya, rokok kretek yang usang. Lukman menawarkan rokok mild-nya alih-alih. Jarot mengambil rokok itu dan membakarnya.
“Sesuatu yang tak bisa dinalar. Tetapi sesuatu yang bisa dibantah.”
“Benar.”
“Aku ingat ketika dulu, aku pergi menjenguk kerabat yang sakit. Dan sebagaimana anak-anak, bermain tak peduli di mana pun. Jadi, saat itu aku melihat ada sosok kerdil yang mengikuti seorang anak kecil. Itu pertama dan terakhir aku melihat hantu. Mungkin aku hanya berhalusinasi. Ya, toh waktu itu aku masih kecil.”
"Aku melihat wanita yang tiba-tiba mendarat," Lukman mengetuk rokoknya. “Mendarat ke sebuah pohon ceri. Lalu dia bangkit. Habis itu dia hilang. Sejak saat itulah, aku terus menemui hal-hal supranatural.”
"Jadi, apakah hantu yang mencuri mata Pak Parman?" tanya Jarot.
“Tidak harus hantu. Tetapi, ada kemungkinan sesuatu yang berbau mistis. Praktik tertentu.”
Jarot menyesap kopi hitam tanpa gula itu. Matanya mengernyit, desahan kecil keluar dari mulutnya.
“Ah... nikmat.”
“Kopi tanpa gula, ya.”
“Rasanya pahit, kok.”
Mereka berdua tertawa.
“Sejujurnya, Pak Lukman. Aku memiliki pemikiranku sendiri. Pak Parman adalah seorang dengan posisi yang amat tinggi. Jadi, matanya dicongkel dan digunakan untuk membuka akses sebuah pintu atau dokumen, atau apa pun itu.”
“Kenapa harus dua mata? Kenapa tidak jarinya saja?”