Rumah itu cukup klenik. Ada berbagai benda-benda pengusir bala dan setan. Meja makannya bundar. Lauk-pauknya adalah olahan masakan laut.
"Sudah lama aku tak makan makanan laut. Jadi ingat kampung halaman," ucap Jarot.
“Istriku baru saja pulang dari kampung.”
"Ikan bawal nya enak sekali," ucap Jarot.
Putra-putri Lukman duduk dengan nyaman dan rapi. Mereka makan dengan lahap.
"Om Jarot, Om pernah pegang pistol asli?" tanya putra Lukman.
“Pernah.”
“Pernah menembak penjahat?”
“Penjahat yang pernah menembak Om, haha.”
“Om kok masih hidup?”
"Malik!" sergah istri Lukman. Wanita itu menyergah dengan lembut.
"Karena Om sakti. Om punya ilmu kebal," jawab Jarot.
"Ayah juga punya ilmu kebal." Giliran putri Lukman, Malika yang melempar obrolan.
Lukman dan istrinya hanya tertawa.
"Ayah ini kebal santet, bukan kebal peluru," ucap Lukman.
Jarot membantu keluarga Lukman beres-beres. Kemudian mereka ngopi di teras.
“Sudah kutanya kawanku. Anton itu asli orang kota ini.”
“Lokasinya sekarang?”
"Lagi dicari," ucap Jarot.
"Ngomong-ngomong, kamu beneran punya ilmu kebal kah?" tanya Lukman.
“Tentu tidak. Kalau punya, aku akan asal masuk ke perangkap penjahat.”
"Begitu ya, kalau aku sih beneran punya," ucap Lukman santai.
Jarot hanya diam. Menyesap kopi pahit itu dengan khidmat.
“Susah sekali aku memeriksa background Pak Parman.”
"Aku akan minta tolong temanku. Pangkatnya tinggi," ucap Lukman.
“Aku merasa... Mungkin dia terlalu sok. Jadi banyak orang yang tidak suka.”
“Tentu. Dia memang sok.”
“Tapi... Kenapa dia masih hidup? Maksudku, selain karena kasus merepotkan ini, sudah pasti banyak orang yang akan menjauhinya.”
“Kekuatan. Mereka memegang itu. Kalau bisa mencongkel mata tanpa ketahuan, maka membunuh itu hal gampang. Lalu... Buat Parman menjadi paranoid, biarkan saja Parman bunuh diri. Ajeng pasti bilang kalau Parman disantet, haha.”
"Apakah Anda sudah memeriksa dokter bedah di kota ini? Salah satu dari mereka pasti terkait," ucap Jarot.
“Sedang dikumpulkan sama rekanku. Satu-satu dulu kita telusuri.”
Kemudian telepon genggam Jarot berbunyi.
"Halo... Iya... Oh... Jalan Angsapuri? Oke, oke. OTW. Apa?!... Eh... sialan!" Jarot kemudian menutup teleponnya.
"Jalan Angsapuri cuma tiga kilometer dari sini," ucap Lukman.
“Benar. Dan mereka mengirim seorang pengawas.”
“Buat?”
“Mengawasiku.”
“Kau bertindak terlalu jauh sebelumnya, ya?”
“Sialan! Masalahnya adalah, dia yang bertanggung jawab dalam interogasi.”
“Kau tak yakin dengan rekanmu?”
Mereka berada di tepi jalan besar. Seorang rekan datang menyapa Jarot.
“Bang Jarot.”