Jarot makan mi ayam dengan rakus. Dengan teh dingin dua gelas, dia menyelesaikan ritual kehidupan itu. Dia membakar rokok mild milik Lukman. Rokok kreteknya sudah mulai berat di dada.
"Anak-anak Anda sudah kelas berapa?" tanya Jarot.
“Sudah kelas 5 SD.”
“Badan mereka tinggi. Anak zaman sekarang...”
“Yang satu mau jadi dokter. Yang satu mau jadi insinyur.”
"Insinyur? Anak kecil sudah tahu soal insinyur? Cita-cita waktu kecil mau jadi presiden. Lalu kemudian astronot. Kemudian pilot," ucap Jarot.
“Dia pintar.”
Kemudian telepon Jarot dan Lukman berdering.
"Ah, mereka mengirim foto-foto TKP padamu juga?" ucap Jarot.
“Momen tak pas. Aku baru saja selesai makan.”
Mereka terus memandangi foto-foto TKP di ponsel mereka.
Mata Lukman semakin menyipit, kemudian dia minum air putih, berdiri, dan membayar makanan mereka.
"Ikut aku ke rumah sakit," ujar Lukman dengan terburu-buru.
"Parman, kau pernah pergi ke Kota As? Proyek apa yang kau lakukan di sana?" ucap Lukman.
"Pembangunan vila, resor. Ah ngomong-ngomong aku dengar berita di TV, mataku sudah ketemu. Sudah rusak, ya?" ucap Parman.
"Parman, apa yang kau lihat?!" suara Lukman membentak.
"Aku lihat banyak hal, sialan! Dan mungkin ada beberapa hal yang memang ingin kulupakan. Entahlah!" ucap Parman.
"Sialan kau!" sergah Lukman.
"Vila, resor... Apakah lokasinya terpencil?" tanya Jarot.
"Aku sudah lupa. Apa lagi masalahmu? Tugasmu sudah selesai, Jarot!" bentak Parman.
Jarot dan Lukman akhirnya diusir oleh petugas karena terlalu berisik.
"Mau berangkat ke sana? Kota As cukup jauh. Dua hari baru sampai," ucap Jarot.
“Aku punya firasat.”
"Firasat?" tanya Jarot.
“Sekte.”
Jarot membisu.
"Maksud... Maksud Anda...?" Jarot mulai memandang sekeliling.
“Kita bicarakan di rumahku.”
"Sebelum ke sana, aku berencana untuk menyelesaikan beberapa petunjuk yang masih buntu. Siapa yang melakukan operasi? Siapa yang menghipnotis?" ucap Lukman.
“Lalu, sekte?”
“Parman melihat sesuatu. Ritual. Ada kemungkinan kalau dia... Mengganggu ritual tersebut. Ada kemungkinan kalau dia tahu siapa saja pihak yang terlibat. Lalu berkas yang dikunci... Berkas yang menunjukkan proyek, lokasi tempat ritualnya.”
"Dugaan Anda liar sekali," ucap Jarot.
“Memang, cukup liar.”
"Mari kita susun satu-satu. Jadi mata Pak Parman dicuri, maka tak ada yang bisa mengakses berkas rahasia. Pak Parman cukup paranoid ternyata. Menggunakan matanya, matanya sendiri, satu-satunya akses. Ada berkas proyek yang bisa kuasumsikan, proyek lama, yang di mana ternyata proyek itu berdekatan, atau bisa jadi proyek itu adalah lahan ritual. Mungkinkah... Adakah kemungkinan kalau Pak Parman sendiri yang mencongkel matanya? Dia terlalu paranoid," ujar Jarot panjang lebar.
“Bisa jadi.”
“Kalau begitu, kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu?”
“Entahlah.”
"Sialan si tua Parman! Apa dia mempermainkan aku, mempermainkan kita selama ini?!" jerit Jarot.
"Apa dia anggota sekte itu juga? Sialan, sialan, sialan!" lanjut Jarot.
"Pelankan suaramu! Anakku lagi tidur," ucap Lukman. Mereka akhirnya pindah ke sebuah kedai kopi yang sepi, sambil membawa beberapa berkas.
"Memang harus ditelusuri dulu. Aku sudah mendapatkan nama-nama polisi yang memberikan pembinaan di malam itu. Kita bisa mulai dari sana," ucap Jarot.
“Crosscheck nama-nama mereka dengan nama-nama dokter bedah. Cek kaitan mereka.”
"Mungkin mereka sudah menghapus jejak," ucap Jarot.
“Coba saja, kita kembali ke awal. Pertama, timeline-nya kemungkinan besar subuh atau dini hari. Anton dan petugas misterius menghipnotis kediaman Parman, mengantar Parman kembali ke ranjang tidur. Esok harinya Parman sadar kalau matanya hilang. Nama-nama petugas yang memberi pembinaan; Guntur, Elang, Awan.”
“Nama-nama dokter bedah terkemuka; Justin, Priscilla, Asep, Alexander.”
“Cek riwayat pendidikan mereka sampai SMA.”
Mereka mulai membedah berkas-berkas yang menumpuk di depan mereka.
“Hobi mereka.”
“Postingan mereka, apakah mereka saling kenal.”
Mereka menghabiskan waktu sampai subuh. Mereka masih belum menemukan kecocokan. Mereka mengalami kebuntuan.