Sorot

Duntres
Chapter #4

Siapa yang membunuh Awan Part 1

Lelaki paruh baya itu masuk dengan tergesa. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala kecil saat menerima sapaan dari rekan kerjanya.


“Sudah kau cek alibi begundal itu?”


“Sudah. Dia bersih, Pak.”


“Serius, kau bilang dia bersih?! Mana ada begundal yang bersih!”


“Eee...”


Seorang pria dengan pangkat tinggi datang menepuk pundak perempuan yang sedang gugup itu.


“Anis, tolong segera rampungkan kasus milik Alan.”


“Baik, Pak Rustam.”


"Kenapa Anis yang mengurus kasus Alan? Di mana Jarot?" lelaki paruh baya itu menyela.


“Kuberi dia istirahat. Anak itu sedang tak stabil.”


“Kau pikir Anis bisa menanganinya?”


“Bisa. Yah, kurasa Jarot sudah menyelesaikan sebagian besar petunjuknya. Ngomong-ngomong, Sapar, aku sudah menunjuk rekan baru untukmu.”


“Rekan?”


“Anak muda.”


"Anak muda?" Sapar mengernyit.


“Baru selesai sekolah lanjutan. Dia butuh pengalaman.”


“Tak semua anak muda bisa diandalkan seperti Jarot.”


“Baguslah kalau begitu. Aku tak mau terlalu banyak anak muda yang punya tingkah laku kayak Jarot di sini.”


Sapar, detektif paruh baya dengan kemeja kotak-kotak yang dibalut mantel hitam usang, duduk di sudut kantin sambil membaca berkas. Seorang anak muda berambut klimis, dengan jenggot dan kumis yang tercukur sangat rapi, duduk tegap di depannya.


“Pak Sapar, saya Tirta. Mulai hari ini saya akan bekerja sebagai rekan Anda.”


Sapar melirik dari balik map berkas yang menutupi separuh wajahnya. Ia menurunkan berkas itu ke meja, lalu menyodorkannya pada Tirta.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Sapar datar.


Tirta mengambil berkas itu dengan cermat. Matanya bergerak membaca cepat.


“Penyiksaan tak wajar. Metode ini memang sangat mirip dengan yang biasa dilakukan oleh Kelompok Mar.”


“Lalu?”


“Berdasarkan laporan forensik, korban dipukul pakai benda tumpul. Ada residu logam yang tertinggal.”


“Lalu?”


“Eee...”


"Sudah cukup soal dampak lukanya. Sekarang kita beralih ke identitas. Kenapa dia disiksa?" potong Sapar.


“Dia... seorang agen ganda.”


Sapar tertawa keras hingga beberapa orang di kantin menoleh.


“Tak memakai kata mungkin. Kamu percaya diri sekali. Oke, oke, berarti katamu dia agen ganda, kemudian identitasnya terungkap, lalu dia disiksa?”


“Benar.”


“Lalu apa hubungannya dengan Parman? Kenapa mayatnya ditemukan bersama bola mata milik Parman?”


“Dia... terlibat dalam satu kelompok sindikat yang sama dengan pelaku pencurian mata Parman.”


Sapar bersandar, menatap rekan barunya itu dengan geli.


“Ayolah... Itu kan pernyataan resmi kepolisian. Jurnalis amatir tahu itu, kakek tua yang masih menonton TV di rumah juga tahu itu. Dengar, kamu sudah melakukan hal yang benar. Membacakan laporan forensik, menyodorkan bukti nyata, itu benar. Tapi... coba kamu sedikit lebih kreatif.”


"Sejauh ini kan hanya intel ini yang baru kita dapat. Saya tidak berani mengada-ada," jawab Tirta kaku.


“Yang menyuruhmu mengada-ada siapa? Hahaha, kamu ini lucu.”


“Saya tidak mengerti, Pak.”


“Pertanyaan. Mulailah dari melontarkan pertanyaan. Kamu sudah belajar soal ini di sekolah, kan? Ayo, aku mau lihat.”


“Pertanyaan?”


“Bukti, fakta, keterangan saksi, bukankah di atas kertas semua sudah ada? Yang jadi pertanyaan adalah mengapa. Tanyakan pertanyaan yang tepat.”


"Apa motifnya?" ucap Tirta mencoba menebak.


“Kamu ini bagaimana? Bukankah tadi kamu dengan yakin bilang kalau dia adalah agen ganda? Coba kamu katakan padaku, kenapa dia bisa menjadi seorang agen ganda?”


“Polanya mengatakan begitu. Kalau tidak, alasan logis apa lagi?”


“Bisa kamu pegang perkataanmu itu?”


"Saya harus menggali latar belakang Awan lebih dalam dulu," putus Tirta akhirnya.


“Bagus. Kerjakan.”

Lihat selengkapnya