Di warung kopi, Tirta dengan sok memesan kopi pahit, berniat menyamai Sapar. Namun pada akhirnya, dia harus meminta tambahan gula.
"Aku mulai minum kopi pahit gara-gara Jarot. Berandal itu suka sekali kopi pahit," ucap Sapar.
"Aneh rasanya," keluh Tirta. Tirta terus-menerus memeriksa berkas. Kemudian, di balik asap rokok yang melambung, dia menunjukkan sesuatu pada Sapar.
"Awan disiksa dulu? Coba lihat foto ini."
Sapar memindai foto yang ditunjukkan Tirta.
"Darah di pintu masuk, sampai ke tempat gantung diri, hanya sedikit. Darah di bawah tempat gantung diri justru lebih banyak."
"Dan lagi... tidak ada indikasi pembobolan. Kerja bagus menanyakan soal teman Awan tadi. Instingmu bagus. Bisa jadi pelakunya kenal dengan Awan," ucap Sapar.
"Aku bukan ahli cipratan darah. Mungkin analisisku salah," ucap Tirta ragu.
"Tidak. Firasatku bilang kamu benar."
"Tapi... laporan dari petugas..."
"Memang kalau dilihat secara akal, disiksa dulu baru digantung adalah hal yang masuk akal."
Telepon Tirta berdering. Ia mengecek layarnya.
"Sudah dapat alamat Pak Aris."
"Pesulap."
"Ada hubungannya dengan kenapa Awan bisa jadi ahli hipnotis?" tanya Tirta.
"Lihat anak kecil tadi. Ahli mencopet. Firasatku bilang kalau si Awan terlibat suatu pencurian. Bukan dengan kelompok kriminal lama, tapi pendatang baru," balas Sapar.
"Pencurian?"
"Entahlah, hanya firasatku saja. Coba kamu pikirkan, kalau memang benar pemilik kos dan penghuni kos lain tidak bisa mengingat Awan, atau katakanlah mereka kena hipnotis, kenapa Awan melakukan itu? Biar tak dikenal? Kenapa harus tak dikenal? Dia pasti sedang melakukan sesuatu."
"Tetapi dia bersih."
"Mari kita tanyakan pada Aris."
Kedai itu menjual beragam jenis jam. Kebanyakan jam dinding yang terbuat dari kayu. Beberapa pejabat dan polisi, dinilai dari seragam mereka, tampak bercakap-cakap dengan si penjual. Ketika Sapar dan Tirta masuk, gerombolan polisi dan pejabat itu sudah bubar.
"Banyak anak-anak di luar," ucap Sapar.
"Anak-anak punya semacam keterikatan dengan waktu. Mandi, makan, tidur, semua diatur oleh orang tua. Tapi mereka tidak dikejar waktu; mereka belum kabur dari jeratan waktu," sambut pria pemilik kedai itu kalem.
"Omongan yang bagus, Pak Aris," ujar Tirta.
"Kau tahu apa yang terjadi pada salah satu anak muridmu, Awan?" tanya Sapar.
"Anak yang malang. Dia berbakat."
"Berbakat dalam hal apa? Sulap atau mencuri?"
"Mencari pelanggan."
"Apa Awan menemuimu sebelum dia meninggal, Pak Aris?" tanya Tirta.
"Ada, dia cerita banyak. Soal bagaimana dia mendapatkan gadis-gadis kelas atas itu."
"Gadis?"