Sorot

Duntres
Chapter #6

Siapa Yang Membunuh Awan (Closed)

"Bagaimana, apa si bajingan itu sudah bicara?" tanya Tirta kesal. Kepalanya kini dibalut perban kasar.


“Aku menunggumu. Ayo.”


Mereka masuk ke ruang interogasi.


"Pian, karyawanmu melihat kau pergi bersama Awan saat malam kematiannya. Kata karyawanmu, kamu bertengkar keras dengan Awan," cecar Sapar.


"Karyawan sialan! Percuma saja kugaji. Tak bisa jaga mulut," umpat Pian.


"Gosip adalah hal yang membuat hiburan malam tetap hidup, Pian," ucap Sapar tenang.


“Jadi...”


"Aku mau menunggu pengacaraku!" gertak Pian.


"Pian, Pian, Pian. Orang-orang Kota As. Kenapa kalian pindah kemari? Tahukah kalian kalau keluarga penguasa lama tidak suka dengan kalian?" ucap Sapar.


“Orang-orang kolot, tak bisa menerima pesaing.”


“Pian, sejak kapan kamu kenal dengan Awan?”


“...”


“Aku bisa membawa saksi. Saksi yang melihatmu berkunjung ke kos Awan.”


“...”


“Ayolah, bapakmu mungkin seorang bos. Tapi kamu... kamu hanya anak-anak. Bermain di istana redup yang kau sebut kelab itu. Katakan padaku, berapa banyak orang yang sudah kau bunuh sebenarnya?”


“...”


“Yah, kalau kau diam saja begini, nantinya pasti ketahuan juga. Kami akan menyelidiki latar belakangmu. Dan yang terpenting... keluargamu. Bapakmu. Jika kami memperdalam kasus ini, bayangkan berapa banyak kejahatan bapakmu yang akan ikut terseret? Kau mungkin bisa bebas, ada kemungkinan hukum untuk itu. Tapi ketika kami sudah dapat izin dari hakim untuk memeriksa ayahmu, percayalah, dia tidak akan bisa tidur tenang.”


"Sialan kau! Kau bekerja untuk keluarga lawan!" pekik Pian ketakutan.


“Aku bekerja untuk kepolisian.”


Tirta memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Kalau saja dia tidak berusaha menjaga ketenangannya sebagai aparat, dia pasti sudah melompati meja dan menghajar Pian.


"Kau punya adik? Atau kakak?" pancing Sapar.


"Jangan bawa-bawa mereka!" Pian menjerit histeris.


“Kalau begitu, kamu bukan prioritas bapakmu. Kau bisa saja dibuang. Anak gagal yang ceroboh. Pilihannya hanya dua, kamu yang membusuk atau bapakmu.”


"Pastikan... pastikan keluargaku tidak ikut campur. Jangan serang keluargaku, tolong katakan itu pada keluarga penguasa yang lain," Pian akhirnya memohon dengan suara bergetar.


“Yah, kalau situasinya begini, kurasa bapakmu akan memilih pergi dari kota ini saja. Jika dia berbaik hati, dia mungkin akan menyogok orang dalam untuk membuat hidupmu sedikit nyaman di penjara.”


Pian meminum air putihnya dengan rakus, lalu menghisap rokok yang disodorkan Sapar.

Lihat selengkapnya