Kelas 8E

Suasana kelas 8E yang tadinya bising mendadak senyap saat suara dengung dari pengeras suara sekolah berbunyi.
"Kepada seluruh siswa-siswa kelas 8 harap segera menuju aula. Akan ada pengumuman penting" ucap seseorang melalui speaker sekolah.
Aera yang sedang tertidur pulas di bangkunya langsung terbangun. Ia perlahan membuka mata dan menatap kosong ke depan kelas yang mulai sepi karena murid-murid lain langsung berhamburan keluar.
Huh? Pengumuman apa lagi, sih? batin Aera kesal sambil meregangkan otot-otot lehernya. "Males banget deh... pasti yapping enggak jelas," gerutu Aera lesu, tidak peduli meski beberapa temannya mendengar.
Dengan langkah gontai dan malas, ia berjalan keluar kelas. Aera menuruni anak tangga satu per satu dengan lesu, lalu melangkah membelah koridor menuju ke aula sekolah.
Lima belas menit kemudian, Aletha berjalan tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia melangkah ke arah koridor sebelah kanan, lalu masuk ke dalam kelasnya yang tampak sepi.
Setelah meletakkan tasnya di atas meja, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kosong itu. Mana ya yang lain? Kok orang-orang pada nggak ada? batin Aletha heran.
Tiba-tiba, ponsel dari saku seragamnya bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Aera masuk.
"Tha, lo di mana? Semua anak kelas 8 disuruh kumpul di aula sekarang. Buruan turun, sebelum pintu aula ditutup!"
Membaca pesan itu, Aletha bergegas.
Tanpa membuang waktu, ia berbalik arah dan bergegas berlari turun menuju aula untuk mengikuti pengumuman penting tersebut sekaligus mencari keberadaan Aera.
Beberapa saat kemudian,
Sesampainya di Aula
Sesampainya di aula, ruangan besar itu sebagian besar telah dipenuhi oleh deretan bangku yang terisi penuh oleh para murid.
Aletha berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan. "Di mana ya barisan kelas 8E?" gumamnya. Ia mulai berjalan menyusuri deretan bangku dari barisan belakang sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Oh, itu dia!"
Aletha melangkah mendekat secara perlahan agar langkah kakinya tidak terdengar. Tangan kanannya terangkat, bersiap di atas bahu Aera. "DOR!"
"AHH! Mama takut...!" teriak Aera kaget setengah mati. Ia sempat lonjak sedikit dari kursinya dengan tangan spontan mencengkeram dadanya yang berdegup kencang. Begitu ia menoleh ke belakang, ia mendapati Aletha sedang tertawa kecil tanpa dosa.
Ya Allah... masih pagi malah dikasih jumpscare murahan, batin Aera kesal dalam hati. Aletha langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong sebelah kanan Aera.
"Ra... kenapa sih kita tiba-tiba disuruh ke aula?"
"Nggak tahu juga, nih. Mendadak tadi ada pengumuman penting lewat spaker," jawab Aera mengedikkan bahu.
"Oh, begitu ya..." Aletha mengangguk-angguk setelahnya ia diam.
BZZZ!
Seketika lampu aula meredup secara serentak, membuat suasana ruangan menjadi agak gelap dan senyap.
Sedetik kemudian, proyektor hologram di atas panggung menyala terang. Cahaya birunya memantul ke udara, membentuk proyeksi logo sekolah yang berputar lambat.
Kepala Sekolah melangkah ke tengah panggung. Beliau menggemgam mikrofon, lalu berbicara dengan suara tenang namun tegas yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Selamat pagi, anak-anak. Tahun ini, hanya ada dua siswa kelas delapan yang terpilih secara khusus untuk mengikuti Program Soul Bond Drive. Kepada kedua siswa yang namanya terpilih, tolong segera mengikuti Ibu Guru BK."
Begitu kalimat Kepala Sekolah berakhir, proyektor hologram di atas panggung mendadak memancarkan cahaya yang lebih terang. Cahaya itu membelah udara, menampilkan visual kendaraan serta nama siswa yang terpilih dalam ukuran besar di layar utama.
1. AERA ELARA VANCE - VULGARD | BMW M4 COMPETITION
Buku kecil di tangannya jatuh ke lantai. Tatapannya kosong, kepalanya sedikit miring.
βHuh? BMW M4?! Vulgard?!β
Ia menepuk bahu Aletha hingga tubuh temannya itu sedikit bergoyang di kursi.
βTha, lihat. Namaku ada di situ. Itu aku, kan?!β Ia menunjuk layar.