Author's Note :
Terima kasih (οΌΎο½οΌΎ) temen-temen. Yang telah menunggu bab 2.
Butuh logika dan effort lebih, untuk membuat cerita ini. Bab ini sekitar 900 kata.
Happy reading!
π€π€π€
Layar dasbor mendadak memutar lagu "Soulmate" dari Kahitna. Lantunan musik instrumental mulai mengalun lembut, memenuhi kabin mobil.
Seiring lagu mengalun, Aera ikut bersenandung. Kepalanya bergerak miring ke kanan dan ke kiri, mengikuti ritme irama. Jari-jemarinya mengetuk kemudi dengan santai, sementara kakinya menghentak pelan pada lantai mobil.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Setir mobil mendadak berputar sendiri dengan kuat ke arah kanan, merebut kendali dari tangan Aera.
"Let me take control," ucap Vulgard tegas. Detik itu juga, kemudi berputar sendiri.
"Eh, Gard?! Lo ngapain?!" seru Aera panik. Ia terpaksa melepaskan pegangan kemudi agar tangannya tidak terkilir.
Mesin Vulgard mendadak menderu keras, membelah jalanan. Ban berdencit keras di atas aspal jalan raya saat Vulgard melesat kencang, melewati tikungan tajam.
Di depan sana, sebuah gedung terbengkalai menghadang. Vulgard justru melaju lurus, bersiap menembus tembok beton depannya dengan gesit.
"Gard?! AAAHHHH!" teriak Aera histeris. Ia memejamkan mata erat-erat, mencengkeram erat bawah kursi pengemudi sambil menunduk dalam-dalam. Dalam hatinya, Aera merutuk pasrah, mengira ini adalah akhir dari hidupnya.
......
Namun, benturan itu tidak pernah terjadi. Mesin yang tadinya meraung garang mendadak mereda menjadi deru halus. Begitu mereka melewati tembok tersebut.
Tampaknya, di balik dinding yang dikira beton padat itu, tersembunyi sebuah area luas yang dipenuhi oleh berbagai deretan mobil.
Vulgard perlahan melambat hingga berhenti total. Pintu di sisi kemudi terbuka otomatis dengan gerakan perlahan.
Aera mengerjap mata. Seraya mengangkat kepala, ia menatap sekeliling dengan rasa syok yang masih tertinggal di dada.
Dengan tungkai yang agak lemas, Aera keluar dari kabin Vulgard. Berbalik lalu menutup pintu kemudi dengan sentakan tegas.
"THUD!" suara itu mengema ke seluruh penjuru.
Kemudian, Aera bersandar pada bodi Vulgard. Ia mengelus dadanya yang berdegup kencang. Tenang, Ra, tenang... batinnya, lalu mendorong badannya untuk berdiri.
Di area parkir terpajang berbagai mobil sport dan supercar dari brand ternama, berdampingan dengan beberapa mobil LCGC (Low Cost Green Car).
"Wah... banyak mobil unik," Gumam Aera pada diri sendiri. Lalu mengelap kedua tangannya yang berkeringat pada rok coklat yang ia kenakan.
Pandangan Aera jatuh pada sebuah kelompok mobil, yang sedang berkumpul di sudut parkiran. Parkiran yang dipenuhi tawa dan perbincangan.
Huh? mereka bisa ngomong juga? batin Aera.