Author's Note:
Terima kasih ya! Yang sudah membaca karya aku, meskipun banyak hal yang harus diperbaiki. Rasanya... senang dan mau cepet-cepet publikasi karena kalian membaca karya ini. Dan kalian juga, buat aku makin semangat buat terus nulis!π
Mungkin ke depannya aku bakal publikasi sekali atau dua kali sebulan, karena aku punya urusan dengan sekolah.
Happy Readingπ€
π€π€π€
Pak Bobby melangkah masuk dan melewati meja lalu duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Aera menutup pintu di belakangnya, ia perlahan jalan mendekat. Di sisi kanan dan kiri ruangan, tampak rak-rak besar berisi dokumen hitam dan dekorasi yang tertata kaku.
"Assalamu'alaikum," ucap Aera seraya menutup pintu. Hembusan AC menerpa ruangan, dan hawa dingin mendadak menjulur ke tubuhnya.
"Wa'alaikumsalam. Duduk, Aera," balas Pak Bobby.
Aera menuruti perintah tersebut. Kini, mereka saling berhadapan.
"Bapak ingin bertanya tentang Vulgard," ucap Pak Bobby, sambil menatap lekat pada Aera.
"Menurut kamu, soal Vulgard... gimana?"
Pandangan Aera bergerak acak ke segala arah, memilih kata dengan hati-hati. "Eum... Vulgard itu, lumayan nyebelin," jawab Aera canggung.
Pak Bobby tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu. Tetapi, dia peduli terhadap pilotnya," nasihat Pak Bobby.
Masa? batinnya. Namun, Aera tetap mengangguk patuh.
"Aera, apakah kamu siap? Bertanggung jawab atas Vulgard?" tanya Pak Bobby tiba-tiba.
"Siap, Pak. Saya akan coba," seru Aera mantap.
"Soal perawatannya, kamu tinggal isi tangki bensin dan cuci Vulgard secara rutin," lanjut pria itu santai.