Author's Note:
Bab ini sekitar 1.100 kata dan semoga kalian yang baca kenyang ya! Terus minggu depan sekolahku mau mengadakan STS (Sumatif Tengah Semester). Kalau menurut kalian ada kalimat atau dialog yang terasa janggal, langsung komens saja ya, nanti aku perbaiki. Soalnya untuk bab ini, aku edit terus-menurus lho! 😵
Wish me luck🤞
🖤🖤🖤
Hari sudah gelap. Awan hitam bergerak menutupi sebagian bulan yang bersinar terang. Angin menari pelan dengan tanaman hijau dan pohon-pohon yang lumayan tinggi yang menjatuhkan beberapa helaian daun ke jalan aspal. Suara jangkrik mengisi kekosongan malam, sementara pedaran lampu rumah di sekitar menyinari jalanan yang sepi namun berhawa dingin.
Krik, krik, krik,
"Zzzz..." dengung Vulgard terlelap suspensinya menyentuh jalanan aspal. Dia kini parkir seorang diri disamping rumah hijau.
Sebuah suara mesin bergetar datang dari samping kanan Vulgard, dan mesin itu menderu lirih brummm hingga berhenti tepat depan Bmw Black Sapphire Metalic yang disinari lampu senja rumah.
Seketika lampu sein Spin LS perlahan redup. Cat Switchblade Silver Metallic milik Spin LS itu mulai memudar di beberapa bagian bodi. Permukaannya dipenuhi debu cokelat, lapisan kaca filmnya mengelupas, dan ada noda kotoran mengering yang meninggalkan bekas.
Vulgard terbangun menaikkan suspensi dan lampu Angel-Eyes-nya menyinar tajam ke bagian belakang mobil asing yang penuh debu itu.
Bentar... kenapa datang tengah malam dengan kondisi begitu mengenaskan? batin Vulgard menebak tajam seraya bodinya sedikit memiring kanan.
Seketika dari pintu kemudi Spin LS tersebut, keluar seorang pria paruh baya dengan perut yang bulat mengenakan kemeja hitam yang dihiasi garis putih vertikal di sekujur tubuhnya.
Vulgard seketika mematikan lampu depannya. Pria itu melongok ke arah Bmw Black Sapphire Metallic dengan menyernyitkan dahi. Pria paruh baya berjalan melewati sisi kanan Spin LS tersebut.
Pria itu kini mengangkat pintu bagasi ke atas, memperlihatkan tas hitam bentuk persegi panjang dan ransel hitam yang lumayan besar.
Ia langsung mengenakan ransel hitamnya sembari menjinjit tas persegi panjang yang tampak berat dan langsung berjalan melewati pagar berkarat, meninggalkan derit pelan yang memecah keheningan malam.
Srettt...
"I wonder... what's inside that bag?"(Aku penasaran ... apa isi tas itu?) Batin Vulgard curiga. Lampu Angel-Eyes-nya menyinar hijau ke samping kiri mengarah ke punggung pria hingga ke bawah, yang terhalangi pagar berkarat cokelat.
🖤🖤🖤
Giovanni menatap lurus ke arah pintu dan mengembuskan napas. Tangannya sempat terangkat hendak mendorong daun pintu. Namun, pintu terbuka ke dalam oleh Aurora. Wanita itu terpaku, matanya membelakak sempurna.
Pintu yang terbuka itu memperlihatkan pria berperut bulat di hadapannya yang berniat menaruh tas persegi panjang hitam ke lantai.
"Sini sama aku, Ubi," pinta Aurora segera meraih duffle bag hitam dari tangan Giovanni lalu menyimpan di bawah hanger merah di sebelah pintu.