Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #1

Provokasi Sang Kaisar

Deru pendingin ruangan di dalam bilik kaca kedap suara itu tidak mampu meredam gemuruh ribuan penonton di luar sana. Cahaya lampu sorot biru dan merah tembaga membelah kegelapan panggung utama, memantul di permukaan meja akrilik tempat jemari Maya Daniswara bergerak dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.

Klik. Klik-tap. Klik.

Dua ratus delapan puluh aksi per menit. Jarum detik di layar monitor holografis menunjukkan angka 24:15. Babak penentuan semifinal Chronicles of Aethelgard: National Championship. Kategori Campuran Lima Lawan Lima—nomor paling berdarah dan paling bergengsi di seluruh Asia Tenggara.

Di sekeliling arena pertempuran digital, jutaan avatar penonton yang masuk melalui Spectator Mode memenuhi tribun melayang tiga dimensi. Puluhan kamera drone virtual meluncur deras di antara tebing-tebing batu lava, menyorot langsung ke wajah avatar Elowen, The Frost Empress—sosok ratu bermahkota kristal es yang fitur wajahnya dipindai secara biometrik persis menyerupai raut dingin Maya.

"Tombak es siap dalam tiga detik," suara Maya terdengar tenang di interkom tim, kontras dengan napasnya yang mulai memburu. "Bagas, tahan garis depan sungai. Jangan biarkan Zarek masuk ke celah formasi."

"Gue tahan, May!" sahut Bagas dari kursinya di ujung kiri. "Tapi darah gue tinggal separuh!"

"Tenang, perisai cahaya gue udah aktif!" Kezia menimpali, jemarinya lincah memencet tombol hero Astraea.

Di seberang sungai arena, sesosok bayangan hitam berzirah sabit ganda melesat di antara kabut. Zarek, The Eclipse Reaper. Di balik topeng bajanya, model wajah tiga dimensi hero itu memproyeksikan seringai miring yang teramat familier—raut angkuh milik Rayhan Pratama yang kini duduk di bilik kaca tim lawan.

"Perhatian seluruh penonton di dalam arena maupun yang menyaksikan melalui siaran langsung tiga dimensi!" Suara pembawa acara resmi turnamen menggelegar melalui pelantang suara berstandar internasional. "Pertempuran perebutan Aethel-Core Obelisk telah mencapai puncaknya! Tim Pegasus dan Tim Cerberus sama-sama mempertaruhkan tiket menuju Grand Final!"

Maya tidak mendengarkan sorakan itu. Matanya menyipit, memindai jarak piksel di layar. Otaknya bekerja seperti kalkulator presisi: memperhitungkan lintasan gerakan musuh, kecepatan angin virtual, dan jeda sepersekian detik sebelum kabut terbuka.

Sekarang.

Jari telunjuknya menghantam tombol ultimate.

Di arena, Elowen mengibaskan jubah glasialnya ke udara. Badai salju mutlak meledak seketika dalam radius delapan meter, menjatuhkan meteor es raksasa yang menyegel tiga hero tim Cerberus menjadi patung kristal beku. Absolute Zero Tomb. Formasi perangkap es sempurna tanpa cela.

Sorak histeris penonton mengguncang stadion virtual. Kemenangan tinggal berjarak satu ayunan tangan.

Namun, di detik yang sama, kabut di belakang punggung Elowen tiba-tiba terbelah dua.

Wush.

Sebuah kilatan ungu keperakan menembus batas pembekuan. Zarek tidak terjebak di area sungai. Sejak awal, pria itu sengaja mengorbankan tiga rekan setimnya demi melancarkan manuver memutar melalui tebing belakang dengan memanfaatkan celah Invincibility Frame berdurasi nol koma satu detik.

"Terlalu lambat, Ratu Es."

Sebuah bisikan mengejek terdengar dari pelantang suara pertandingan sebelum suara hantaman sabit ganda berdentum memekakkan telinga.

Slash!

Skill passive Shadow Hunger milik Zarek menyala merah darah. Darah avatar Maya terkuras habis dalam nol koma tiga detik. Tepat setelah Elowen tumbang, Zarek melompati turet utama tim Pegasus dengan sisa darah sekarat—tiga persen—dan menghancurkan kristal inti markas dengan satu tebasan pamungkas.

Layar di hadapan Maya berubah menjadi abu-abu gelap.

Huruf-huruf merah raksasa terpampang di seluruh monitor stadion:

Lihat selengkapnya