Kamar asrama tim Pegasus itu hanya diterangi temaram lampu meja dan pendar biru monitor komputer. Suara detak jarum jam dinding berpadu dengan dengung kipas pendingin prosesor yang bekerja tanpa henti.
Maya duduk mematung di kursi gaming-nya, menatap selebaran hologram turnamen Soulmate Protocol yang tergeletak di samping papan ketik.
Di dunia olahraga elektronik Asia Tenggara, Chronicles of Aethelgard bukan sekadar permainan mobile. Game bergenre aksi fantasi itu telah menjelma menjadi fenomena industri raksasa bernilai triliunan rupiah. Di Indonesia, antusiasme warganet dalam membeli tiket stadion tiga dimensi, kostum avatar edisi terbatas, hingga transaksi mikro di dalam game telah melambungkan game ini ke takhta nomor satu. Hadiah satu miliar rupiah yang digelontorkan oleh Aegis Interactive untuk turnamen promosi mode baru ini hanyalah bagian kecil dari anggaran pemasaran mereka yang melimpah ruah.
Maya menghela napas panjang, menatap foto kecil di atas mejanya—foto dirinya bersama Rian yang tersenyum bangga di depan plang kantor Nusantara Pixel Studios dua tahun silam.
Enam ratus tujuh puluh juta rupiah. Surat lelang bank itu memiliki tenggat waktu enam puluh hari. Gaji bulanannya sebagai atlet profesional tidak akan pernah cukup menutup angka sebesar itu dalam waktu singkat, terutama setelah timnya tersingkir di semifinal tadi sore.
Maya mengusap tengkuknya yang kaku. Perjalanan kariernya di liga profesional bukan hal yang instan. Dua tahun lalu, ia memulai debutnya di Divisi Khusus Putri—kasta pengembangan yang setara dengan liga sekunder. Namun, kejeniusan kalkulasi makro dan presisi tombak es miliknya membuat manajemen tim Pegasus memutuskan langkah berani: menarik Maya naik ke Kasta Premier Divisi Campuran.
Di ekosistem Aethelgard, Kategori Campuran Tiga Pria dan Dua Wanita adalah kasta tertinggi yang menjadi kiblat utama industri. Divisi inilah yang disiarkan di televisi nasional, memperebutkan medali emas tertinggi, dan ditonton jutaan orang di seluruh dunia. Maya berhasil membuktikan bahwa ia layak berdiri di divisi utama itu, menyabet gelar Ratu Es, sebelum akhirnya dihempaskan oleh manuver angkuh Rayhan Pratama.
"Persetan dengan Rayhan," gumam Maya lirih.
Tangannya membuka laci meja, mengeluarkan kotak hitam kecil berlambang sayap perak yang ia beli dari gerai resmi Aegis beberapa hari lalu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang pintar berbahan silikon hitam legam dengan pelat logam tipis di bagian bawahnya: NeuroSync Band.
Gelang itu adalah perangkat sensor biometrik haptik generasi baru. Elektroda di bagian bawahnya berfungsi membaca detak jantung secara waktu nyata, menghitung konduktansi suhu kulit, dan memproyeksikan data fisiologis pengguna langsung ke dalam server game.
Maya memasang gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Bunyi klik lembut terdengar saat kunci magnetik mengunci rapat di kulitnya.
Sebuah lampu indikator biru kecil menyala berkedip di permukaan gelang.
Maya menggerakkan tetikus, membuka laman pendaftaran resmi turnamen Soulmate Protocol. Jari-jarinya dengan cepat mengisi formulir: nomor kartu identitas kependudukan, verifikasi perangkat keras, dan konfirmasi pemindaian biometrik.
Saat bilah proses verifikasi mencapai angka sembilan puluh persen, sebuah baris teks kode sistem berkedip sangat cepat di sudut kanan bawah layar monitor:
[System Override: Priority Node 001 - Enforced Match]
Kedipan kode itu hanya berlangsung selama nol koma dua detik sebelum layar kembali normal dan menampilkan tulisan hijau: Verifikasi Identitas Sukses.
Maya mengerutkan kening sejenak. "Glitch server lagi?" gumamnya tanpa menaruh curiga, menganggap itu sekadar gangguan koneksi pada sistem pendaftaran yang baru dibuka.
Layar monitor beralih ke menu pembuatan profil turnamen. Untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai atlet pro berjuluk Ratu Es, Maya sengaja memilih hero dan avatar yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dari sosok Elowen.
Ia memilih kelas Holy Cleric bertubuh mungil dengan gaun zirah putih berenda dan rambut merah muda yang dikuncir dua.
Kolom nama samaran berkedip. Jemari Maya mengetik:
SugarPlum
"Bagus," gumam Maya dengan senyum tipis masam. "Nggak akan ada satu orang pun di dunia ini yang menyangka Ratu Es main karakter bocah berambut merah muda."
Ia menekan tombol pendaftaran pasangan acak: Find Soulmate Matchmaking.
Sistem game mulai memutar roda pencarian. Karena turnamen ini mewajibkan pasangan satu pria dan satu wanita dengan peringkat keahlian tingkat tinggi, Maya memperkirakan sistem butuh waktu setidaknya lima belas menit untuk menemukan pemain pria berkategori Mythic yang mendaftar sendirian.
Namun, hanya dalam kurun waktu tiga detik, layar monitornya berdenting nyaring.