Lampu kristal raksasa di langit-langit Auditorium Utama Pengurus Besar Olahraga Elektronik Indonesia memancarkan pendar keemasan yang megah. Ratusan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional telah memenuhi barisan kursi lipat di depan panggung utama, di mana bendera Merah Putih berukuran raksasa bersanding gagah dengan lambang Garuda Emas.
Udara di dalam ruangan berpendingin sentral itu dipenuhi ketegangan yang hening dan berwibawa.
Di atas podium marmer, Ketua Umum PB E-Sports melangkah maju ke mikrofon. Suaranya terdengar formal, terstruktur, dan berwibawa saat membacakan Surat Keputusan Pemanggilan Seleksi Nasional:
"Berdasarkan hasil pemantauan statistik sepanjang musim kompetisi, PB E-Sports Indonesia secara resmi memanggil empat belas atlet terbaik dari tujuh tim esports profesional tanah air untuk mengikuti Pemusatan Latihan Nasional Tahap Akhir menuju SEA Games."
Layar LED raksasa di belakang podium menyala terang, menampilkan logo tujuh tim papan atas Indonesia: Cerberus, Pegasus, Kraken Horizon, Solaris Zenith, Ironclad Wolves, Nocturnal Apex, dan Aegis Legion. Masing-masing tim mengirimkan dua perwakilan terbaik mereka.
"Empat belas atlet terpilih ini akan dikarantina di asrama Sentul untuk memperebutkan tujuh tempat resmi dalam Skuad Tim Nasional Kategori Campuran, yang terdiri dari lima pemain inti—tiga pria dan dua wanita—serta dua pemain cadangan. Tujuh atlet yang dinilai tidak memenuhi standar sinergi akan dipulangkan sebelum keberangkatan."
Tepuk tangan bergemuruh memecah keheningan auditorium.
Maya melangkah maju ke panggung bersama Kezia dari Tim Pegasus, berdiri sejajar dengan dua belas atlet bintang dari enam tim lainnya. Jaket kontingen merah menyala dengan bordiran Garuda di dada kiri membalut tubuhnya, namun hatinya dipenuhi beban yang menekan. Ini bukan panggung perayaan, melainkan arena seleksi hidup-mati di mana separuh dari mereka yang berdiri di panggung ini akan tersingkir.
Di barisan ujung kanan, Rayhan berdiri tegap mewakili Tim Cerberus bersama Ardi. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu—sesuatu yang tidak langsung kasat mata. Lingkaran gelap di bawah matanya yang kemarin tampak mencolok saat jumpa pers kini sedikit memudar, dan senyumnya ke arah kamera terlihat lebih ringan dari biasanya. Maya mengerutkan dahi sejenak, namun langsung membuang pikiran itu. Mungkin hanya efek pencahayaan panggung.
Saat para atlet diminta berdiri merapat untuk sesi foto bersama, Rayhan bergeser hingga berdiri tepat di samping Maya. Pria itu mencondongkan kepalanya sedikit, berbisik dengan nada santai yang teramat lirih:
"Gimana, Ratu Es? Siap bersaing memperebutkan kursi lima pemain inti, atau cuma ngincer kursi cadangan?"
Maya tidak menolehkan kepalanya satu mili pun. Tatapan matanya lurus menatap lensa kamera utama di depannya, suaranya terdengar dingin dan menusuk:
"Simpan rasa percaya diri lo buat di arena latihan, Rayhan. Gue nggak punya niat ngasih posisi Mid-Laner utama ke siapa pun."
Rayhan terkekeh pelan di sampingnya. "Kita lihat nanti, siapa yang posisinya bakal digeser ke bangku penonton sama pelatih."
Di depan mereka, Kepala Pelatih Timnas, Coach Bramantyo, melangkah maju ke tengah panggung. Tatapan mata pria berbadan tegap mantan juara dunia itu tertuju tajam dan dingin ke arah empat belas atlet di hadapannya.
"Saya tidak peduli seberapa banyak trofi yang kalian bawa dari tim asal kalian," suara Coach Bram terdengar berat dan menggelegar tanpa pelantang suara. "Dari empat belas orang di sini, hanya ada lima pemain inti dan dua cadangan yang akan berangkat ke SEA Games. Terutama untuk kalian berdua, Rayhan dan Maya."
Coach Bram menunjuk mereka berdua dengan tatapan menghunus. "Gaya bermain kalian berdua saling bertolak belakang seperti api dan es. Kalau dalam simulasi nanti kalian gagal menyatukan sinergi dan terus saling menghancurkan ritme tim... saya tidak akan segan-segan melempar kalian berdua ke bangku cadangan atau mencoret kalian sama sekali dari pelatnas. Paham?"
"Siap, paham, Coach!" sahut Maya dan Rayhan serempak dengan rahang terkatup rapat.
Tiga jam kemudian, bus eksekutif berlogo kontingen Indonesia bergerak meliuk menaiki perbukitan Sentul, Jawa Barat. Udara dingin pegunungan dan deretan pohon pinus yang rimbun menyambut kedatangan empat belas atlet terbaik tanah air di Kompleks Olahraga Terpadu Pelatnas.
Fasilitas itu berdiri megah di atas lahan berhektare-hektare, terisolasi dari hiruk-pikuk kota dan sorotan publik demi menjaga fokus seleksi ketat selama tiga bulan ke depan.
Kezia melompat turun dari tangga bus dengan tas ransel merah mudanya, menghirup udara pegunungan dengan napas panjang.
"Wah, gila! Hawanya beneran tegang banget ya, May," bisik Kezia seraya menarik lengan jaket Maya saat mereka berjalan menuju lobi. "Empat belas pemain dari tujuh tim monster, tapi yang diambil cuma lima inti plus dua cadangan. Separuh dari kita bakal dipulangkan dengan tangan hampa."
Maya mengangguk pelan, mengangkat koper hitamnya dari lantai lobi. "Fokus pada peran lo sendiri, Zaa. Tunjukkan kalau perisai Astraea lo yang paling layak jadi Roamer inti."