Bunyi gesekan sarung jari di atas layar kaca dan teriakan instruksi di ruang simulasi utama Pelatnas Sentul memekakkan telinga sejak pukul delapan pagi. Ruangan berlantai karpet abu-abu dengan meja tanding turnamen melengkung berpendingin khusus itu dipenuhi ketegangan tinggi di bawah tatapan tajam Coach Bram.
"Rayhan bisa dengar gue? posisi lo terlalu maju!" teriak Maya seraya menggesekkan ibu jarinya melancarkan tombak es Elowen di layar sentuh ponselnya. "Rayhan, mundur! Formasi musuh belum pecah, jangan maksa masuk ke turet!"
"Tenang, May! Gua bisa bunuh Marksman mereka sebelum mati!" balas Rayhan dari kursi di sampingnya, sepasang sarung jempol serat karbonnya meliuk di atas layar ponsel turnamen dengan kecepatan empat ratus APM.
Zarek melesat menembus bayangan turet lawan, menebas leher Marksman tim Kraken Horizon. Namun, sebelum Zarek sempat meloloskan diri, tiga hero musuh langsung mengepungnya dari semak-semak dan meratakan sisa darahnya dalam nol koma dua detik.
[SHUTDOWN]
[TIM KRAKEN HORIZON MEROBOHKAN TURET TENGAH]
"Tuh kan!" sembur Maya dengan napas memburu, menatap layar ponselnya yang menampilkan gelombang minion musuh merangsek masuk ke markas tim mereka. "Gua bilang apa? Game ini bukan panggung sirkus buat lo pamer mekanik solo!"
"Kalau tombak es lo tadi lebih cepat nol koma lima detik, gue nggak bakal mati konyol kayak gini!" sahut Rayhan sengit, meletakkan ponselnya ke meja dengan napas kasar.
Tiga puluh detik kemudian, kristal markas mereka meledak berkeping-keping.
[DEFEAT]
Suasana di ruang simulasi mendadak senyap total. Kezia yang memainkan hero Astraea hanya bisa menghela napas pasrah, sementara Bagas dan Ardi memilih menatap layar ponsel mereka masing-masing.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Coach Bram berdiri di belakang kursi Maya dan Rayhan dengan tangan bersedekap dada. Raut wajah sang pelatih kepala tampak sedingin batu granit.
"Empat kali simulasi," suara Coach Bram bergetar menahan amarah yang teramat dalam. "Dan empat-empatnya kalian kalah memalukan dari kombinasi pemain Kraken Horizon dan Solaris Zenith. Apa ini yang kalian sebut sebagai kapten dan mid-laner terbaik di Indonesia?"
Maya dan Rayhan terdiam dengan rahang terkatup rapat.
"Gaya main kalian berdua saling menghancurkan," lanjut Coach Bram dengan nada dingin tanpa ampun. "Maya maunya main makro pasif, Rayhan maunya tabrak depan membabi buta. Karena kalian tidak bisa menyatukan ritme, jadwal latihan malam ini akan kita tambah. Pukul dua puluh satu nol-nol, semua pemain wajib kembali ke meja tanding ini untuk simulasi ulang sampai subuh!"
Mendengar kata-kata "pukul dua puluh satu nol-nol", jantung Maya berdegup kencang oleh rasa panik yang menusuk.
Pukul sembilan malam adalah satu-satunya jendela waktu server harian Soulmate Protocol dibuka untuk mengumpulkan kuota seribu poin menuju Grand Final satu miliar rupiah. Jika ia terkurung di ruang simulasi ini sampai subuh, seluruh peluangnya melunasi utang studio sang kakak akan hangus seketika.
Tepat saat Maya sedang memeras otak mencari alasan, Rayhan tiba-tiba mengangkat tangan kanannya seraya berdiri tegak dari kursi dengan raut wajah yang berubah sangat formal:
"Interupsi, Coach Bram. Untuk malam ini pukul sembilan, saya izin tidak bisa mengikuti simulasi tambahan."
Coach Bram mengerutkan keningnya, menatap Rayhan dengan sorot mata membunuh. "Apa alasan kamu, Rayhan? Merasa sudah terlalu hebat sampai bisa menolak jadwal pelatih?"
"Bukan begitu, Coach," sahut Rayhan dengan nada bicara yang teramat tenang dan meyakinkan. "Ini instruksi langsung dari manajemen pusat PB E-Sports dan pihak sponsor utama apparel timnas. Malam ini pukul sembilan sampai tengah malam, saya dijadwalkan melakukan rekaman voice-over dan final delivery materi video promosi peluncuran jersey resmi SEA Games. Materi itu wajib tayang di kanal media sosial federasi besok pagi. Kalau jadwal ini dibatalkan sepihak, pihak sponsor bisa melayangkan penalti pada federasi."
Mendengar nama manajemen federasi dan klausul penalti sponsor disebut, raut wajah Coach Bram menegang. Sebagai pelatih kepala, urusan komersial PB E-Sports adalah salah satu ranah protokoler yang tidak bisa ia bantah begitu saja.
Melihat celah emas itu terbuka lebar, Maya tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung mengangkat tangannya dengan ekspresi serius:
"Saya juga harus izin untuk jadwal malam ini, Coach."