Malam merayap turun di perbukitan Sentul, menenggelamkan kompleks asrama Pelatnas ke dalam keheningan yang dingin dan pekat. Angin gunung berdesir pelan di sela-sela kaca jendela koridor lantai tiga, membawa hawa berkabut yang menusuk hingga ke persendian.
Pukul delapan malam. Di sudut lorong yang temaram dan sepi, Maya mendorong pintu besi tangga darurat yang berat.
Ia duduk bersimpuh di anak tangga semen yang dingin membeku, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang tertekuk rapat. Di genggaman tangannya yang gemetar, layar ponsel pintar miliknya masih menyala redup, menampilkan salinan surat peringatan kedua dari juru sita lelang bank dan rekaman suara dari sang bibi di Surabaya.
Enam ratus tujuh puluh juta rupiah.
Tenggat waktu lelang studio Nusantara Pixel milik kakaknya tersisa lima puluh empat hari lagi. Ditambah tagihan ruang isolasi rumah sakit dan terapi pernapasan Mas Rian yang terus membengkak jutaan rupiah setiap pekan, Maya merasa napasnya seolah tercekik beban yang terlalu mustahil dipikul oleh pundaknya sendirian.
Maya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih, berusaha sekuat tenaga menahan suara tangisnya agar tidak menembus celah pintu besi. Namun, rasa takut, keputusasaan, dan kelelahan mental yang ia pendam selama berbulan-bulan akhirnya meledak tanpa ampun.
Air matanya menetes deras, membasahi kain celana training hitamnya dalam isak yang teramat sunyi dan pedih.
Ia tidak boleh terlihat menangis di depan Coach Bram. Ia tidak boleh tampak rapuh di hadapan rekan-rekan Pelatnas dari tujuh tim rival. Di industri olahraga elektronik yang keras dan tanpa ampun, secuil kelemahan mental adalah undangan bagi lawan untuk menghabisi kariernya.
Maya mengusap matanya dengan punggung tangan yang gemetar hebat, bernapas tersendat-sendat di dalam dinginnya tangga darurat.
Di balik pintu besi yang sedikit renggang, sepasang langkah kaki tanpa alas terdengar berhenti di atas karpet lorong.
Rayhan berdiri mematung di luar pintu tangga darurat, mengenakan kaus tanpa lengan hitam yang lembap oleh keringat usai menjalani latihan fisik mandiri di ruang kebugaran lantai bawah. Di pundaknya tersampir handuk kecil.
Suara isak tangis tertahan dan tarikan napas sesak yang berasal dari balik pintu besi itu tertangkap jelas oleh indra pendengarannya yang tajam.
Rayhan mengenali suara napas itu. Suara gadis yang tadi sore berdebat sengit dengannya di depan Coach Bram, gadis yang selalu menatapnya dengan sorot mata membunuh setiap kali mereka berpapasan di lorong lantai tiga.
Tangan kanan Rayhan sempat terangkat hendak mendorong pintu besi tersebut. Namun, gerakannya terhenti di udara.
Rayhan tahu betul kepribadian Maya Daniswara. Gadis itu memiliki harga diri yang teramat tinggi dan benteng pertahanan yang membekukan siapa pun yang mencoba mendekat. Jika Rayhan melangkah masuk dan memergokinya sedang menangis tersedu-sedu, Maya hanya akan merasa terhina, marah, dan semakin membencinya.
Rayhan menurunkan tangannya perlahan.
Sorot matanya melembut, dipenuhi rasa empati yang dalam. Pria itu menanggalkan jaket hoodie abu-abu tebal berbahan katun lembut yang tersampir di tas latihannya.
Tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, Rayhan membuka celah pintu besi beberapa sentimeter, lalu menyampirkan jaket abu-abu tebalnya tepat di atas pegangan tangga besi di samping pintu.
Setelah itu, Rayhan melangkah mundur dan berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya.
Sepuluh menit kemudian, saat isak tangisnya mereda dan napasnya mulai teratur, Maya bangkit berdiri seraya merapikan rambutnya yang berantakan. Ia mengusap sisa air mata di pipinya hingga kering, bersiap memasang kembali topeng Ratu Es sebelum melangkah keluar ke lorong asrama.
Namun, saat tangannya hendak menyentuh hendel pintu, matanya tertuju pada sehelai kain tebal berwarna abu-abu gelap yang tersampir rapi di pegangan tangga.
Sebuah jaket hoodie berukuran besar yang mengepulkan aroma maskulin segar—aroma perpaduan antara kayu cedar dan kesegaran sabun mandi.
Maya mematung di tempatnya berdiri.
Ia mengambil jaket itu dengan jemari yang ragu-ragu. Kehangatan kain katun tebal itu meresap ke telapak tangannya yang dingin membeku.
Aroma ini terasa sangat familier di ingatannya. Aroma yang sama persis dengan yang tercium saat seorang pemuda bertubuh jangkung bersandar di kusen pintu kamar 305 tadi siang.
Rayhan?
Alis Maya bertaut rapat. Mengapa pria itu meninggalkan jaketnya di sini? Apakah Rayhan sempat mendengar isak tangisnya tadi?
Rasa gengsi dan harga diri yang terluka seketika membakar kembali dinding pertahanannya. Di mata Maya, Rayhan adalah kapten arogan yang gemar mempermalukannya di depan sorotan kamera kemarin. Pria dengan star syndrome yang menganggap segalanya sebagai lelucon.
Maya mendengus sinis seraya mengepalkan jemarinya di kain jaket itu.
"Gue nggak butuh rasa kasihan dari siapa pun," bisik Maya lirih dan tajam pada kesunyian tangga darurat. "Apalagi dari cowok sok pahlawan kayak dia yang kemarin ngetawain gue di depan puluhan wartawan."
Namun, embusan angin pegunungan yang berdesir dari celah jendela semen membuat giginya gemeletuk kedinginan. Tubuhnya yang lelah butuh kehangatan jika ia tidak ingin jatuh sakit sebelum laga eliminasi besok pagi.
Dengan helaan napas berat dan gerutuan tertahan, Maya akhirnya memasukkan kedua lengannya ke jaket tebal yang kebesaran itu. Membungkus tubuhnya yang menggigil dengan kehangatan aroma kayu cedar, Maya mendorong pintu besi dan melangkah keluar menuju kamarnya.
Pukul 21.00 WIB.
Kamar nomor 304 telah terkunci rapat dari dalam. Maya mengenakan gelang NeuroSync Band di pergelangan tangan kirinya, memasang headset gaming-nya, lalu login masuk ke server katedral Chronicles of Aethelgard melalui ponsel turnamennya.
Tepat saat avatar SugarPlum mendarat di atas karpet merah altar katedral, karakter berzirah baja hitam legam telah berdiri bersandar di pilar marmer: IronShadow.
"Malam, SugarPlum," suara bariton serak IronShadow menyapa melalui pelantang headset, terdengar begitu hangat dan tenang.