Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #7

Resonansi Bawah Sadar di Lapangan Sentul


Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi. Udara dingin pegunungan Sentul masih menyelimuti kompleks Pelatnas, namun suhu di dalam Ruang Pertandingan Utama terasa membakar oleh ketegangan yang pekat.

Empat belas atlet terbaik Indonesia duduk mengelilingi meja tanding turnamen melengkung yang dilengkapi bantalan siku ergonomis dan sistem pendingin magnetik. Di hadapan masing-masing atlet, sebuah ponsel pintar turnamen berspesifikasi layar responsif seratus enam puluh lima hertz telah terpasang rapi pada kabel LAN siku berkecepatan gigabit.

Di dinding utama, tiga layar proyektor raksasa memproyeksikan antarmuka sistem seleksi resmi federasi.

Langkah kaki tegap bersepatu bot militer memecah keheningan ruangan. Coach Bram melangkah maju ke tengah podium instruksi seraya melipat tangannya di dada. Sorot matanya yang tajam menyapu wajah empat belas atlet yang duduk mematung.

"Hari ini adalah hari penentuan," suara berat Coach Bram menggelegar tanpa mikrofon, berwibawa dan sarat tekanan. "Dari empat belas nama di ruangan ini, hanya lima orang yang akan mengisi Skuad Inti Tim Nasional Kategori Campuran SEA Games, dan dua orang sebagai cadangan. Tujuh atlet yang dinilai gagal membangun sinergi taktik akan langsung mengemasi barang dan dipulangkan pukul dua belas siang tepat."

Keheningan di ruangan itu semakin menekan dada.

"Dan satu aturan mutlak untuk uji tanding pagi ini," lanjut Coach Bram dengan nada dingin tanpa kompromi. "Seluruh atlet akan dipilihkan hero oleh tim kepelatihan. Hero-hero signature kalian resmi saya ban secara absolut untuk seluruh pertandingan!"

Beberapa atlet dari tim rival saling melirik terkejut. Elowen adalah nyawa permainan Maya, sementara Zarek adalah senjata mematikan Rayhan yang mengantarkan Cerberus menjuarai liga.

"Saya tidak butuh atlet yang cuma jago memainkan satu hero andalan," tegas Coach Bram seraya menatap tajam ke arah Maya dan Rayhan. "Saya ingin melihat hero pool, fleksibilitas makro, dan bagaimana kalian beradaptasi dengan hero-hero yang saat ini menjadi penguasa META di kancah internasional. Masuk ke lobi pertandingan sekarang!"

Maya mengembuskan napas panjang yang tertata rapi. Ia menarik sepasang sarung jempol serat karbon hitam dari sakunya, memasangnya rapat di kedua ibu jarinya, lalu menyalakan layar sentuh ponsel turnamen di hadapannya.

Di samping kirinya, Rayhan sedang mengencangkan sarung jarinya dengan tenang. Tidak ada senyum mengejek atau gestur tengil di wajah pemuda itu pagi ini. Yang tampak hanyalah tatapan mata yang teramat fokus menatap layar kaca.

Fase pemilihan hero dimulai dalam tempo enam puluh detik.

Di kubu lawan—Tim Biru yang diperkuat kombinasi pemain veteran bintang dari Solaris Zenith, Ironclad Wolves, dan Kraken Horizon—mereka langsung mengamankan komposisi agresif: hero assassin lincah, penembak jarak jauh bertipe burst damage, dan dua tank pelindung tebal.

Maya memindai deretan hero di layar ponselnya dengan kecepatan analisis kalkulatif. Jari jempolnya menggesek layar sentuh, mengunci hero pilihannya:

Valeria, The Dawn Sage.

Hero Mage META bertipe pengendali area dan pendukung tempo pertempuran. Valeria tidak memiliki ledakan damage instan sebesar Elowen, namun memiliki kemampuan manipulasi ruang: menciptakan benang cahaya kosmik yang mampu mengikat formasi lawan sekaligus memberikan perisai pelindung instan bagi rekan setim.

Di sampingnya, Rayhan melirik ke arah pilihan Maya. Tanpa membantah atau mendebat, Rayhan menyentuh layar sentuhnya dan mengunci hero Jungler pilihannya:

Kaelen, The Ashfang Vanguard.

Hero Fighter-Bruiser bertombak api. Kaelen bukan tipe pembunuh bayangan yang bisa kabur sesuka hati, melainkan petarung garis depan berdarah tebal yang membutuhkan kalkulasi posisi yang presisi dan koordinasi tim yang sangat rapat agar tidak mati konyol di tengah kepungan musuh.

"Formasi Tim Merah terkunci," suara Kezia terdengar melalui interkom headset tim, jemarinya lincah memegang hero pelindung Astraea. "Gue bakal kawal Bagas di jalur atas. May, lo pegang kendali tengah bareng Rayhan."

"Siap," sahut Bagas dan Ardi serempak dari ujung meja tanding.

Layar di hadapan mereka memancarkan kilatan cahaya perak saat sepuluh avatar mendarat di arena pertempuran:

[MATCH 1: ELIMINATION TRIAL - COMMENCE]

Menit ketiga pertandingan.

Tim Biru langsung melancarkan strategi invasi agresif. Tiga hero lawan merangsek masuk ke area hutan Tim Merah, berniat merebut monster buff ungu milik Rayhan dan mematikan tempo permainannya sejak awal.

"Jungler dan Roamer musuh masuk dari semak sungai!" seru Ardi memperingatkan dari jalur bawah. "Darah buff lo tinggal separuh, Ray!"

Dalam pola permainan lamanya di tim Cerberus, Rayhan pasti akan langsung menerjang maju sendirian, memaksakan kontes mekanik berisiko tinggi demi membuktikan dominasinya.

Namun kali ini, Rayhan tidak melompat membabi buta.

"Rayhan, tahan posisi di balik batu!" suara Maya terdengar dingin dan tegas di interkom tim, ritme bicaranya teratur tanpa panik. "Lepas buff ungu. Tarik mereka masuk dua langkah lagi ke arah tikungan sungai. Benang fajar gue siap dalam satu detik."

Rayhan melirik layar minimap di sudut kiri atas ponselnya. Mengengingat janjinya semalam di ruang simulasi untuk mengikuti perhitungan Maya, Rayhan menekan tombol analog virtualnya, menarik mundur langkah Kaelen tepat di celah sempit antara tebing batu.

Tiga hero Tim Biru terpancing masuk ke lorong sempit tersebut, mengira sang kapten bintang sedang terdesak ketakutan.

"Sekarang!" seru Maya.

Tap!

Jempol kanan Maya menyapu tombol skill dua dan skill tiga di layar kaca secara simultan.

Di arena pertempuran, Valeria mengibaskan jubah putih keemasannya. Jaring benang cahaya kosmik merekah dari dalam tanah sungai, mengikat pergerakan ketiga hero musuh seketika dalam efek lumpuh mutlak selama satu koma lima detik. Dawn Weaver Trap. Perangkap ruang yang sempurna tanpa celah.

"Hajar, Ray!" komando Maya.

Wush!

Tombak api Kaelen milik Rayhan berputar di udara. Memanfaatkan celah kelumpuhan lawan, Rayhan meluncurkan rentetan tebasan beruntun dengan sudut sapuan yang sangat presisi, membakar habis bar darah kedua hero penyerang musuh dalam sekejap mata.

[FIRST BLOOD!]

[DOUBLE KILL FOR TIM MERAH!]

Lihat selengkapnya