Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #8

Ransel Jahitan Ibu


Pukul setengah dua siang. Matahari Sentul memancarkan terik yang cukup menyengat, membakar aspal jalanan di luar kompleks Pemusatan Latihan Nasional.

Kabar mengenai penetapan lima pemain inti skuad SEA Games telah tersiar cepat di media sosial hanya dalam kurun waktu satu jam setelah pengumuman dewan pelatih. Di depan gerbang besi pos penjagaan asrama, puluhan penggemar olahraga elektronik dari berbagai kota telah berkumpul di balik pagar pembatas.

Mereka berdiri berdesak-desakan di tepi jalan yang berdebu: sebagian mengenakan jersey tim Cerberus dan Pegasus, sebagian memegang binder catatan tebal, dan beberapa remaja tampak membawa poster karton buatan tangan yang mulai melengkung terpapar panas.

Di pos gerbang utama, empat petugas keamanan berseragam hitam tampak sibuk mengimbau para penggemar melalui pelantang suara agar tidak berkerumun demi menjaga sterilisasi area atlet.

Di dalam lobi berpendingin udara lantai satu gedung asrama, Maya melangkah melintasi pintu kaca seraya membawa tumbler air minumnya. Langkah kakinya terhenti saat melihat sesosok pemuda jangkung berkaus oblong abu-abu sedang berdiri di samping meja resepsionis.

Rayhan.

Di tangan kanannya, pemuda itu sedang menenteng sekotak spidol hitam permanen berukuran besar yang baru saja ia minta dari petugas administrasi.

Melalui celah jendela kaca lobi yang terbuka sedikit, Rayhan melongokkan kepalanya ke arah kerumunan di luar pagar pos penjagaan.

"Hei!" teriak Rayhan dengan suara lantang yang menggelegar santai melintasi halaman parkir. "Jangan pada kepanasan di pinggir aspal berdebu gitu! Geser ke bawah pohon yang rindang di samping pos logistik! Tunggu di situ lima menit, saya datang sebentar lagi!"

Seruan riuh gembira seketika terdengar dari puluhan penggemar yang langsung berhamburan mencari tempat teduh di bawah naungan pohon rindang di sisi barat asrama.

Rayhan membalikkan badannya seraya tersenyum puas. Pandangannya menangkap sosok Ardi, Kezia, dan Bagas yang baru saja keluar dari lift.

"Ardi! Kezia! Sini!" panggil Rayhan seraya melambaikan tangannya. "Ikut gue keluar bentar."

Kezia mengernyitkan keningnya, melirik ke arah gerbang pos keamanan. "Loh, bukannya kata Coach Bram atlet dilarang keluar?"

"Siapa bilang kita lewat gerbang utama?" Rayhan menyeringai licik seraya menunjuk ke arah lorong samping pos logistik yang sepi. "Satpam di depan biar fokus kerja di pos utama, kita lewat pintu samping belakang gudang. Fans kalian udah pada datang jauh-jauh dari luar kota , masa kita diemin?"

Mata Rayhan kemudian beralih menatap Maya yang berdiri mematung beberapa meter di belakang Kezia.

"May," panggil Rayhan, nada bicaranya terdengar hangat tanpa ada selipan ejekan. "Ikut yuk. Fans lo dari Pegasus juga ada yang nungguin di luar."

Maya sempat terdiam ragu. Prinsip profesionalismenya yang kaku selalu mengajarkannya untuk mematuhi aturan karantina pelatnas. Namun, melihat binar ketulusan di mata pemuda itu, Maya akhirnya mengangguk pelan.

"Jangan bikin masalah sama pelatih," gumam Maya seraya melangkah mengikuti mereka.

Di bawah rindangnya kanopi pohon trembesi raksasa di samping pos logistik asrama, udara perbukitan terasa jauh lebih sejuk dan berangin.

Begitu pintu besi samping dibuka perlahan oleh Rayhan, puluhan penggemar yang sedang duduk berteduh di atas rumput seketika berdiri dengan mata berbinar-binar. Beberapa di antara mereka menahan napas seolah tidak percaya para atlet bintang timnas benar-benar keluar menemui mereka.

Maya memperhatikan Rayhan yang melangkah maju paling depan tanpa canggung sedikit pun.

Sikap angkuh, senyum meremehkan, dan star syndrome yang sering diumbar pria itu di depan sorotan kamera televisi mendadak lenyap tak berbekas. Yang berdiri di hadapan para penggemar saat ini hanyalah seorang pemuda biasa yang begitu membumi dan ramah.

"Satu-satu ya, santai aja, jangan dorong-dorongan," ujar Rayhan seraya membagikan beberapa spidol kepada Ardi dan Kezia.

Seorang pemuda berkaus biru dengan ransel berat melangkah maju dengan tangan gemetar, menyodorkan jersey timnas untuk ditandatangani.

Rayhan mengambil spidolnya seraya menatap wajah pemuda itu dengan senyum lebar. "Dari mana kamu, Mas?"

"Dari Bandung, Bang Rayhan," sahut pemuda itu dengan suara gugup bercampur haru. "Naik kereta subuh tadi bareng teman-teman komunitas."

Mendengar kata Bandung, intonasi bicara Rayhan seketika beralih luwes: "Oh, Bandung? Kumaha damang, Kang? Hatur nuhun pisan udah jauh-jauh nyempetin main ke Sentul. Sehat-sehat ya di jalan pulang nanti!"

Gelak tawa hangat meledak di antara kerumunan.

Tepat di belakang pemuda tadi, dua orang mahasiswa berjaket almamater menyodorkan casing ponsel mereka. "Bang Rayhan, kami titip salam dari anak-anak kampus di Jogja!"

Rayhan tertawa renyah seraya menandatangani casing tersebut dengan gesit. "Oalah, sampeyan Jogja ta? Lha aku asline seko Bantul!"

Maya mematung di samping Kezia, memperhatikan pemandangan itu dengan rasa takjub yang teramat dalam.

Rayhan hafal betul cara merangkul orang-orang di sekitarnya. Pria itu tidak sekadar menandatangani barang, melainkan menatap mata setiap orang, menanyakan kabar keluarga mereka, dan meladeni permintaan swafoto dengan pose-pose lucu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa lelah.

Di tengah antrean, seorang gadis remaja berkuncir kuda tampak berdiri ragu-ragu seraya memegangi binder bergambar hero Astraea.

Lihat selengkapnya