Pendar lampu gantung di lorong lantai tiga asrama Pelatnas telah meredup saat jarum jam dinding di kamar nomor 304 menunjukkan pukul sembilan malam lewat lima menit.
Setelah seharian penuh melahap menu latihan strategi rotasi lima lawan lima bersama Coach Bram—di mana koordinasi lini tengah antara Maya dan Rayhan semakin tajam dan tak terbendung—keheningan malam Sentul kembali menjadi ruang pelarian bagi Maya.
Pintu kamar telah terkunci rapat dari dalam.
Maya menyandarkan punggungnya ke bantal kasur, mengenakan gelang NeuroSync Band di pergelangan tangan kirinya, lalu memasang headset gaming-nya. Jemarinya yang terbungkus sarung jempol serat karbon menyentuh layar ponsel pintar turnamen miliknya, masuk ke dalam lobi turnamen tertutup Chronicles of Aethelgard.
Malam ini adalah pertarungan hidup-mati: Babak Tiga Puluh Dua Besar menuju Enam Belas Besar Soulmate Protocol.
Dari ribuan pasangan tingkat Mythic yang mendaftar di seluruh penjuru negeri, sistem gugur tanpa ampun telah mengeliminasi sebagian besar peserta di setiap lantai. Hadiah satu miliar rupiah yang digelontorkan Aegis Interactive terasa semakin dekat, namun rintangan yang dipasang sistem kecerdasan buatan game ini justru berkali-kali lipat lebih kejam.
Denting lonceng kristal terdengar di telinganya saat pilar cahaya perak menyelimuti karpet altar.
Avatar SugarPlum mendarat di tepian dunia baru yang teramat sunyi: Tebing Langit Astral—dungeon lantai delapan yang melayang di angkasa tanpa dasar, berlatarkan hamparan galaksi ungu keemasan dan jutaan meteorit yang meluncur lambat di kegelapan kosmik.
Di sampingnya, sesosok avatar berzirah baja hitam legam telah berdiri bersedekap dada seraya menyandarkan dua sabit besarnya di punggung: IronShadow.
"Malam, SugarPlum," suara bariton serak IronShadow menyapa melalui headset, terdengar tenang dan dalam.
Maya mendekatkan mikrofonnya ke bibir, mengatur intonasinya agar terdengar santai. "Malam, Iron. Gimana arena malam ini? Kelihatannya lantainya nggak punya pijakan tanah yang stabil."
"Iya," sahut IronShadow seraya menatap jurang kosmik di bawah kaki mereka. "Lantai delapan ini dikenal sebagai kuburan massal buat pasangan tier atas. Anomali gravitasinya nggak bisa dilawan pakai senjata biasa."
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, langit galaksi di atas tebing mendadak bergemuruh hebat.
Wushhh!
Pusaran badai gravitasi berwarna biru safir meledak dari pusat jurang melayang, menghisap udara di sekitar mereka hingga kedua avatar terombang-ambing di tepi tebing batu yang mulai retak dan kehilangan bobot.
Sebuah panel pengumuman emas menyala berkedip di hadapan mereka dengan tulisan peringatan darurat:
[BABAK ELIMINASI 32 BESAR: ANOMALI GRAVITASI ASTRAL]
[SYARAT MENSTABILKAN TEBING: DUA PEMAIN WAJIB DUDUK BERDAMPINGAN DAN SALING MENGAITKAN JARI DI TEPI TEBING SELAMA SEPULUH MENIT PENUH]
[PERINGATAN SISTEM: JIKA IKATAN TANGAN TERLEPAS ATAU RESONANSI JANTUNG TERPUTUS, KEDUA AVATAR AKAN TERLEMPAR KE JURANG KOSMIK DAN TERELIMINASI LANGSUNG DARI TURNAMEN]
Maya menelan ludah menatap hitung mundur yang mulai berdetik:.
"Sepuluh menit tanpa boleh gerak?" gumam Maya seraya memindai jurang tanpa dasar yang berputar liar di bawah mereka. "Sistem turnamen ini beneran nuntut koordinasi gila."
"Bukan cuma koordinasi," sahut IronShadow seraya menggerakkan avatarnya melangkah ke bibir tebing, lalu duduk bersila menghadap hamparan galaksi yang terbentang luas. "Sistemnya mau nguji apakah detak jantung kita bisa tetap tenang di tengah badai. Sini, duduk di samping gue."
Maya menggesekkan analog virtual di layar ponselnya, mendudukkan SugarPlum tepat di samping ksatria baja tersebut.