Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #10

Pelarian Malam dan Fajar di Balik Masker


Pukul setengah satu dini hari. Asrama Pelatnas Sentul telah tenggelam ke dalam kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Kabut tebal pegunungan merayap turun menutupi kaca-kaca jendela koridor lantai tiga.

Di dalam kamar 304, getaran ponsel pintar di atas meja belajar menyentak Maya dari lamunannya.

Bukan notifikasi game. Melainkan panggilan darurat dari bibinya di Bandung.

Dengan tangan yang mendadak dingin membeku, Maya menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Bibi?"

"Maya..." Suara di ujung telepon terdengar terisak panik di sela deru sirine dan suara perawat yang berteriak di latar belakang. "Tadi dokter ICU telepon... Mas Rian mendadak krisis pernapasan dan saturasi oksigennya anjlok parah... Bibi panik banget, Maya..."

Dunia di sekitar Maya seolah runtuh seketika.

"Mas Rian... masuk ICU?" bisik Maya dengan bibir yang gemetar hebat.

"Iya, Nak... Dokter minta pihak keluarga segera datang untuk tanda tangan persetujuan tindakan medis darurat...udah bibi tanda tangan, maaf karena darurat."

Sambungan terputus.

Maya mematung di tengah kamarnya yang temaram. Seluruh darah di tubuhnya terasa tersedot habis. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi bayangan wajah kakaknya yang terbaring pucat sendirian di ranjang rumah sakit Bandung tanpa ada seorang pun di sisinya.

Maya tidak memedulikan aturan jam malam. Ia tidak peduli ancaman sanksi diskualifikasi dari Coach Bram jika seorang atlet tertangkap basah meninggalkan asrama tanpa izin resmi.

Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah satu: ia harus sampai di rumah sakit Bandung malam ini juga.

Dengan gerakan panik dan terburu-buru, Maya menyambar jaket hitam bertudung, mengenakan masker kain hitam, memasukkan dompet dan ponselnya ke tas selempang kecil, lalu membuka pintu kamar 304 sepelan mungkin.

Ia lupa tidak membawa gelang neuroband nya yang masih di charge di atas meja. Disituasi panik seperti itu semua orang pun akan merasakan hal yang sama. Dompetnya pun tidak terbawa.

Koridor lantai tiga remang-remang dan dingin membeku. Maya melangkah mengendap-endap di atas karpet tebal menuju pintu tangga darurat.

Namun, tepat saat ia melintasi area balkon terbuka di ujung lorong, sesosok pria berkaus hitam yang sedang berdiri menatap kabut malam menolehkan kepalanya secara refleks.

Rayhan.

Kedua pasang mata itu bertemu di tengah kegelapan malam.

"May?" Rayhan mengerutkan keningnya, melirik tas selempang dan masker yang membalut wajah Maya. Senyum santai yang biasanya menghiasi bibirnya lenyap seketika saat ia melihat mata gadis itu yang merah dan bergetar hebat menahan tangis. "Lo mau ke mana jam segini pakai jaket lengkap?"

"Minggir, Rayhan," bisik Maya dengan suara parau yang tersendat di tenggorokan. "Gue harus pergi."

Rayhan melangkah maju setengah langkah, menghalangi akses menuju pintu tangga darurat dengan tubuh jangkungnya. "Lo gila? Ini jam satu pagi. Kompleks pelatnas dikunci total. Kalau pos keamanan atau staf pelatih tahu lo kabur, nama lo bisa langsung dicoret dari timnas SEA Games besok pagi!"

"Gue nggak peduli!" Air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya menetes membasahi tepi maskernya. Maya mencengkeram lengan kaus Rayhan dengan jemari yang gemetar hebat. "Kakak gue... kritis masuk ICU di Bandung... Gue harus ke sana, Rayhan. Tolong... jangan halangi gue..."

Melihat keputusasaan dan kerapuhan yang begitu pedih di mata gadis yang selama ini selalu memasang topeng Ratu Es, rahang Rayhan mengeras seketika.

Lihat selengkapnya