Pukul dua belas siang. Kafetaria asrama Pelatnas Sentul dipenuhi keriuhan para atlet dan staf kepelatihan yang sedang menikmati makan siang usai sesi evaluasi taktik timnas.
Aroma sup ayam herbal dan pendar hangat sinar matahari dari dinding kaca raksasa menyinari ruangan berlantai kayu tersebut.
Di meja dekat jendela sudut, suasana canggung yang manis melingkupi Maya dan Rayhan.
Sejak kembali dari pelarian rahasia ke rumah sakit subuh tadi, ada sesuatu yang berubah secara drastis di antara mereka berdua. Tidak ada lagi kata-kata sindiran pedas, tidak ada lagi tatapan mata membunuh.
Saat Rayhan menyodorkan mangkuk potongan buah melon segar di hadapan Maya, pemuda itu hanya tersenyum tipis—senyuman tulus yang membuat kedua pipi Maya merona merah samar di balik helai rambutnya.
"Lo nggak ngantuk, May," ujar Rayhan santai seraya menyeruput es teh manisnya. "Kemarin di bus lo nggak tidur sama sekali."
Maya menundukkan kepalanya, menyendok potongan buah dengan jemari yang sedikit canggung. "Gue tidur kok? Kepala lo aja yang berat banget waktu numpang tidur di pundak gue."
Rayhan terkekeh renyah, tawa lepas yang terdengar begitu hangat dan bebas tanpa beban.
Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di asrama Sentul, hati Maya merasa begitu ringan. Di hadapannya, Rayhan bukan lagi sosok rival arogan yang menyebalkan, melainkan seorang pemuda yang diam-diam telah menjadi pilar pelindung yang teramat ia percayai.
Tiba-tiba, seorang staf humas federasi berseragam biru melangkah tergesa-gesa menghampiri meja mereka.
"Rayhan!" seru staf tersebut seraya membawa setumpuk dokumen map merah. "Bisa ke ruang administrasi lantai satu sekarang? Pihak sponsor apparel dan perwakilan PBESI minta tanda tangan berkas persetujuan materi video promosi yang mau dirilis siang ini."
Rayhan melirik jam tangannya, lalu menghela napas pendek seraya bangkit berdiri dari kursinya. "Siap, Mas. Saya ke bawah sekarang."
Pemuda itu menoleh ke arah Maya, menepuk pelan tepi meja kayu di depan gadis itu. "Gue ke bawah bentar ya, May. Nanti sore jadwal simulasi bareng Coach Bram jangan sampai telat."
"Iya," sahut Maya pelan.
Rayhan melangkah cepat mengikuti staf humas keluar melintasi pintu kaca kafetaria yang berderit pelan.
Lima menit kemudian, saat suasana kafetaria mulai berangsur sepi karena para atlet kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Maya membereskan nampan makan siangnya.
Namun, saat hendak bangkit dari kursi, pandangan mata Maya tertuju pada sandaran kursi kayu tempat Rayhan duduk tadi.
Di atas bantalan kursi tersebut, tergeletak sebuah benda berwarna hitam legam berukuran kecil.
Gelang pintar silikon dengan pelat logam tipis di bagian tengahnya.
NeuroSync Band milik Rayhan.
Tampaknya pemuda itu melepas gelangnya saat mencuci tangan sebelum makan siang dan secara tidak sengaja meninggalkannya karena terburu-buru dipanggil oleh staf humas.
Maya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar ceroboh... Barang mahal kayak gini bisa-bisanya ketinggalan."
Berniat baik untuk menyimpan gelang tersebut dan mengembalikannya ke kamar nomor 305 nanti sore, Maya mengulurkan tangan kanannya.