Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #12

Badai Salju dan Pernikahan yang Runtuh

Sore hari di asrama Pelatnas Sentul berubah menjadi neraka keheningan bagi Maya Daniswara.

Sejak melangkah keluar dari kafetaria siang tadi, Maya mengunci rapat pintu kamar 304 dari dalam. Tirai jendela kamarnya ditutup rapat, menenggelamkan ruangan berukuran empat kali empat meter itu ke dalam kegelapan yang pekat dan dingin.

Maya duduk memeluk lututnya di atas lantai karpet di samping kasur.

Di genggaman tangannya yang dingin membeku, ponsel pintar miliknya menampilkan dokumen surat penagihan lelang studio Mas Rian yang tersisa empat belas hari lagi. Namun, matanya yang sembap dan merah tidak lagi mampu membaca angka-angka itu.

Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca.

Rasa malu yang membakar dan rasa terkhianati yang teramat dahsyat terus mengoyak rongga dadanya tanpa ampun.

Selama ini, ia mengira telah menemukan satu-satunya tempat bersandar yang tulus di tengah kejamnya dunia. Ia mengira di balik avatar IronShadow terdapat seorang ksatria asing yang bersedia membagi kehangatan tanpa menghakiminya.

Namun ternyata, sosok di balik zirah baja itu adalah Rayhan Pratama.

Musuh bebuyutannya. Pria yang kemarin menertawakannya di hadapan puluhan wartawan nasional.

Bagi Maya, tidak ada penjelasan logis selain satu hal: Rayhan mengetahui identitasnya sejak awal dan sengaja mempermainkan kerapuhan hidupnya sebagai lelucon di balik layar.

Sementara itu, di lorong lantai tiga, Rayhan berdiri mematung di depan pintu kamar 304 dengan napas memburu dan wajah pucat pasi.

Di tangan kanannya, pemuda itu menggenggam erat gelang NeuroSync Band miliknya yang baru saja ia terima dari Maya.

Saat menyalakan kembali layar gelangnya siang tadi, Rayhan mendapati riwayat deteksi kedekatan perangkat yang menyala merah di samping nama SugarPlum. Andai saja ia tahu lebih awal, semua ini tidak akan serumit ini. Namun di atas meja kayu tempat gelangnya tertinggal, terdapat bekas tetesan air mata yang masih basah.

Detik itu juga, seluruh kepingan teka-teki di kepala Rayhan tersusun menjadi kenyataan yang menghantam kesadarannya:

SugarPlum—gadis manis berambut merah muda yang selalu ia nantikan suaranya setiap malam, gadis yang obrolan tenangnya mampu menyembuhkan insomnia kronisnya, dan gadis yang ingin ia lindungi dengan segenap jiwanya... adalah Maya Daniswara.

Ratu Es yang kamarnya persis berada di depan kamarnya sendiri.

"Sial..." bisik Rayhan dengan suara tercekat di tenggorokan.

Pemuda itu mengangkat tangannya, mengetuk pintu kamar 304 dengan ketukan keras yang panik.

Duk! Duk! Duk!

"May! Maya! Buka pintunya, May!" seru Rayhan dengan nada suara yang bergetar cemas menembus celah kayu. "Gue tahu lo di dalam! Tolong dengerin penjelasan gue dulu, May! Gue berani sumpah... gue beneran nggak tahu kalau lo itu SugarPlum!"

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

Hanya keheningan beku yang membalas teriakannya.

"Maya! Tolong jangan salah paham!" Rayhan menyandarkan dahinya ke daun pintu yang dingin, suaranya terdengar meremang putus asa. "Gue nggak pernah sekalipun punya niat buat ngetawain atau manfaatin lo... Semua yang gue omongin di game itu murni dari hati gue, May!"

Di dalam kamar yang gelap, Maya menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, membenamkan wajahnya ke lipatan lutut seraya menangis dalam isak yang teramat sunyi dan pedih.

Kata-kata Rayhan di luar pintu terasa seperti racun manis yang menusuk luka batinnya semakin dalam.

Lihat selengkapnya