Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #13

Kampanye Kotor dan Tamparan di Pelatnas

Pukul delapan pagi. Ruang Pertandingan Utama Pelatnas Sentul dipenuhi suara ketukan jari yang membabi buta di atas layar kaca dan desiran kipas pendingin magnetik.

Namun, di kursi lini tengah Tim Merah, layar ponsel pintar turnamen milik Maya Daniswara baru saja berubah menjadi abu-abu gelap untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu lima belas menit.

[ELIMINATED]

[TIM BIRU MENGHANCURKAN TURET DALAM JALUR TENGAH]

"Maya!" teriak Bagas dari kursi ujung kiri dengan napas memburu. "Tombak fajar lo meleset lagi! Formasi belakang kita jebol total!"

Maya tidak menyahut. Sepasang sarung jempol serat karbon di tangannya terasa kaku dan dingin membeku.

Di kepalanya, layar pertempuran lima lawan lima itu mendadak mengabur, digantikan oleh bayangan Altar Katedral Aethelgard tadi malam: suara retakan pilar marmer yang runtuh, cincin pernikahan jiwa yang meledak menjadi abu hitam, dan tulisan merah darah yang menyatakan bahwa hak atas hadiah satu miliar rupiah telah hangus selamanya.

Kenapa... kenapa gue sebodoh itu?

Sebuah jeritan penyesalan yang membakar terus menghantam dinding dada Maya tanpa ampun.

Ia merutuki dirinya sendiri. Mengutuk harga dirinya yang setinggi langit dan emosinya yang meledak tak terkendali tadi malam.

Apa pedulinya jika partner virtualnya di game adalah Rayhan? Apa pedulinya jika pria itu musuh bebuyutannya di liga?

Mas Rian sedang terbaring di ruang perawatan intensif. Surat lelang studio Nusantara Pixel tinggal menghitung hari. Seharusnya, demi menyelamatkan impian kakaknya, ia sanggup bekerja sama dengan setan sekalipun!

Seharusnya ia menelan seluruh rasa gengsinya, berpura-pura tidak tahu, dan tetap mengunci hadiah satu miliar rupiah itu hingga babak final berakhir.

Namun, egonya yang kekanak-kanakan justru menghancurkan segalanya hanya dalam satu ketukan jari.

"Bodoh... lo beneran bodoh, Maya..." bisik Maya teramat lirih pada dirinya sendiri, jemarinya di atas layar sentuh gemetar hebat menahan gelombang sesak yang mencekik tenggorokannya.

"Minion musuh masuk dari jalur sungai!" seru Ardi panik. "Maya, pasang perisai kosmik sekarang!"

Maya tersentak kaget, berusaha menggesek tombol skill di layarnya secara terburu-buru. Namun, kalkulasi jarak pikselnya berantakan total. Hero Valeria miliknya melangkah setengah langkah terlalu maju ke area terbuka.

Sebelum Valeria sempat mengayunkan tongkatnya, hero Assassin lawan menerjang dari dalam semak, menebas habis sisa darah Maya dalam kurun waktu nol koma dua detik.

[SHUTDOWN]

[TIM BIRU MEROBOHKAN KRISTAL UTAMA]

[DEFEAT]

Brak!

Suara hantaman papan klip dokumen di atas meja instruksi memecah keheningan ruangan dengan dentuman keras yang mengejutkan seluruh atlet.

Coach Bram berdiri di belakang kursi Maya dengan rahang mengeras dan sorot mata membunuh yang menyala dingin.

"Cukup!" suara sang pelatih kepala menggelegar memekakkan telinga. "Sepanjang lima tahun saya memegang tim nasional, saya belum pernah melihat permainan lini tengah seburuk, seceroboh, dan sehancur ini dari seorang pemain yang menyandang gelar Ratu Es!"

Ruang simulasi mendadak senyap total. Kezia, Bagas, dan Ardi menundukkan kepala mereka dalam-dalam, sementara Rayhan menatap Maya dari kursi sampingnya dengan napas tertahan di dada.

Maya hanya mematung menatap layar ponselnya yang gelap, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa anyir darah.

"Pikiran kamu ada di mana, Maya?!" bentak Coach Bram tanpa ampun. "Kalau kamu tidak punya fokus untuk membela lambang Garuda di dada kamu, keluar dari ruangan ini sekarang juga!"

Sang pelatih kepala menoleh ke arah bangku pemain cadangan di sudut ruangan: "Rendy! Pasang sarung jari kamu dan ambil alih kursi Mid-Laner sekarang! Maya, kamu duduk di bangku cadangan sampai pikiran kamu waras!"

"Siap, Coach..." bisik Maya dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Maya melepaskan sarung jempol karbonnya, mencabut kabel LAN dari ponselnya, lalu bangkit berdiri dari kursi tanding.

Ia melangkah gontai menuju deretan kursi penonton di sudut belakang ruangan, duduk memeluk lututnya dalam kehancuran harga diri yang teramat perih di bawah tatapan belasan atlet lainnya.

Pukul sepuluh pagi.

Saat jam istirahat pertama baru saja dimulai, suasana tenang di asrama Pelatnas mendadak meledak menjadi kepanikan massal.

Ponsel pintar milik belasan atlet dan staf pelatih berdering serentak oleh jutaan notifikasi media sosial yang membanjiri linimasa internet tanah air.

Di platform YouTube, TikTok, dan Instagram resmi Chronicles of Aethelgard, sebuah video promosi sinematik berdurasi tiga puluh detik baru saja diluncurkan secara serempak oleh Aegis Interactive dengan judul bombastis bertinta emas:

[EKSKLUSIF] KETIKA DUA RIVAL ABADI BERSATU: SANG KAISER DAN RATU ES RESMI MENIKAH DI SOULMATE PROTOCOL!

Video itu menampilkan cuplikan rekaman permainan beresolusi tinggi tiga dimensi: momen avatar IronShadow merengkuh pinggang SugarPlum di kawah gunung berapi Obsidian Golem, tautan jari di tebing langit astral, hingga grafik sensor biometrik detak jantung sembilan puluh sembilan BPM yang menyala keemasan.

Lihat selengkapnya