Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #14

Rekonsiliasi Pelatnas dan Sapu Bersih Fase Grup

Pukul enam pagi. Kabut tipis perbukitan Sentul masih menyelimuti pepohonan pinus di sekitar kompleks Pemusatan Latihan Nasional.

Di kamar nomor 304, Maya Daniswara telah terbangun sejak fajar belum merekah.

Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan seragam kontingen merah-putih yang telah terpasang rapi. Matanya sedikit berkantung, tanda bahwa ia tidak memejamkan mata sepanjang malam.

Di genggaman tangannya, layar ponsel pintar menampilkan video klarifikasi Instagram milik Rayhan yang telah ia putar berulang-ulang hingga puluhan kali:

"Dia sama sekali nggak bersalah, dan dia adalah korban dalam eksploitasi data ini... Gue yang suka sama Maya dari lama. Cukup hujat gue aja karena data ini bocor dari POV gue."

Kata-kata pemuda itu terus bergema di telinga Maya, meremukkan sisa-sisa dinding kebekuan di dalam hatinya hingga menjadi debu tak bersisa.

Pria yang kemarin ia tampar di depan puluhan pasang mata, pria yang ia tuduh sebagai penipu licik yang memperjualbelikan penderitaannya... ternyata rela membuang kontrak klub bernilai miliaran rupiah dan menanggung seluruh cercaan publik sendirian hanya demi melindunginya.

Maya menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk mengusir gemuruh sesak di dadanya.

Ia mengambil sebuah kotak kecil salep pereda memar dari laci meja, lalu melangkah keluar dari kamar 304.

Langkah kaki Maya berhenti di depan pintu kayu bernomor 305 di seberang lorong.

Jantung Maya berdegup kencang tak beraturan. Tangannya yang dingin terangkat ke udara, ragu-ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk daun pintu perlahan.

Tok! Tok! Tok!

Hening sejenak.

Terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari dalam ruangan, disusul derit pelan saat gerendel kunci diputar.

Pintu terbuka.

Rayhan berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong hitam dan celana training abu-abu. Rambut hitamnya sedikit berantakan sehabis bangun tidur.

Namun, yang seketika menusuk ulu hati Maya adalah rona memar kebiruan yang masih tampak samar di tulang pipi kiri pemuda itu—bekas tamparannya kemarin pagi.

Keduanya saling bertatapan dalam keheningan lorong yang sunyi.

"May?" suara serak Rayhan memecah keheningan, keningnya berkerut heran menatap Maya yang berdiri mematung di depannya. "Ada apa pagi-pagi gini udah rapi?"

Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa tercekat, menahan gelombang rasa bersalah yang teramat berat hingga matanya terasa memanas.

"Rayhan..." bisik Maya dengan suara bergetar yang nyaris tidak terdengar. "Gue... gue ke sini mau minta maaf."

Maya menyodorkan kotak salep di tangannya ke hadapan Rayhan dengan jemari yang gemetar halus.

"Gue minta maaf atas tamparan kemarin di lobi," lanjut Maya seraya menggigit bibir bawahnya, air mata yang ia tahan menetes perlahan membasahi pipinya. "Gue terlalu dibutakan sama amarah dan prasangka buruk gue... Gue nuduh lo dengan hal-hal keji yang sama sekali nggak lo lakuin. Dan lo... lo bahkan harus keluar dari tim Cerberus gara-gara belain gue."

Maya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata pemuda di hadapannya dengan tatapan memohon yang teramat tulus:

"Gue bener-bener minta maaf, Rayhan..."

Rayhan mematung menatap gadis di hadapannya.

Melihat Ratu Es yang selama ini selalu memasang dagu terangkat kini berdiri meneteskan air mata penyesalan di depannya, senyuman lembut perlahan merekah di bibir pemuda itu.

Rayhan mengulurkan tangannya, mengambil kotak salep dari genggaman Maya, lalu terkekeh renyah seraya mengusap pipi kirinya pelan.

"Santai kali, May," ujar Rayhan santai dengan nada bicara yang begitu membumi dan hangat. "Tamparan Ratu Es ternyata lumayan ada critical damage-nya juga, tapi untung HP gue masih tebal."

Candaan ringan itu membuat Maya tersentak kaget di sela isak tangisnya.

Rayhan melangkah maju setengah langkah, menatap manik mata Maya yang basah dengan tatapan yang teramat teduh dan kokoh:

"Lo nggak perlu minta maaf, May. Gue tahu lo lagi panik dan hancur kemarin. Siapa pun yang ada di posisi lo pasti bakal bereaksi sama."

Rayhan menggelengkan kepalanya pelan saat Maya hendak menyela:

"Dan soal gue keluar dari Cerberus? Itu bukan murni gara-gara lo. Gue atlet profesional, May. Dari dulu gue paling muak sama manajemen yang memperlakukan pemain kayak sapi perah dan boneka konten. Pak Herman dan Damian udah kelewatan batas. Gue keluar karena gue mau jaga harga diri gue sendiri sebagai pemain."

Rayhan menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu seraya melipat tangannya di dada, lalu melanjutkan dengan senyuman khasnya yang menawan:

"Lagi pula... video di Instagram semalam itu semuanya jujur dari hati gue. Gue nggak nyesal sedikit pun udah ngomong kayak gitu di depan publik."

Wajah Maya seketika memerah padam hingga ke ujung telinganya saat teringat pengakuan terbuka Rayhan di video tersebut.

Rayhan mengulurkan tangan kanannya ke depan Maya, membuka telapak tangannya seraya tersenyum mantap:

"Mulai hari ini, nggak ada lagi dendam lama, nggak ada lagi rival yang saling benci. Di Senayan besok, kita partner timnas. Kita sapu bersih semua lawan dan bawa pulang emas buat Indonesia. Gimana?"

Maya menatap telapak tangan pemuda itu selama beberapa detik.

Segala beban berat, ketakutan, dan rasa bersalah yang menghimpit jiwanya selama berbulan-bulan seolah terangkat terbang ke udara.

Lihat selengkapnya