Pukul sembilan malam. Angin semilir ibu kota berhembus lembut di area taman atap lantai lima belas Hotel Atlet Century Park, Senayan.
Pendar lampu gedung-gedung pencakar langit Jakarta Selatan terbentang megah di bawah langit malam, memantulkan kilau keemasan di atas kolam renang kaca yang tenang.
Setelah jamuan makan malam santai bersama seluruh kontingen dan staf kepelatihan untuk merayakan keberhasilan lolos sebagai juara grup, sebagian besar atlet telah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Namun, Maya Daniswara memilih melangkah menuju sudut taman atap yang sepi, bersandar pada pagar kaca pembatas seraya menikmati sejuknya angin malam.
Suara langkah kaki pelan terdengar melintasi dek kayu di belakangnya.
Aroma segar kayu cedar yang kini begitu familiar dan menenangkan menyapa indra penciuman Maya sebelum sosok pemuda jangkung berkaus putih polos itu berdiri di sampingnya.
Rayhan.
Di tangannya, pemuda itu membawa dua cangkir kertas teh melati hangat, lalu menyodorkan salah satunya ke hadapan Maya seraya tersenyum tipis.
"Ngelamun aja, May," ujar Rayhan santai seraya menyandarkan sikunya ke pagar kaca. "Mikirin draft hero Malaysia besok atau mikirin hal lain?"
Maya menerima cangkir teh hangat tersebut, merasakan kehangatan yang merambat ke telapak tangannya yang dingin. "Dua-duanya."
Keduanya terdiam sejenak, menikmati keheningan malam yang damai di sela-sela denting halus air kolam renang.
Maya menatap uap teh melati yang melayang tipis di atas cangkirnya. Pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya sejak kemarin malam akhirnya mendesak untuk diutarakan.
"Rayhan," panggil Maya pelan, suaranya bergetar tipis.
"Ya?"
Maya menoleh menatap wajah tampan pemuda di sampingnya, mengumpulkan segenap keberanian di dalam hatinya:
"Semua yang lo omongin di video klarifikasi Instagram semalam... itu beneran?"
Rayhan melirik ke arah Maya, sorot matanya tampak begitu tenang di bawah temaram lampu taman. "Beneran lah. Gue nggak pernah punya alasan buat bohong soal hal sepenting itu di depan publik."
Pipi Maya seketika merona merah samar. Gadis itu menundukkan pandangannya, jemarinya yang lentik memilin ujung jaket kontingennya dengan canggung.
"Soal itu... mmm... part yang lo bilang..."
Rayhan menyambar dengan senyuman khasnya yang menawan, nadanya begitu berani dan tanpa ragu sedikit pun:
"Yang bilang kalau gue suka sama lo?"
Wajah Maya seketika memerah padam hingga ke lehernya. Detak jantungnya berdegup kencang tak beraturan di balik dadanya.
Rayhan terkekeh renyah melihat ekspresi salah tingkah gadis di depannya, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang teramat dalam:
"Itu juga seratus persen benar, Maya."
Napas Maya tertahan di tenggorokan.
Ia menatap Rayhan dengan mata terbelalak polos, benar-benar tidak habis pikir bagaimana seorang bintang nomor satu di kancah e-sports nasional bisa menaruh hati padanya.
"Kenapa... kenapa bisa suka sama gue, Rayhan?" tanya Maya dengan kepolosan yang begitu tulus. "Padahal dari awal kita ketemu di panggung liga, gue selalu judes, dingin, sinis, dan selalu pasang tampang mau ngajak ribut tiap kali lo ajak bicara."
Rayhan tersenyum lembut mendengar pertanyaan polos itu.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya menatap gemerlap lampu kota Jakarta yang terbentang luas, lalu menjawab dengan intonasi rendah yang menggetarkan sanubari Maya:
"Karena di industri yang penuh kepalsuan dan orang-orang yang gila validasi kamera ini... cuma lo satu-satunya orang yang selalu jujur apa adanya, May."
Rayhan menoleh kembali menatap manik mata Maya, melanjutkan dengan ketulusan yang teramat membumi:
"Waktu pertama kali gue lihat lo bertanding di panggung liga, gue kagum lihat betapa gigih dan teguhnya prinsip lo. Lo nggak pernah cari sensasi, nggak pernah tebar pesona demi dapat sponsor, dan lo bener-bener mendedikasikan seluruh hidup lo buat keluarga lo dan studio Mas Rian."
Rayhan tersenyum simpul seraya menghela napas panjang:
"Dan waktu kita ngobrol larut malam... baik di tangga darurat waktu lo nangis, atau waktu kita jalan berdua di dalam game... cuma saat ada di samping lo kepala gue yang bising sama tuntutan dunia luar bisa ngerasa tenang."