Soulmate Protocol

Kantin Cerita
Chapter #16

Penebusan Emas Nusantara dan Panggung Terakhir Pasangan Jiwa

Pukul dua siang. Suhu di dalam Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, seolah mendidih hingga ke titik puncaknya.

Lima belas ribu pasang mata memadati setiap sudut tribun bertingkat, menciptakan lautan merah-putih yang bergelora tanpa henti. Dentuman drum suporter berirama menggelegar menghantam dinding beton stadion, bersahut-sahutan dengan nyanyian lima belas ribu suara yang menyanyikan yel-yel kebangsaan hingga menggetarkan lantai panggung utama.

Di tribun kehormatan VVIP, tampak jajaran mantan atlet timnas senior dua tahun lalu duduk berdampingan dengan para petinggi PBESI. Wajah para senior tampak tegang, mata mereka memancarkan luka sejarah yang belum terobati sejak kekalahan telak di partai final dua tahun silam.

Di panggung utama berlantai kaca hitam, sepuluh atlet terbaik Asia Tenggara telah duduk di bilik tanding masing-masing mengelilingi meja melengkung.

Partai Grand Final Perebutan Medali Emas SEA Games dengan format Best of 7 (Bo7): Indonesia vs Vietnam (The Golden Dragons).

Di seberang meja panggung, lima pemain Vietnam berseragam merah-emas duduk dengan postur tegak sempurna layaknya barisan tentara elite. Sang kapten legendaris—Nguyen "Kaiser-VN" Thanh—menatap lurus ke arah bilik Indonesia dengan sorot mata sedingin puncak es Himalaya.

Di bilik Indonesia, Rayhan Pratama melirik ke arah Maya Daniswara di sampingnya.

Keduanya mengenakan sarung jempol serat karbon hitam di kedua ibu jari mereka. Ponsel pintar turnamen 165Hz telah tertancap kabel LAN siku gigabit berkecepatan tinggi, sementara kipas pendingin magnetik berdengung halus mendinginkan bodi perangkat.

Rayhan mengulurkan tangan kirinya, menepuk pelan punggung tangan Maya di atas meja tanding.

"Siap balasin luka para senior kita, May?" bisik Rayhan dengan senyum percaya diri yang membakar semangat.

Maya menoleh menatap pemuda di sampingnya, senyum tipis terukir di bibirnya seraya membalas remasan tangan itu: "Ayo kita ukir sejarah baru, Kapten."

Coach Bram melangkah di belakang mereka seraya mengepalkan tinjunya kuat-kuat: "Keluarkan seluruh jiwa kalian di panggung ini! Indonesia juara!"

[GAME PENENTUAN: MATCH 7 - SUDDEN DEATH (SKOR SEMENTARA 3-3)]

Pertempuran Grand Final berlangsung layaknya perang taktik paling berdarah dalam sejarah e-sports modern.

Setelah saling membalas kemenangan hingga memaksakan babak penentuan ketujuh, kedua tim berada di ujung tanduk. Stamina fisik, refleks jemari, dan kekuatan mental mereka telah terkuras hingga tetes terakhir setelah bertarung selama hampir empat jam penuh.

Di Game 7, Vietnam sengaja mengambil risiko melepaskan dua hero legendaris yang menjadi identitas sejati Maya dan Rayhan: Elowen, The Frost Empress untuk lini tengah Maya, dan Zarek, The Eclipse Reaper untuk hutan Rayhan.

Vietnam percaya diri bahwa formasi anti-es dan anti-bayangan yang mereka rancang sanggup mematikan kedua pilar Indonesia tersebut.

Namun, Vietnam tidak pernah memperhitungkan satu hal: ikatan batin bawah sadar yang telah terjalin dari ratusan jam bermain bersama di mode Soulmate Protocol.

Menit ke-22.

Ketegangan di Istora Senayan mencapai titik hening yang mencekam saat bencana menghantam skuad Indonesia di area sungai Lord purba.

Dalam perebutan objektif monster Lord raksasa, hero EXP-Laner milik Bagas dan Gold-Laner milik Ardi terperangkap dalam jebakan sangkar racun Vietnam dan tereliminasi seketika!

[BAGAS SATRIA ELIMINATED]

[ARDI FIRMANSYAH ELIMINATED]

Vietnam berhasil merebut Lord purba dan langsung merangsek maju berlima di jalur tengah bersama monster batu raksasa tersebut!

"Mundur ke markas! Tahan di turet kristal!" seru Kezia panik seraya menggerakkan hero Roamer-nya mundur, namun Kezia pun akhirnya tumbang di depan gerbang akibat serbuan lima hero musuh!

[KEZIA AURELIA ELIMINATED]

Layar raksasa Istora Senayan menampilkan situasi paling genting dalam sejarah olahraga nasional:

Tiga pemain Indonesia tumpas. Waktu hidup kembali masih tersisa tiga puluh detik.

Turet kristal utama markas Indonesia kini berdiri sekarat dengan sisa darah hanya lima belas persen di bawah gempuran Lord raksasa dan lima hero Vietnam yang siap meratakan markas!

Lima belas ribu penonton di tribun menahan napas, beberapa penonton menutup wajah mereka tak sanggup melihat kekalahan terulang.

Di bilik tanding, di depan gerbang markas yang sekarat, hanya tersisa dua sosok avatar yang berdiri berdampingan di atas lantai kristal: Elowen dan Zarek.

Di dunia nyata, napas Maya dan Rayhan berhembus seirama pada ritme detak jantung yang sama.

Jari-jemari kedua atlet itu menari dengan kecepatan mekanik brutal di atas layar sentuh kaca—mencapai rekor empat ratus enam puluh aksi per menit!

Tidak ada komando suara. Tidak ada teriakan instruksi.

Hanya kontak mata sepersekian detik dan memori ratusan malam berpegangan tangan di dalam game yang kini meledak ke tingkat harmoni absolut!

"Sekarang, Maya!" bisik Rayhan rendah.

Wushhh!

Lihat selengkapnya