Enam bulan kemudian.
Sore hari yang hangat di kawasan perkantoran kota Bandung. Di lantai dua sebuah ruko modern berdinding kaca, plakat perak bertuliskan Nusantara Pixel Studios berdiri gagah di samping pintu masuk.
Di dalam ruangan studio yang sejuk dan dipenuhi deretan monitor komputer canggih, belasan programmer muda tampak sibuk bekerja seraya tertawa ringan.
Di sudut ruangan dekat jendela, Rian Daniswara berdiri seraya memegang cangkir kopinya. Wajah sang kakak kini telah kembali bugar dan segar, tidak ada lagi selang oksigen atau wajah pucat rumah sakit yang menghantui keluarganya.
Game petualangan mitologi nusantara yang ia kembangkan selama bertahun-tahun akhirnya resmi dirilis di platform global, meraup jutaan unduhan hanya dalam kurun waktu satu bulan pasca-peluncuran.
Langkah kaki terdengar mendekat. Maya melangkah menghampiri kakaknya seraya menenteng tas ransel kecil dan mengenakan kardigan rajut putih kasual.
"Udah siap berangkat, May?" tanya Rian seraya tersenyum menggoda adik perempuannya.
Pipi Maya sedikit merona merah. "Udah, Mas. Taksi ke stasiun kereta udah nunggu di bawah."
Rian meletakkan cangkir kopinya, menatap Maya dengan binar mata yang penuh rasa bangga dan haru yang mendalam. Tangannya terangkat, mengacak pelan rambut adiknya:
"Hati-hati di jalan ya. Salam buat yang di Bantul. Dan bilang ke Rayhan... terima kasih banyak udah jagain kamu sebaik ini."
Maya tersenyum manis seraya memeluk kakaknya erat. "Pasti, Mas."
***
Pukul empat sore.
Sebuah desa asri di perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Udara pedesaan beraroma tanah basah dan semilir angin persawahan menyambut kedatangan Maya saat taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat putih dengan halaman berumput hijau yang luas.
Di teras rumah beratap genting tanah liat tersebut, seorang wanita paruh baya bersahaja dengan kebaya kutubaru sederhana sedang menyiram pot-pot bunga melati.
Begitu melihat sosok Maya melangkah turun, senyum hangat merekah di wajah sang ibu.
"Eee... Nduk Maya sudah sampai!" seru wanita itu dengan logat Jawa yang teramat halus dan ramah, bergegas menyambut Maya dan memeluknya dengan kehangatan seorang ibu kandung. "Ayo masuk, Nduk. Ibu sudah masakin gudeg manggar kesukaanmu sama Rayhan di dapur."
"Iya, Bu... Terima kasih banyak," sahut Maya seraya mencium punggung tangan ibunda Rayhan dengan takzim.
Di ruang tamu rumah pedesaan yang bersahaja itu, Maya duduk menikmati teh poci gula batu hangat.
Di atas lemari kayu jati kuno di samping televisi tabung, Maya terpaku menatap sebuah etalase kaca kecil: