Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #2

Bab 1 - Sepi dan Memori

Nadia ingin menghapus sepi dari muka bumi. Beberapa saat yang lalu rumah besar ini masih dipenuhi tawa riang. Sekarang yang tersisa hanya lengang. Nadia kembali dipeluk kesepian setelah teman-temannya memutuskan pulang karena hari sudah petang.

Gelas-gelas kemasan minuman yang mereka pesan dari sebuah toko melalui aplikasi layan antar, berserakan di meja dan lantai. Bungkus-bungkus camilan dan karton-karton bekas piza juga menambah kekacauan di ruang tengah yang semestinya dijadikan tempat mengerjakan tugas kelompok, tetapi ternyata bergosip lebih menyenangkan daripada menyusun makalah. 

Seragam sekolah masih melekat di tubuh kurus Nadia. Hari ini jadwalnya memakai seragam batik khas sekolah, berwarna merah bata, dan bercorak lambang Tut Wuri Handayani, dipadukan rok rempel putih. Perasaan Nadia sekarang sama seperti ruangan ini, berantakan dan sepi. Dengan malas, cewek berambut hitam sepunggung yang dikucir asal-asalan itu menyeret langkah menuju ke kamarnya di lantai dua, meninggalkan ruangan yang mirip kapal pecah. Mbak–asisten rumah tangga–pasti akan membereskan semua ini sebelum Mama pulang. 

Tangga yang terbuat dari kayu dengan pelistur cokelat mengkilap ini rasanya terlalu panjang, sampai-sampai Nadia terus menghela beberapa kali hingga tiba di lantai dua. Cewek itu berhenti sesaat, sebelum memasuki kamarnya yang berada di sisi kiri, berseberangan dengan kamar tak berpenghuni yang sengaja dibiarkan kosong. Kalau tidak ada Mbak yang rajin membersihkan setiap dua minggu sekali dan membuka jendelanya tiap pagi, kamar itu pasti sudah jadi sarang laba-laba dan penuh kecoa. Kadang malah Nadia berpikir di sana ada hantu tanpa kepala. 

Sepasang kaki Nadia yang masih memakai kaus kaki, akhirnya bertemu marmer putih gading dengan corak kelopak bunga, berbeda dengan lantai-lantai yang terpasang di luar ruangan ini. Dia menutup pintu rapat-rapat dan segera menghampiri ranjang dengan seprai bergambar ceri. Nadia tebak Mbak baru menggantinya siang tadi karena saat dia akan berangkat ke sekolah, kasur itu masih ditutupi seprai bergambar bunga matahari. 

Nadia menghempas tubuh di atas kasur, empuk dan nyaman langsung menyapa punggungnya. Dengan posisi telentang, dia menatap langit-langit kamar yang dicat putih. Sebuah lampu bundar 12 watt menggantung di tengah-tengah plafon, membuat kamar ini terlihat cukup luas meski terdapat lemari tiga pintu yang tingginya menyentuh plafon. Meja belajar berada di sisi kiri ranjang, dekat pintu, dan menghadap jendela. Sisi-sisi dindingnya bercat biru muda, cenderung pucat karena sudah pudar. Nadia menolak kamar ini dicat ulang sejak masih kelas tiga SD.

Kamar ini penuh kenangan dan Nadia tidak mau mengubahnya sedikit pun. 

Dari jendela di hadapan meja belajar, Nadia bisa melihat kolam ikan di bawah sana. Atapnya sengaja dibiarkan terbuka, hanya dipasangi teralis sebagai pencegah agar tidak ada yang nekat terjun ke bawah. Di seberang ruangan ini, terlihat jelas jendela kamar kosong. Nadia sering menghabiskan waktunya dengan menatap jendela bertirai putih itu dan berandai-andai seseorang menyerukan namanya dari sana seperti dulu. 

“Andai lo masih di sini, gue nggak akan kesepian kayak gini.” Nadia menghela napas sambil terus menerawang ke langit-langit kamar. 

Ingatan Nadia terlempar pada masa di mana usianya masih sekitar delapan tahun. Rambutnya waktu itu masih sebatas leher dengan poni rata yang hampir menutupi mata. Di antara kedua kamar ini terdapat koridor dengan dinding yang terbuat dari jendela kaca tebal. Nadia sering bermain di sini. Dia duduk sambil menggenggam biji-biji congklak. Di hadapannya, bocah laki-laki yang sesekali menarik ingus dari lubang hidung, ikut duduk bersila sambil menatap fokus, menunggu giliran bermain.

Seperti sebuah film yang dimajukan dengan kecepatan satu setengah kali, ingatan Nadia beralih ke masa di mana dia sedang menangis di pinggir kolam ikan. Bocah laki-laki berambut seperti jamur juga menangis. Mereka saling menuding dan bersuara bising. Tidak ada yang mau mengaku sebagai pemantik pertama keributan itu. Mbak kelabakan menengahi. Hal seperti itu terjadi setidaknya seminggu sekali. Kesabaran Mbak patut diacungi sepuluh jempol karena sampai saat ini perempuan yang mengasuh Nadia sejak bayi, masih tetap ada di sini. 

Memori itu melompat setahun setelahnya. Tangisan Nadia pecah saat melihat mobil putih yang biasa mengantarkannya ke sekolah, menjauh dari halaman rumah. Dia meraung-raung dengan suara parau. Tenggorokannya terasa sakit sekali. Mama bergeming. Rok bermotif bunga yang Mama pakai, berkelebat-kelebat karena Nadia berkali-kali mengguncangnya sambil menangis kencang. Mbak segera membopong Nadia kecil dan membujuknya agar berhenti menangis. Mbak mungkin khawatir pita suara Nadia akan segera putus atau tangisan dicampur jeritannya itu benar-benar mengganggu pendengaran. 

“Ikut! Mau ikut! Ikut!” Nadia menjerit di sela-sela tangisannya yang pilu. 

Lihat selengkapnya