Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #8

Bab 7 - Adaptasi Repot Sekali

“Ada yang aneh,” pikir Aidan sambil memeriksa kembali buku-buku pelajaran sesuai jadwal yang tertempel di dinding kamar Nadia, ke dalam tas selempang putih bergambar ceri. 

Aidan berpikir keras. Semua buku dan peralatan menulis yang diperlukan sudah tersimpan dalam tas. Namun, tetap ada yang mengganjal di hati. Dia meraih cermin persegi. Tidak ada keanehan dari wajah Nadia yang terpantul dalam cermin. Rambutnya juga sudah disisir rapi meskipun tidak diberi aksesori apa-apa. Aidan bingung memilihnya. Lagi pula, jiwanya kan tetap cowok.

“Ya ampun!” Aidan baru menyadari kalau dirinya lupa memakai bra.

Helaan napas kasar terembus dari hidung Aidan. Dia terpaksa melepas lagi baju seragamnya untuk memakai pakaian dalam khusus perempuan itu lebih dulu. Aidan menuju lemari dengan tergesa, mencari-cari di mana letak Nadia menyimpan branya. Hingga dia menemukan tumpukan kain yang dicari itu. Hampir semuanya bermotif ceri, hanya berbeda warna. 

Aidan mencomot satu dan dengan buru-buru memakainya.

“Astaga! Ini gimana sih pakainya?” Aidan menggerutu.

Kemarin sore Aidan sudah bisa memakai pakaian dalam itu berkat tutorial di YouTube, tetapi sekarang lupa lagi. Waktu Aidan terlalu sedikit untuk menonton video tutorial. 

“Non, udah bangun apa belum?” Suara Mbak terdengar dibarengi ketukan pintu. 

Aidan membeku. Dia malu kalau Mbak sampai masuk dan memergokinya sedang memakai bra dengan susah payah. 

“Non, hari ini libur lagi?” Suara Mbak kembali terdengar. 

Kemarin Aidan beralasan sekolah diliburkan. Hari ini dia tidak mungkin membolos lagi dengan alasan yang sama. 

“Nggak, Mbak. Ini udah bangun kok,” timpal Aidan, tentu yang keluar adalah suara Nadia. “Lagi pakai baju.”

“Oh, ya udah. Mbak mau ke pasar. Sarapannya udah Mbak siapkan di meja makan. Uang saku dari Mama, Mbak taruh di depan pintu, ya.”

“Iya, Mbak. Terima kasih,” balas Aidan yang masih kepayahan memasang pengait bra. 

Mbak tidak menyahut lagi, sepertinya sudah menjauh dari kamar Nadia dan kembali turun untuk pergi ke pasar. Aidan menghela lega setelah kaitan branya terpasang sempurna. Dia lalu memakai seragam dan merapikannya. 

“Ribet banget jadi cewek,” keluh Aidan. “Kok ada sih, cowok yang pengen jadi cewek?”

Baru sehari saja rasanya Aidan ingin menyerah. Dia tidak sanggup membayangkan akan menghabiskan sisa umurnya untuk hidup sebagai perempuan. Apalagi, Aidan pernah mendengar kalau proses persalinan sakitnya luar biasa, seperti tulang-tulang di seluruh tubuh diremukkan seketika. 

Aidan menggeleng keras mengusir semua pemikiran mengerikannya itu. Dia harus yakin bahwa keadaan ini hanya sementara. Mereka akan kembali ke tubuh masing-masing secepatnya. 

“Aku harus balik sebelum pertandingan antar sekolah berlangsung!” ucap Aidan bertekad, padahal dia belum tahu bagaimana caranya kembali. 

Aidan selesai merapikan baju seragam. Dia mencangklong tas selempangnya dan meninggalkan kamar. Langkahnya tegap menuju ruang makan. Begitu sampai di ruangan itu, Aidan mendapati tudung saji berwarna merah muda di tengah meja. Dia membukanya. Senyum tipis terbit di bibirnya saat menemukan sapo tahu dan ayam rica-rica. Itu adalah menu favorit Aidan dan Nadia. 

“Kangen juga sama masakan Mbak,” gumam Aidan sambil menarik kursi, lalu duduk di sana. 

Aidan menoleh ke pintu kamar Mama yang terlihat dari ruang makan. Tidak ada suara yang terdengar. Mungkin Mama masih tidur atau sudah pergi ke tempat gym seperti kemarin. Nadia bilang, Mama memang rutin ke sana dua kali dalam seminggu. Sayangnya, Aidan tidak sempat bertanya kapan saja jadwal Mama pergi. 

Suasana di rumah ini sama persis dengan rumah yang ditempati Aidan. Sepi. Seolah tidak ada penghuni. Padahal dia sempat berpikir Nadia dan Mama hidup harmonis dan penuh cinta. Nyatanya, tidak ada kehangatan sedikit pun. Bagaimana Nadia menjalani kehidupan selama sembilan tahun ini? 


***


Lihat selengkapnya