Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #12

Bab 11 - Tertangkap Basah

Nadia bengong mendengar ucapan Aidan. Dia tidak menemukan raut ketakutan, melainkan gugup yang didominasi kebingungan. Detik berikutnya, Nadia memindai penampilan Aidan dari kepala hingga ujung kaki. Tidak ada lecet sama sekali. Hanya wajahnya yang pucat pasi. 

“Apanya yang berdarah?” tanya Nadia, ikut panik setelah kembali sadar bahwa Aidan sedang menempati raganya.

“Itu… ” Aidan berucap lirih sekali dan terlihat canggung. 

“Itu apa? Kalau ngomong yang jelas, Ai. Jangan bikin orang bingung,” gerutu Nadia, kesabarannya mulai terkikis. 

Aidan serta-merta mendekatkan wajah ke telinga Nadia dan berbisik kepadanya, padahal hanya mereka berdua di ruangan ini. Tidak ada orang lain yang akan mendengarkan. Kecuali kalau istilah dinding memiliki telinga, benar-benar menjadi kenyataan. 

Nadia terbelalak setelah mendengar pengakuan Aidan melalui bisikan. Namun, berselang beberapa detik, tawanya pecah. Dia terbahak-bahak seakan penderitaan Aidan adalah hiburan paling menyenangkan dalam hidupnya. 

“Itu mens, Ai. Bukan pipis berdarah,” timpal Nadia mencibir Aidan yang mengira keluarnya darah itu adalah indikasi penyakit serius.

Aidan melongo. Pemikirannya terlalu jauh. Ada menstruasi yang lumrah dialami cewek secara rutin setiap bulan. Namun, dia malah mengira Nadia mengalami hematuria. Memang tidak berbahaya, tetapi bisa mengindikasikan infeksi saluran kemih dan beberapa penyakit lainnya. 

“Terus, aku harus gimana?” tanya Aidan sambil meringis karena merasakan nyeri di perutnya.

“Ya, jalanin aja,” celetuk Nadia, “mau gimana lagi?”

Aidan mengesah. Nadia beranjak mendekati lemari, membuka laci paling bawah, dan mengambil sesuatu dari sana. Aidan melongok, mengamati gerak-gerik Nadia yang sekarang kembali menghampirinya dengan membawa sesuatu berbungkus merah muda. 

“Nih, pakai.” Nadia mengulurkan sebungkus pembalut. 

Aidan membelalak lebar-lebar. Seumur hidupnya, dia tidak pernah berpikir akan memakai benda seperti itu. Dia cowok! 

“Kenapa diam?” tanya Nadia yang melihat Aidan mengabaikan uluran darinya, “lo mau itu berceceran ke mana-mana? Nggak risi?”

Aidan gamang. Dia seperti berada di dua tepi jurang. Ke kanan maupun ke kiri sama-sama mati. Di depannya jalan buntu dengan tembok menjulang tinggi. Di belakang, ada seekor singa buas yang menanti. Tidak ada pilihan yang menyenangkan hati. 

“Nih!” Nadia kembali mengacungkan pembalutnya. 

Aidan akhirnya pasrah menerima dengan raut wajah kebingungan. “Gimana cara pakainya?”

“Hadeh… ” Nadia menggeleng kecil, “itu kan ada petunjuknya. Tinggal baca aja, Ai.”

Aidan membaca tulisan-tulisan kecil di bagian belakang bungkus pembalut itu. Ada gambar juga yang memperjelas petunjuk. Namun, Aidan tetap tidak mengerti. Keningnya berkerut-kerut sampai kedua mata bulat Aidan nyaris juling. 

“Sini, gue ajarin!” Nadia merebut kembali bungkusan berisi pembalut itu. 

Dengan gerak serba gesit, Nadia mengeluarkan satu pack kecil yang terbungkus plastik tipis berwarna putih dengan merek tertulis di sana. Dia juga bergegas mengambil celana dalam yang masih bersih dan kembali duduk di hadapan Aidan. Tanpa ragu sedikit pun, Nadia mendemonstrasikan bagaimana cara memasang pembalut agar bisa digunakan dengan nyaman. 

Setelah menjadi sales kecantikan beberapa saat lalu, sekarang Nadia beralih menjadi sales pembalut profesional. Selagi tangannya melepas perekat dan memasang dengan posisi yang dianggap presisi, bibir Nadia terus mencuapkan penjelasan tanpa henti. 

“Udah paham, kan?” tanya Nadia di akhir sesi demonya. 

Lihat selengkapnya