Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #14

Bab 13 - Memantau Jerry

Mbak menyambut Nadia, yang dilihatnya dalam wujud Aidan, saat datang ke rumah. Dia sengaja mampir sepulang sekolah karena ingin membicarakan tentang sepak bola. Mama jam segini masih di luar. Entah bekerja ataupun bersosialisasi dengan teman dan koleganya.

“Aduh… Mas Ai kok nggak bilang dulu kalau mau datang? Mbak kan pengin masakin makanan kesukaan Mas Ai,” ucap Mbak dengan nada sedikit protes. 

“Lagi pengin mampir aja Mbak. Nggak sengaja,” timpal Nadia, “aku langsung ke atas, ya. Udah chat juga sama A–Nadia.”

Mbak mengangguk lesu, tapi menahan lengan Nadia. “Mas Ai masih lama kan pulangnya? Mbak buatkan pisang goreng keju, mau?”

Itu salah satu camilan kesukaan Aidan. Nadia mengangguk setuju meskipun dia sendiri tidak terlalu suka.

Mbak tersenyum lebar mendapat persetujuan. “Oke! Mas Ai tunggu di kamar Non Nadia aja. Nanti Mbak bawakan pisang gorengnya ke atas.”

Nadia mengangguk lagi. Mbak berbalik meninggalkannya dengan langkah ringan. Bahagianya Mbak sampai ke hati Nadia. Tulus sekali perempuan itu terhadap Aidan. Nadia jadi penasaran, apa Mama juga akan bahagia saat bertemu dengan Aidan? 

“Hei!” seru Aidan dari lantai dua yang pembatasnya setinggi pinggang dan terbuat dari kaca tebal. Nadia mendongak. “Ngapain bengong di situ? Sini naik!”

Nadia bergegas menaiki anak tangga. Kamarnya adalah tempat terbaik untuk membicarakan hal-hal rahasia. Nadia juga rindu aroma manis di kamarnya. 

Aidan sudah lebih dulu memasuki kamar. Dia duduk di kursi lipat. Nadia segera menutup pintu kamar dan langsung rebahan di ranjang sambil memeluk boneka berbentuk ceri kesayangannya.

“Kamu ke sini cuma mau rebahan? Katanya ada yang mau diomongin?” tanya Aidan sambil bersedekap. 

Nadia menghela napas panjang lalu bangkit dari posisinya. Dia menarik kedua kaki dan duduk bersila, menghadap Aidan. Hal pertama yang Nadia cermati adalah wajahnya. 

“Lo nggak pakai skincare, ya?” tukas Nadia saat mendapati beberapa jerawat kecil masih menghias bagian jidat. 

Aidan spontan menyentuh benjolan kecil di dekat pelipis kiri. Itu baru muncul tadi pagi. Kemarin malam dia lupa tidak memakai krim wajah sesuai instruksi Nadia. Aidan langsung tidur setelah belajar. Nadia juga tidak mengingatkannya. 

“Bandel banget dibilangin!” protes Nadia, melemparkan bantal tepat ke arah Aidan. 

“Sori. Aku lupa,” timpal Aidan enteng. Dia memang tidak ingat. 

Nadia berdecak kesal. Bekas jerawat tidak mudah dihilangkan. Krim pagi dan sunscreen juga tidak bisa menutupinya, sedangkan di sekolah dilarang memakai bedak. 

“Kita nggak bisa gini terus. Kita harus balik lagi. Gue capek menghindar dari klub sepak bola lo mulu,” gerutu Nadia. 

“Aku juga capek jadi cewek, Nad,” timpal Aidan.

Sejujurnya Aidan yang paling menderita. Dia harus merasakan nyeri haid, membiasakan menyisir rambutnya yang panjang, dan memaksakan diri menggunakan skincare secara rutin. Bagi Aidan, hidup jadi cewek jauh lebih berat. 

Lihat selengkapnya