Mendengar bel pulang sekolah rasanya seperti mendapat kebebasan. Meski hanya sesaat karena murid-murid diberi pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Satu per satu, mereka meninggalkan kelas setelah guru keluar lebih dulu.
Nadia dan Gamal yang baru saja beranjak dari kursi, terkejut oleh kehadiran tiga orang cowok. Nadia menciut, senyumnya kecut. Mereka adalah anggota klub sepak bola yang datang dengan wajah cemberut.
“Dan, mau sampai kapan lo bolos latihan? Kalau lo udah nggak minat gabung di tim kita, mundur aja secepatnya. Nggak usah bikin repot kayak gini,” ujar seorang cowok bertubuh agak gelap, tanpa basa-basi.
Gamal menoleh pada Nadia, mengantisipasi jawabannya. Sementara itu, Nadia galau bukan main. Dia tidak mungkin memutuskan mundur. Ini hidup Aidan. Bukan Nadia yang berhak menentukan. Namun, Nadia tidak bisa apa-apa. Dia tidak bisa bermain bola. Dia tidak suka berkeringat banyak.
“Mal, lo jago main bola? Lo aja gantiin dia, deh. Pertandingan udah makin dekat. Kita nggak bisa buang-buang waktu terus cuma karena nurutin egonya manusia nggak tahu diri ini,” lanjut cowok itu, melirik Nadia sinis.
Nadia sakit hati mendengarnya. Dia bukan tidak tahu diri. Tidak bermaksud egois. Justru Nadia takut semuanya akan berantakan kalau dia ikut ke lapangan.
“Gue udah pensiun,” tolak Gamal.
“Gue mau lanjut latihan, asal Gamal ikutan!” Entah apa yang ada di pikiran Nadia sampai mengucapkan kalimat itu.
Gamal mendelik tajam. Dia sudah berulang kali mengatakan pada Aidan tidak akan lagi terjun ke lapangan. Kalau sekadar menonton dan memberi dukungan, Gamal tidak masalah.
“Lo gila? Gue nggak main bola lagi,” elak Gamal.
“Demi gue, Mal. Please,” pinta Nadia, menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Ketiga cowok yang menyaksikan interaksi di hadapan mereka, mengernyit heran. Mereka tidak terbiasa melihat Aidan merengek seperti itu. Sama halnya mereka tidak terbiasa dengan Aidan yang berulang kali mangkir dari jadwal latihan berlakangan ini. Biasanya Aidan yang paling semangat, bahkan enggan meninggalkan lapangan.
“Geli banget, Dan!” hardik Gamal, lalu melengos pergi, tidak peduli pada Nadia yang hampir menangis.
“Mal! Please!” Nadia akan mengejar Gamal, tetapi diadang oleh ketiga cowok tadi.
“Lo mau kabur? Nggak bisa! Kalau sekarang lo kabur, kita anggap lo mundur.”
Nadia hanya bisa pasrah mengikuti ketiga cowok itu ke ruang ganti.
“Wah! Jagoan kita akhirnya nongol juga!” Seorang cowok berseru sambil menepuk tangan, mencibir kedatangan Nadia.
Suasanya jadi canggung. Nadia bingung. Bagaimana menanggapi cibiran itu? Haruskah dia mengamuk atau melawak?
“Udah! Nggak usah ribut. Sekarang kita latihan aja.”
Nadia beruntung cowok yang tadi menjemputnya, masih mau membela. Mereka satu per satu melepas baju seragam. Ada yang memakai kaus dalaman. Ada juga yang telanjang dada. Nadia sontak menutup wajah dengan kedua tangan.
Ya Tuhan! Aku butuh pintu ke mana saja! Nadia menjerit dalam hati.
Beberapa saat lamanya, Nadia tidak berani membuka mata. Malu. Dia merasa situasi ini terlalu vulgar.