Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #16

Bab 15 - Nadia dan Latihan Bola

“Kenapa kamu lesu begitu, Ai?” tanya Papa saat Nadia berjalan mendekati meja makan dengan langkah lunglai. 

Sarapan bersama Papa hampir setiap pagi adalah hal yang paling Nadia syukuri dari peristiwa pertukaran jiwanya dengan Aidan. Papa juga selalu memperhatikan segala hal tentang dirinya meskipun hanya perubahan kecil. Seperti saat ini. 

Latihan sepak bola kemarin membuat seluruh badan Nadia pegal-pegal. Tadi malam dia jadi tidak bisa tidur nyenyak. Nadia bangun dengan lesu, energinya seperti disedot habis oleh Dementor. Sayang sekali, tidak ada alat rias di kamar Aidan yang bisa digunakan untuk menutupi wajah pucatnya. 

“Nggak apa-apa, Pa,” elak Nadia. 

Papa mengulurkan tangan kanan, telapaknya menyentuh kening Nadia. Seketika perasaan hangat memenuhi hati Nadia. Sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikannya. Nadia ingin menangis sekarang. 

“Nggak demam, kok. Kamu capek main bola? Papa kan sudah bilang berhenti aja. Nggak guna,” ujar Papa, lagi-lagi menyuarakan ketidaksukaannya. 

Nadia juga tidak tahu mengapa Aidan dan banyak cowok di luar sana begitu menyukai bola. Padahal olahraga itu sungguh melelahkan. 

“Aman, Pa. Nggak ada masalah sama bola. Kalau kita suka sama sesuatu, nggak bakal capek ngerjainnya,” Nadia mencoba memahami sudut pandang Aidan, “sama kayak Papa yang nggak pernah capek kerja karena memang suka.”

Mungkin itu juga yang Mama rasakan. Mama mencintai pekerjaannya sampai lupa kalau ada Nadia yang juga ingin dicintai.

Helaan Papa terdengar. Pria berkacamata yang selalu rapi menggunakan kemeja setiap akan berangkat bekerja itu tidak menimpali ucapan Nadia. Papa justru menginstruksinya agar segera menyelesaikan sarapan.

 Nadia memandangi wajah Papa yang tidak semuda saat pergi meninggalkannya. Sampai detik ini, Nadia tidak tahu alasan Mama dan Papa berpisah, padahal hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Pertengkaran di rumah mereka hanya dilakukan oleh Nadia dan Aidan. 

Apa Papa dan Mama berpisah karena tidak tahan anaknya ribut setiap waktu? 

Nadia pusing memikirkannya. Dia melanjutkan sarapan dengan pikiran bercampur aduk, seperti nasi dan lauk pauk di piringnya. 

Setelah itu, Nadia diantar ke sekolah. Papa tidak pernah menanyakan alasan mengapa motornya jadi dibiarkan menganggur di garasi. Nadia sama sekali tidak menyentuh motor itu sejak tinggal di sini. Aneh juga kalau tiba-tiba minta diajari mengendarai motor karena yang orang rumah tahu, Aidan sudah lihai berkendara. 

“Dan!” Terdengar seruan dari arah parkiran motor khusus siswa. 

Tidak perlu menoleh, Nadia tahu betul siapa yang memanggil. Dia terus menyeret langkah tanpa menanggapi si pemanggil. Nadia ingin cepat-cepat sampai di kelas dan duduk sebentar, sebelum guru datang. Kalau memungkinkan, rasanya dia ingin rebahan saja di ruang UKS. 

“Woi, Aidan! Tungguin!” Seruan itu disusul langkah kaki yang berderap cepat mendekat. “Kuping lo congek-an?”

Nadia masih mengabaikan Gamal. Terserah saja dia mau meledek bagaimana. Nadia tidak memiliki tenaga untuk meladeninya. 

“Lo kenapa? Begadang? Belum sarapan? Berantem sama bokap?” Seperti biasa, Gamal akan memberondong dengan pertanyaan jika diabaikan. Suaranya nyaring seperti petasan banting. 

Nadia menghela napas pasrah saat Gamal mencekal lengannya, langkah mereka berhenti dan saling bertatapan. Gamal terlihat penasaran dengan sorot mata Nadia yang seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. 

“Dan!” Gamal melambaikan tangan kanan tepat di depan wajah Nadia, “lo kesurupan?”

Nadia menepis tangan Gamal, lalu mengembuskan napas. Lesu sekali. 

“Pegel banget badan gue, Mal. Rasanya kayak digebukin orang satu kampung.” Akhirnya Nadia mengeluh juga. 

“Pernah?” tanya Gamal meledek. 

Lihat selengkapnya