Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #17

Bab 16 - Ternyata Begini

Kalau saja tahu lebih awal bahwa tinggal bersama Papa rasanya sama seperti serumah dengan Mama, Nadia tidak akan repot-repot iri pada kehidupan Aidan. Dia pikir keakraban yang Papa dan Aidan perlihatkan di media sosial itu memang sungguhan. Ternyata hanya pencitraan. 

Meski demikian, Nadia tetap menganggap Aidan sedikit beruntung darinya. Paling tidak, Aidan memiliki foto bersama Papa. Selain itu, Papa juga tidak malu mengunggah foto mereka di akun media sosialnya. Kolega-kolega Papa pasti mengenal Aidan sebagai anaknya. Sedangkan Mama tidak pernah mengajak Nadia menemui teman-temannya.

“Apa Mama malu punya anak kayak aku? Kenapa dulu aku nggak disuruh ikut Papa aja, sih?” Nadia menggerutu sendirian di dalam kamar Aidan. 

Belum terlalu malam, tetapi rumah ini terasa seperti bangunan kosong yang bertahun-tahun ditinggalkan oleh penghuninya. Sepi. Di rumah Mama masih ada Mbak. Kalau Nadia jenuh, bisa melipir ke kamar Mbak meskipun terpaksa harus ikut menonton sinetron kesukaannya. Di sini, benar-benar hanya ada sunyi. 

Papa memang jarang lembur di kantor, tetapi setelah makan malam selalu masuk ke ruang kerjanya. Entah jam berapa Papa akan keluar dari ruangan itu. Budhe tidak menginap seperti Mbak. Seringnya Budhe pulang sebelum Papa sampai rumah. Nadia rasa lebih baik tinggal di rumah hantu daripada di sini. 

Dering ponsel Aidan membuyarkan kehampaan Nadia. Sebuah panggilan masuk dari si pemilik ponsel. Nadia segera menerimanya. Suara Nadia sendiri langsung terdengar dari seberang sambungan. 

“Tumben telepon. Kenapa?” tanya Nadia, mereka lebih sering berbagi kabar lewat chat. 

“Aku mau kasih tau strategi buat kalahin timnya Jerry. Kepanjangan kalau via chat,” timpal Aidan. 

“Ya, udah. Apa strateginya?” Nadia sempat bimbang karena tindakannya ini sama saja membantu mengalahkan tim sekolah sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Aidan kapten tim di Budi Dharma. 

“Jadi gini… ” Aidan mengawali dengan penjelasan tentang bagaimana teknik permainan tim Guna Bangsa. Dilanjutkan dengan penjelasan mengenai taktik apa yang akan Aidan lakukan untuk mengalahkan mereka. 

Nadia hanya diam, tidak berniat menginterupsi. Dia bahkan tidak tahu beberapa istilah yang Aidan ucapkan. Terdengar sangat asing bagi dirinya yang tidak menyukai pertandingan sepak bola. 

Aidan masih berbicara panjang lebar penuh semangat. Seperti mahasiswa yang sedang memimpin orasi di depan gedung perwakilan rakyat. Nadia berperan sebagai anggota dewan yang diam saja, bingung harus menanggapi seperti apa. Semua kalimat Aidan rasanya cuma mampir sebentar dari telinga kiri dan langsung keluar melalui telinga kanan. 

“Paham, kan, Nad?” tanya Aidan setelah penjelasan panjang kali lebarnya itu selesai. 

Nadia menghela berat, lalu berucap, “Nggak.”

“Bagian mana yang kamu nggak paham?”

“Semuanya,” balas Nadia enteng dan jujur, “kirim VN aja, deh. Nanti gue share ke yang lain.”

“Nggak bisa gitu dong, Nad. Suaraku kan cewek. Aku jelasin di chat aja.” Aidan akhirnya mengalah. 

“Sama aja bohong, sih, Ai. Nanti kalau gue ditanya ini itu, terus nggak ngerti, gimana?”

Aidan terdiam. Bukan hanya membagi strategi, Nadia tentu harus menjelaskannya. Mungkin teman-teman anggota tim paham, tetapi bisa saja mereka tidak langsung setuju. Ketika adu argumen dan Nadia tidak bisa berpendapat apa pun, itu juga akan menjadi kacau. 

“Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah buru-buru balik ke tubuh masing-masing, Ai,” ujar Nadia lirih.

“Kamu udah tau caranya?”

Nadia menggeleng, padahal Aidan tidak bisa melihatnya. “Belum. Aku nggak tau gimana.”

Lihat selengkapnya