Sour Seventeen

Lovaerina
Chapter #18

Bab 17 - Pesona Teman Sebangku

Mbak terperangah melihat sosok Nadia sedang berdiri di depan kompor. Tangan kirinya memegang gagang wajan, yang kanan menggenggam spatula, mengoseng-oseng masakan. Padahal biasanya cewek itu hanya bisa merecoki. Boro-boro memasak, membedakan merica dan ketumbar saja tidak bisa. Namun, kali ini Nadia kelihatan piawai sekali. 

“Non, masak apa? Mau dibantuin?” Mbak tidak ingin mematahkan semangat Nadia dengan mengusirnya dari dapur. 

Aidan menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada tumis kangkung dalam wajan. 

“Nggak usah, Mbak. Bentar lagi selesai, kok,” timpal Aidan. 

Mbak tetap mendekat dan berdiri di sebelah kanan Aidan. Perempuan berkucir satu yang memakai daster bercorak bunga matahari itu melipat kedua tangan, mencermati kelincahan gerak tangan Aidan. Kangkung yang telah layu bercampur ulekan bumbu dan menguarkan aroma menggugah selera itu pun tak luput dari perhatiannya. 

“Sejak kapan Non bisa masak?” Pertanyaan Mbak membuat Aidan meneguk ludah. 

Seharusnya Aidan bisa menebak kalau Nadia tidak bisa memasak. Apalagi saat kecil dulu Papa melarang mereka dekat-dekat kompor. Melihat Nadia dan Aidan masuk ke dapur saja, Papa sudah teriak mengingatkan agar menjauh dari ruangan itu. Katanya berbahaya. 

Aidan sendiri belajar memasak–seadanya–karena dia dan Papa sempat tidak memiliki asisten rumah tangga. Mau tidak mau, Papa mengajari Aidan memasak karena dia menolak makanan yang dibeli dari luar. Aidan sedikit pemilih dalam hal makanan. 

“Non, kok bisa nyalain kompor?” Mbak bertanya lagi. 

“Kan ada tutorialnya di YouTube, Mbak. Aku belajar masakan simpel aja. Jadi, kalau Mbak mudik, aku nggak kelaparan,” ungkap Aidan beralasan, berharap jawabannya tidak semakin membuat Mbak curiga. 

Mbak manggut-manggut. Tangannya mengelus punggung Aidan. Sesuatu yang jarang Aidan terima dengan tulus. Interaksinya dan Papa hanya manis di depan media. Kenyataannya mereka seperti dua negara yang sedang perang dingin.

“Non sudah besar.” Sorot mata Mbak memancarkan rasa bangga. “Mau belajar nyuci sama nyetrika sekalian?” Mbak mengakhiri pertanyaannya dengan senyuman lebar. 

“Kapan-kapan, deh, Mbak,” timpal Aidan, tahu kok kalau Mbak cuma bercanda. “Mama belum pulang, ya?”

Mbak menggeleng sambil menjauh dari kompor. Mbak membuka rice cooker di sudut lain dapur, mencabut colokannya, dan mengeluarkan panci berisi nasi yang tersisa sedikit. Mbak memindahkan nasi itu ke piring lebar, lalu mencuci pancinya agar bisa digunakan untuk memasak nasi lagi. 

Aidan mematikan kompor. Tumis kangkungnya sudah matang. Dia mengambil mangkuk untuk wadah tumisannya. 

“Makan bareng yuk, Mbak. Nasinya cukup buat berdua kan?” Aidan menaruh mangkuk berisi tumis kangkungnya di lantai dapur. 

Saat kecil dulu, Nadia dan Aidan sering ikut makan Mbak di dapur. Biasanya kalau Mama dan Papa tidak di rumah. Mereka lebih senang makan seperti itu. Tanpa meja dan kursi. Bisa berselonjor atau bersila sesuka hati. 

Aidan yang sudah duduk bersila, mendongak menatap Mbak. “Ayo sini duduk, Mbak. Kenapa diam?”

Mbak tergemap, lalu segera membawa nasi yang tadi dipindahkan ke piring, dan menyusul Aidan duduk di lantai. Mereka mulai menikmati makan malam bersama. Sederhana, tapi rasanya bahagia. 

Berjarak belasan kilometer dari rumah itu, Nadia sedang tengkurap di kamarnya. Sesekali terdengar suara mengaduh keras saat Budhe memijit bagian betisnya yang mengkilap dan licin oleh minyak urut. 

“Tumben banget Mas minta dipijit begini. Habis jatuh atau gimana?” tanya Budhe, sambil tangannya tak berhenti memijit. 

Nadia menggeleng. “Nggak jatuh, kok. Cuma latihan bola. Kan capek, Budhe.”

Budhe membulatkan bibirnya. “Oh.”

Budhe malam ini menginap di rumah Aidan karena suami dan anak-anaknya sedang pulang kampung. Budhe tidak ikut karena mabuk darat, sedangkan kalau naik pesawat sayang uangnya. Kampung Budhe juga jauh dari bandara. Lagi pula, Budhe belum tentu tidak mabuk udara.

Lihat selengkapnya